Ikatan Takdir

Ikatan Takdir
Jack dan Zahara


__ADS_3

Setelah hari pembahasan di mana kedua orang tua itu harus menuruti permintaan Zalimar, hari ini semua itu abi Zidan urus. Dua minggu sudah berlalu sejak kejadian nahas itu. Hari-hari yang mereka lewati sudah kembali normal.


Zianti sudah kembali ke rumah suaminya. Abi Zidan melarangnya pergi ke bukit Saweru untuk melakukan sholat taubat penghapusan dosa di tepi air terjun yang ada pesantrennya itu.


Pesantren tersembunyi yang hanya Zalimar yang tahu lokasinya. Atas izin Zalimar, Zianti dan Damar harus ke sana demi memenuhi permintaan Zalimar waktu itu. Entah apa tujuan Zalimar waktu itu. Abi Zidan pun tak tahu. Yang jelas, besok Zianti dan Damar akan ke sana berdua saja tanpa ada yang menemani.


Zianti dan Damar sudah ada di rumah abi Zidan. Ada Zafran dan Zahara juga di sana. Mereka menatap datar pada semua orang yang kini menunggu abi Zidan belum kembali dari kelurahan.


Zianti menunggu harap-harap cemas sang abi yang juga belum kembali, padahal beliau mengabarkan satu jam lagi akan segera tiba. Namun, hingga waktu dhuhur terlewat, abi Zidan pun belum kembali.


Ia menjadi risau memikirkan kedua orang tuanya itu. Sementara yang di tunggu, sedang berbicara serius dengan seorang pemuda yang baru saja masuk Islam di sebuah mesjid tidka jauh dari komplek perumahan mereka.


Abi Zidan terus menatap lekat pemuda jangkung nan tampan kebulean dihadapannya saat ini. Entah kenapa, ia familiar dengan wajah pemuda tersebut.


"Sudah siap?" tanyanya yang diangguki oleh pemuda itu.


"Insyaallah saya siap!" sahutnya mantap.


Abi Zidan terkejut mendnegar itu. "Kamu fasih sekali bicara dengan bahasa kami? Bukankah kamu ini bule?"


Pemuda itu tertawa. Ummi Zee pun ikut terkekeh.


"Saya sudah empat tahun belajar bahasa Indonesia, tentu saya bisa, Bi! Abang saya yang mengajarkannya. Beliau orang muslim dan Indonesia sejati!" kelakarnya yang membuat semua orang tertawa mendengar ucapannya.


Abi Zidan terkekeh. "Baiklah, mari kita mulai! Kamu ikuti saya, ya? Ehem!"


Pemuda itu mengangguk sambil tersenyum. Senyum yang begitu tampan. Abi Zidan tertegun melihat senyum itu.


'Kenapa aku sangat familiar dengan wajah ini? Siapa pemuda ini? Apakah aku pernah bertemu sebelumnya?' batinnya terus bertanya-tanya.


Pemuda jangkung itu terkekeh. 'Sebentar lagi Abi akan terkejut mengetahui siapa aku! Abang! Terima kasih!' batinnya tersenyum senang.

__ADS_1


"Ehem, baiklah. Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim. Saya Zidan yang akan menuntun kamu untuk masuk ke dalam agama kami sebagai mualaf. Untuk itu, kamu harus bersyahadat terlebih dahulu. Ikuti saya, anak muda!" ucapmnya.


"Baik, Abi!" ia terkekeh melihat wajah abi Zidan menatap bingung padanya.


Ummi Zee pun ikut terkekeh. Ia begitu terhibur dengan pemuda tampan di hadapannya saat ini. Pemuda itu mengingatnya akan Zahara yang juga sering bersikap konyol pada mereka.


"Ikuti saya, asyhaduanla ila hailallah,"


"Wasyhaduanna muhammadurrasulullah!" lanjut pemuda itu yang membuat abi Zidan membeku seketika.


Begitu pun para saksi yang ikut menyaksikan seorang bule masuk Islam di sebuah mesjid di pinggir jalan raya itu. Tempat di mana abi Zidan sering memberikan tausiayah di setiap pengajian bapak-bapak dan ibu-ibu.


Pemuda itu tersenyum. "Siapa kamu?" tanya abi Zidan


"Saya makhluk Allah sama seperti Abi, Ummi, dan juga bapak-bapak yang ada di dalam rumah Allah ini," jawabnya tenang sekali.


"Dari mana kamu belajar kalimat tauhid itu?" tanyanya lagi.


Pemuda itu tersenyum. "Abang saya. Saya memang orang yahu di, ups! Bisa di bilang begitu. Sebab keluarga saya pun demikian. Akan tetapi, datangnya seorang pemuda ke dalam keluarga kami, membuat saya ingin mengikuti apa yang ia lakukan. Hati saya merasa tenang setiap kali ia melantunkan ayat-ayat Allah." jawabnya yang membuat ummi Zee takjub padanya.


Pemuda itu tersenyum lagi. "Kita tidak pernah bertemu, tetapi kedua orang tua saya pernah hadir di pesta pernikahan putri sulung Abi, kakak iparku, Zalimar!" ungkapnya jujur yang membuat seseorang di depan tangga mesjid itu terpaku mendengar suara alunan lembut itu.


Ia menatap lekat pada pemuda yang kini membelakanginya. Ia berdiri terpaku tanpa bergerak sedikit pun dari undakan tangga terakhir mesjid itu.


Abi Zidan dan ummi Zee tercengang mendnegarnya. "Kamu..?"


Pemuda itu tersenyum lagi. Senyum yang begitu memabukkan. "Saya Jack. Adik angkat bang Revan. Beliaulah yang menyuruh saya ke sini. Katanya, jika ingin masuk Islam harus langsung menemui Abi." ungkapnya lagi yang semakin membuat kedua paruh baya itu terperangah hebat.


Apalagi seorang gadis yang kini masih terpaku mendengar suara alunan lembut itu nyata dihadapan matanya.


"Nggak! Nggak mungkin itu dia?! Berarti, d-dia..?" gumam Zahara sedikit oleng ketika menyadari sesuatu.

__ADS_1


"Kamu.. Putranya, Tuan Kendrick? Ayah angkat Revan, keponakan sekaligus menantu saya?" tanya abi Zidan memastikan.


Pemuda itu mengangguk. "Ya, saya putra bungsu dari Dad kendrick dan mom Stefany, kedua orang tua angkat Bang Revan di Amerika!"


Bruukk!


"Astaghfirullah! Siapa itu yang jatuh pingsan?!" teriak salah satu bapak-bapak ingin bangkit dan berlari.


Namun, ia kalah cepat dengan Jack yang sudah lebih dulu mendekati Zahara yang jatuh di lantai dingin di dalam mesjid.


"Humairah?" ucapnya yang membuat abi Zidan dan ummi Zee lagi dan lagi terpaku di tempatnya berdiri.


"Astaghfirullah! Kamu kenapa?!" Teriaknya panik, tetapi tidak berani menyentuhnya. "Abi Ummi! Ini Humairah, eh, Zahara kenapa pingsan di sini?!" teriaknya yang membuat kedua orang tua itu terkejut lagi.


Ia panik, iangin menyentuh, tak bisa. Jack menangis. Abi zidan terpaku lagi melihat itu.


"Ummi, Abi, Zahara kenapa? Kenapa dia pingsan?" tanyanya panik.


Kedua orang tua Zahara itu masih terpaku menatap pada Jack yang begitu khawatir melihat keadaan putri bungsunya.


"Bibirnya pucat! Ada yang bawa minyak kayu putih?" tanya salah seorang wanita paruh baya pada mereka semuaa.


Ummi yang sadar dari rasa terkejutnya maju untuk melihat keadaan putrinya itu. "Biar saya periksa. Ini putri saya," ucapnya. "Kenapa pula adek ke sini? Bukannya sudah di bilang tunggu?!" jawab Ummi Zee seraya menggerutu sembari memeriksa keadaan putri bungsunya itu.


Jack tidak bergeser sedikit pun dari sana. Ia masih tetap menatap panik pada wanita yang sudah berhasil merebut hatinya walau hanya dari selembar foto yang Zalimar berikan padanya.


Jack bangkit ketika niqob Zahara di sibak oleh ummi Zee. Abi Zidan mendekati putrinya itu setelah menatap lekat pada Jack yang kini mengusap kasar wajahnya.


"Astaghfirullah! Astahgfirullah! Maafkan hamba, ya, Allah!" gumamnya yang terdengar oleh kedua orang itu.


Mereka saling pandang dan mengangguk bersama. Abi Zidan menggendong putrinya untuk di bawa masuk ke dalam mesjid itu dan dibaringkan di dekat ummi Zee yang terus berusaha menyadarkannya.

__ADS_1


Abi Zidan kembali mendekati Jack yang sama sekali tidak melihat pada Zahara lagi, tetapi terlihat jelas dari tatapan matanya itu masih gelisah.


'Ada apa ini? Adakah yang tidak aku ketahui?' Batin Abi Zidan tercenung lagi.


__ADS_2