Ikatan Takdir

Ikatan Takdir
Ummi Zee


__ADS_3

Ke esokan harinya.


Revan keluar dari kamarnya sehabis subuh. Ia ingin membuat makanan untuk istrinya. Ia menuruni tangga dengan perlahan dan berpapasan dengan Damar.


Revan tidak tersenyum sedikit pun padanya yang membuat pemuda itu menghela napas berat.


"Bang!" panggilnya pada Revan yang kini berhenti tanpa menghadap padanya.


"Apakah Abang masih marah padaku?" tanyanya pada Revan yang kini menoleh padanya karena Damar berdiri di samping kirinya.


Keduanya saat ini sedang berada di ujung tangga akan menuju ke dapur. Revan menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Aku tidak marah padamu. Hanya saja, aku tidak suka kau yang terlalu menunjukkan rasamu itu yang membuat istriku tidak ingin keluar dari kamarnya." Jawabnya dingin segera berlalu menuju ke dapur di mana ummi Zee berada yang kini menatap lekat keduanya.


Tatapan mata wanita belum paruh baya itu begitu datar pada kedua menantunya. Revan tidak memperdulikan wajah mertuanya. Ia sibuk membuat omelet telur pesanan Zalimar tadi.


Damar menatap memelas pada mertuanya. Beliau melengos. Damar tersenyum kecut. Ia pun mendekati Revan yang kini sibuk merajang bawang dan yang lainnya untuk membuat omelet telur.


Ketiga orang itu sibuk dengan urusan masing-masing tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Revan sibuk dengan wajannya membuat omelet telur sedangkan ummi Zee sibuk memasang nasi goreng untuk semua.


Hanya Damar yang tidak memehang wajan. Ia sednag membuat teh dan juga kopi untuk semua orang. Pagi ini ayah dan ibunya akan berkunjung untuk menjenguk Zalimar.


Di rumah itu juga ada kedua orangtua Revan. Papa Kenan dan mama Bella sudah tiba sehabis sholat subuh tadi. Keduanya sedang berbicara dengan abi Zidan mengenai persiapan pernikahan yang akan terjadi beberapa hari lagi.


Sementara di atas sana, Zianti berniat menemui kakaknya. Akan tetapi, kakinya terhenti ketika mendengar suara ramai gelak tawa di bawah sana yang membuatnya penasaran.


Kaki jenjangnya melangkah turun. Ia tersenyum melihat putranya sedang bermain dengan abi Zidan. Pria paruh baya itu sedang bermain dengan cucunya.


Ia mendekati mereka semua dan bergabung di sana. Zalimar yang berada di kamar merasa bosan menunggu Revan yang tak kunjung kembali.

__ADS_1


Dengan langkah tertatih ia mencoba turun ke bawah. Baru satu undakan tangga, ia sudah mendengar suara gelak tawa dari bawah sana. Zalimar berjalan menuruni tangga perlahan. Semakin ke bawah semakin ramai suara itu.


Zalimar tersenyum kecut melihat abinya begitu bahagia dengan putra sulung Zianti, saudara kembarnya. Ia tetap melangkah turun dan menuju ruang tengah. Ia duduk di sana dengan tangan kanannya memegang ponsel.


Ia sibuk berselancar di dunia maya mencari sesuatu untuk menghibur hatinya yang luka. Bohong jika Zalimar tidak sakit hati melihat kebersamaan abi dan juga saudara kembarnya.


Tanpa sadar, bibirnya terus menyunggingkan senyum di balik niqobnya. Damar tertegun melihat Zalimar ada di sana. Ia mendekati kakak iparnya itu. Tak urung kakinya itu melangkah untuk mendekatinya.


"Zal!" sapanya yang membuat Zalimar mendongak melihat padanya.


Tatapan keduanya bersiborok. Tak lama terputus begitu saja karena zalimar yang memutus kontak mata itu. Damar menghela napas berat.


"Zal, abang-,"


"Jangan berbicara berdua Kak. Tak baik untuk hubungamu dengan iparmu!"


Deg!


Deg!


"Jangan terlalu dekat dengan ipar! Ipar itu musuhmu, Zalimar! Jaga jarak! Tidak baik bicara berdua tanpa pendamping!" tegurnya lagi pada Zalimar, tetapi mata wanita tua itu menatap lekat pada Damar.


Damar menatap pada Revan yang kini mendekati Zalimar. Wanita berniqob itu tersenyum pada suaminya.


"Maaf, aku belum bisa masak untukmu. Kalau aku udah sembuh, aku akan memasak semua makanan kesukaan abang!" ucapnya antusias yang diangguki oleh Revan dan tersenyum padanya.


"Kita ke taman belakang?" tanyanya pada Zalimar yang diangguki olehnya.


Keduanya pun bangkit menuju ke taman belakang. Revan menuntun Zalimar dengan tangan kanannya memegang piring berisi omelet telur.

__ADS_1


Keduanya berjalan perlahan bertepatan dengan abi Zidan dan yang lainnya masuk ke ruang makan. Ia yang menggendong putra Zianti dalam gendongannya melirik bingung pada putri sulungnya itu.


"Loh? Kalian mau kemana? Abi sengaja ke dapur mau makan bersama kalian, loh? Masa' iya kalian pergi, sih? Uwakmu tak asik, ya, Nak? Iya?" ucapnya pada Zalimar dan juga putra Zianti yang kini tertawa menanggapi ucapan kakeknya itu.


Zalimar menghentikan langkahnya dan berpaling pada abi Zidan yang masih sibuk dengan cucu barunya. Zalimar tersenyum sinis.


"Lebih baik kami pergi daripada mengganggu abi dengan cucu abi. Toh, kehadiran kami di sini tidak mengubah apapun 'kan pada Abi?" ucapnya yang membuat pria paruh baya itu spontan saja menatap pada putrinya.


Beliau tersenyum. "Jangan marah, abi tetap menjadi abimu walau abi sudah memiliki cucu!" jawabnya yang membuat hati Zalimar tercubit.


"Ya, cucu yang seharusnya aku yang lahirkan malah saudaraku yang melahirkannya! Jelas saja abi senang, toh, ini 'kan yang abi mau dari dulu? Seorang cucu?"


Jeduar!


Ucapan Zalimar baru saja membuat abi Zidan menoleh segera padanya. Zalimar yang sakit hati segera berlalu meninggalkan mereka semua bersama Revan. Ummi Zee menatap datar suaminya.


"Lain kali, kalaupun abi sangat menyayangi cucu Abi itu, jangan tunjukkan dihadapan putriku! Abi 'kan tahu jika putriku itu masih terluka? Bukannya Abi berbicara padanya, Abi malah sibuk dengan cucu barumu!" ucap ummi Zee dengan ketus dan segera berlalu meninggalkan mereka semua yang beristighfar bersamaan.


Abi Zidan menatap punggung istrinya yang berlalu ke taman belakang di mana Zalimar berada. Beliau menghela napasnya. Abi Zidan tahu, selama Zalimar belum bahagia, maka ummi Zee pun tidak akan bahagia. Inilah janjinya.


Wanita yang sudah berpuluh tahun menemaninya itu jarang sekali marah, tetapi sekali ia marah, maka inilah yang terjadi. Tak ada kedamaian lagi di dalam rumahnya. Semua itu pun karena ulah putrinya yang lain.


'Ya, Allah.. Apa yang harus aku lakukan untuk bisa meluluhkan hati istriku?" gumamnya dalam hati.


Beliau memberikan putra Zianti pada Damar dan mengikuti istrinya. Ia ingin menjelaskan pada istrinya itu agar ia tidak salah paham. Zianti menatap nanar pada sang abi dan ummi yang bertengkar karena kehadirannya.


Ia menatap lekat pada suaminya yang kini menatap dan tersenyum padanya. Papa Kenan menghela napasnya.


"Inilah yang terjadi jika memiliki wanita lain di hidup kita! Gara-gara dia, bukan hanya satu hubungan yang rusak, tetapi banyak hubungan yang rusak. Yang lebih disayangkan lagi, ada hati yang tersakiti akibat kejadian ini. Semoga masalah ini cepat berlalu," imbuhnya segera menuju ke meja makan di ikuti oleh mama Bella yang tersenyum pada kedua keponakannya itu.

__ADS_1


__ADS_2