
Zalimar tersenyum pada kedua orang tuanya itu. Abi Zidan melambaikan tangannya pada Zalimar. Beliua meneteskan air mata ketika melihat wajah Zalimar membengkak dna kebiruan. Sudut bibir pecah, bagian pelipis di perban dan juga kedua sisi wajah yang begitu mulus itu membiru.
"Abi," tuturnya dengan suara lembut mendayu.
Abi Zidan mengangguk, "Pulang, Nak. Jangan pergi, abi butuh kamu. Pulang, ya?" pintanya pada Zalimar.
Zalimar tersenyum. "Kakak akan pulang, tetapi tidka sekarang. Kondisi kakak buruk, Bi. Kakak harap, Abi mengerti. Bang Revan pun tidak mengizinkan pulang sekarang. Abi harus sembuh. Abi harus kuat. Abi penopang di dalam keluarga kita. Kalau Abi tumbang, tak ada lagi penopang yang bisa menangani rumah kita. Abi harus kuat. Apapun yang terjadi, kakak tetaplah putri Abi. Sekalipun orang meminta Abi untuk memutuskan hubungan dengan kakak, itu tidak akan pernah terjadi!" jawab Zalimar memberikan penjelasan dan pemahaman pada abinya yang kini sedang terpuruk.
Masalah yang mereka hadapi bukan masalah biasa. Masalah keluarga ini begitu sulit. Perpecahan yang terjadi di dalam keluarga mereka begitu buruk.
Abi dan ummi sampai tumbang karena kenyataan yang Zianti paparkan. Sedangkan Zalimar, terpaksa meninggalkan mereka semua demi menghindari masalah.
Sebenarnya, Zalimar tidak ingin lari dari masalah. Semua itu bukanlah sifatnya. Ia ingin menyelesaikan masalah itu setelah ia sembuh. Akan tetapi, revan tidka mengizinkannya untuk pulang dan menginjakkan kakinya lagi di kediaman abi Zidan jikalau Zianti belum berubah.
Revan hanya takut, jika istrinya kembali dianiaya seperti itu. Cukup sekali ia melihat istrinya terluka hingga mengalami keretakan di tulang wajah. Revan tidka mengizinkan Zalimar kembali selagi Zianti belum pergi dari keluarga itu.
Revan begitu geram dengan adik iparnya itu. Jika bukan karena permintaan Zalimar, maka saat ini Zianti pasti sudha ia jebloskan ke dalam penjara. Zalimar berhasil meluluhkannya dengan ketulusan yang ia miliki.
__ADS_1
"Dengar, Bang. Sejahat dna seburuk apapuna dikku itu, ia tetaplah adikku. Ia saudaraku. Kami sekandung darah di dalam perut ummi. Aku tidka akan marah padanya, sebaba aku sadar. Selama ini aku terllau berbangga diri dengan pencapaianku hingga membuatnya terluka. Ia tidak salah, Bang. Ia hanya sedang salah jalan. Hati dan pikirannya di kuasai nafsu hingga setan mudah menghasutnya. Untuk itu, aku akan meluruskan smeua ini. Seperti apa permintaannya tadi, maka aku akan mengabulkannya. Aku akan menjelaskan perlahan pada kedua orang tuaku. Aku ingin mengerti posisiku, ya?" tuturnya pada Revan yang membuat suaminya itu menghela napas panjang.
"Baik, jika itu keputusanmu. Tapi, ingat? Jika Zinati mengulangi hal yang sama, kamu jangan pernah menghalangi abang untuk menghukumnya seberat mungkin!" balas Revan yang diangguki oleh Zalimar.
"Terima kasih, aku tahu Abang pasrti mengabulkan permintaanku. Love my husband!" zalimar mengedipakn matanya pada Revan.
Pemuda tampan itu berdecak sebal. Mom Stefany terkekeh. Ia jadi paham setelah Jack menterjemahkan apa yang zalimar katakan pada Revan baru saja.
Inilah yang saat ini Zalimar lakukan. Ada Revan duduk di bangkarnya menemani Zalimar. Ponselnya kini beralih di tangan Revan. Abi Zidan tersenyum melihat putri sulungnya bahagia bersama Revan.
"Kamu bahagia, Sayang?" tanyanya.
Zalimar tertawa melihat wajah Revan merengut masam. "Abi pikir, abang tidak bisa membahagiakannya begitu? Lupa , selama ini siapa yang telah membiayai hidup Zalimar ketika abi mengabaikannya?" Revan menyindir uwak sekaligus mertuanya itu.
Abi Zidan tersenyum sendu. "Abi tahu, abi salah. Maafkan abi, Nak. Abi salah karena sudah mengabaikan Zalimar selama ini. Bukan salahmu atauapun salah adikmu. Semua ini salah kami yang tidak mencari tahu apa yang kalian mau. Kamu sibuk dengan dunia kami hingga kami melupakan kalian anak kami," abi Zidan menghela napas sesak.
Zalimar tersenyum. "Tak apa, Bi. Kakak ikhlas. Kakak tidak pernah dendam pada kalain berdua. Kakak hanya kecewa. Kalian berdua lebih percaya dnegn ucapan tanpa mencari bukti. Kakak sengaja menjauh agar kalian bisa dekat dnegn Zianti. Kakak tahu, ia begitu terluak karena sikap kita. Untuk itu, kakak memilih jalan ini." ucap Zalimar yang membuat kedua orang itu menangis.
__ADS_1
"Jangan menangis, semua ini sudah takdir. Semua yang terjadi keputusan takdir. Ikatan takdir yang aku miliki bersama bang Revan memang seharusnya, sedari dulu terjadi. Kami berdua sudha teriakt. Jadi, sekuat apapun orang iangin memisahkan kami, tidak akan pernah bisa. Sekuat apapun abi memaksa ikatan itu untuk putus, semua itu tidak berguna."
"Apa yang sudah terikat tidak akan pernah bisa putus jika bukan takdir yang memutuskannya. Kalau pun kalian berusaha memutuskannya, kami masih bisa menyambungnya. Walau tidak akan semulus jalannya, kami akan tetap bersatu dan tersambung kembali. Ingatkan saja ikatan ummi dan abi?" ujar Zalimar yang diangguki oleh kedua paruh baya itu.
Zahara dan Zafran meneteskan air mata. Mereka membenarkan apa yang Zalimar katakan. Jika memang sudah jodoh, sekuat apapun mereka menentangnya, mereka pasti akan bersatu. Begitu pun sebaliknya. Jika bukan jodoh, amka akan terputus juag nantinya.
"Nak," panggil ummi Zee
Zalimar tersenyum."Dengarkan kakak, Ummi. Apapaun yang adikku minta, tolong kabulkan. Ia begitu terluka saat ini. Ia sendirian. Jangan menjauhinya. Rangkullah dia seperti biasanya. Jiak dia meminta kakak dna kedua adikku untuk menjauh, maka biarkan. Ubah kartu keluarga ynga hanya menyisakan dia seorang diri. Kami tak apa. Kami bisa. Ikatan klita tidka akan pernah terputus walau kartu itu berubah."
Ummi menggeleng. Ia tidak akan mau melakuakn itu. Hanya menuruti satu orang anak, maka tiga anak yang lainnya akan terlantar.
"Nggak, ummi nggak bisa, Nak. Mana mungkin ummi-,"
"Dengarkan kakak, ummi!" potong Zalimar cepat yang membuat ummi Zee sesegukan dan menggeleng. Pertanda ia menolak permintaan Zalimar selanjutnya.
Zalimar tersenyum. "Dengarkan permintaan kakak, ummi, abi! Semua ini untuk keutuhan keluarga kita. Tak apa kami tercoret dari kartu keluarga, toh, kami bertiga tetap anak kalian, bukan? Kakak melakuakn ini untuk Zianti. Jangan lagi sakiti hatinya Ummi. Cukup sudah ia terluka denga perbuatan kita. Kakak mohon, perlakukan dia seperti aklian memperlakukan kami bertiga. Sayangi dia, seperti kalian menyayangi kami. Berikan pemahaman padanya. Tidak semua orang dianugerahkan kepintaran seperti kami. Ada juga yang dianugerahi dengan bakat."
__ADS_1
"Aku pintar, tetapi aku tidak memiliki bakat sepertinya. Zianti memang bodoh dalam hal pelajaran, tetapi ia berbakat dalam mendesain pakaian dna perhiasan hingga perusahan suami dna mertuanya kini semakin maju. Kami kembar, tapi kami berbeda. Setiap anak yang terlahir ke dunia memiliki kelebihan dan kekurangan, Ummi. Adikku memang bodoh, tetapi ia memiliki bakat yang begitu bagus untuk masa depannya. Untuk itu, tolong penuhi permintaanku ini. Lakukan apapun yang ia inginkan selagi ia masih normal. Jiak aklain menolak, maka jangan menyesal jikalau suatu saat ia akan berubah dan meninggalkan kita semua," ucap Zalimar berusaha menjelaskan apa yang menjadi permintaan Zianti harus segera dikabulkan.