
Revan terkejut melihat Zalimar keluar malam dengan mengendarai motornya. Ia pun berbalik dan akan mengambil kunci mobil sewaannya. Ia terkejut melihat Savana berdiri dengan cemas melihat padanya.
"Ayo, adek antar Abang ke tempat kakak!" katanya pada Revan
"Tidak!" bantah Samir cepat.
Savana terkesiap melihat saudara kembarnya menatap tajam padanya. Ia mendekati Revan
dan memberikan jaket tebal pada Revan serta kunci motor miliknya.
"Abang lebih baik pergi sendiri. Kakak berada di pondok tebu Pak Husen. Lokasinya tak jauh dari warung mie di depan tengkolan itu. Kakak suka kesana jika sedang tidak ingin diganggu!" ucapnya lagi yang diangguki oleh Revan.
Pemuda itu segera mengambil kunci dan jaket milik Samir. Ketika ia akan segera pergi, tangannya di cekal oleh Savana. Revan berbalik.
"Adek ikut!" pintanya dengan memelas.
"Cukup Savana!"
Deg!
Savana terkejut mendengar seruan saudara kembarnya. "Jangan selalu ikut campur kamu! Sudah cukup satu hari ini kamu membuat masalah dengan kakak! Karena ulahmu, dia jadi salah paham pada suaminya! Masuk kamu!" titahnya tak terbantahkan yang membuat mata Savana berkaca-kaca.
Ummi Alzana bangkit dan mendekati putrinya itu. Abi Prince menatap datar pada putri bungsunya. Ummi Zee menghela napas berat. Ia tak harus berkata apa. Inilah yang terjadi pada putrinya jika ia tidak menyukai apa yang terjadi padanya.
__ADS_1
Zalimar lebih memilih pergi dan meninggalkan semua orang sampai hatinya membaik. Jika sudah membaik, maka ia kembali lagi seperti semula.
Ummi Zee menatap adik bungsunya. "Sudah berapa lama Zalimar seperti itu? Apakah selama ia tinggal di sini, ia pernah berbuat demikian?" tanya Ummi Zee yang diangguki oleh Abi Prince.
"Ada beberapa kali dalam setahun ini. Tapi, ini yang paling parah. Biasanya Zalimar tak pernah pergi ketika belum makan malam. Ia selalu makan malam dulu baru setelah itu ia pergi. Apa mungkin..?" jawab Abi Prince sembari menebak apa yang terjadi antara putrinya dan Revan tadi.
Opa Reza menghela napas berat. "Di rumah ujung masih kosong, Prince?" tanyanya yang diangguki oleh abi Prince.
"Masih. Rumah itu bekas Riya dulu bersama suaminya. Saat ini mereka 'kan sudah ke Singapura? Rumah itu kosong setelah mereka pergi. Besok, saya akan menyuruh seseorang untuk membersihkannya. Sebaiknya, Revan dan Zalimar harus tinggal di sana untuk sementara waktu. Tidak baik jika di sini," ujarnya menjawab ucapan Opa Reza yang diangguki oleh pria tua itu.
Sementara itu di sebuah pondok, seorang gadis berniqob sedang duduk melamun melihat sawah yang membentang panjang dan gelap di sekitarnya. Hanya ada cahaya lampu dari setiap rumah yang menjadi penerangan sawah yang gelap itu.
Seorang pemuda dengan debaran jantung menggila memasuki pondok kecil itu. Kakinya terpaku melihat wanita itu.
Pemuda itu diam.
"Lebih baik kamu kembali. Aku sedang tidak ingin diganggu," ucapnya lagi yang membuat pemuda itu semakin mendekati dirinya.
"Kamu tahu? Setiap kali hatiku sakit melihat orang yang aku sayangi direbut oleh lain, aku selalu datang kesini. Hanya tempat ini yang bisa mengobati luka hatiku. Pergilah, temani gadismu. Kamu boleh memutuskanku sekarang juga!"
Deg!
Deg!
__ADS_1
Jantung pemuda itu berdegup semakin kencang. Hatinya tercubit mendengar ucapan wanita itu baru saja. Tanpa berkata apapun ia segera duduk di belakang wanita itu dan memeluknya erat.
"Pulanglah, aku tak ingin diganggu Bang Revan!" ucapnya menekan, tetapi begitu lirih.
Revan tidak mendengarkan. Ia, bahkan semakin erat memeluk tubuh istrinya. Buliran bening mengalir di pipi wanita cantik itu. Ia terisak. Revan semakin erat memeluknya dari belakang dengan dagunya ia letakkan di bahu Zalimar.
Ya, Zalimarlah yang berada di sana. Tanpa mengatakan apapun, Zalimar tahu jika itu adalah Revan. Saking dekatnya keduanya, ia sangat tahu bau harum tubuh Revan walau tanpa parfum sekalipun.
"Kenapa?" bisik Zalimar
Revan semakin mengeratkan pelukannya. "Karena abang sayang kamu!" jawabnya berbisik juga.
Zalimar semakin tersedu. "Kamu tahu, Bang. Aku sakit hati! Aku terluka! Luka ini belumlah sembuh! Orang yang aku cintai malah diambil oleh adikku sendiri! Dan tadi? Aku kembali merasakan hal yang sama. Kamu dan adik sepupuku! Hiks, sakit! Kalian mengkhianatiku!"
Deg!
Revan menggeleng. "Nggak, kamu salah paham. Abang nggak gitu! Abang cuma sayang dan cinta sama kamu! Sedari dulu dan sekarang, bahkan hingga nanti hanya kamu, Dek! Nggak ada yang lain!"
"Nggak! Kalian penipu! Laki-laki sama saja!"
"Nggak, Sayang! Abang nggak gitu!" bantah Revan lagi
"Nggak! Sekali enggak tetap engak! Sekarang ialah belum. Tapi, kalau semakin sering bersama, tidak menutup kemungkinan bukan? Sama seperti kamu yang terbiasa dneganku, begitu juga dengan Savana! Aku membencimu bang Revan! Pergi!"
__ADS_1
Jeduaar!