
"Mereka menikahiku karena ingin menikmati tubuhku. Setelah puas mereka akan membuangku! Apakah Abang juga akan melakukan hal yang sama jika suatu saat paras cantik ini cacat??" tanya Zee pada Zidan yang kini menatap lekat pada Zee.
Zee terpaksa bertanya seperti itu pada Zidan karena ia trauma dengan para lelaki dulunya yang ingin menikahinya karena paras ayu yang ia miliki.
Entah dari siapa mereka tahu paras Zee sangat cantik, hingga Zee saat itu hampir saja di lecehkan.
Terakhir, calon suami Zee menghina harga dirinya karena berpakain tertutup seperti itu. Zee jadi takut, jika Zidan pun demikian.
Makanya ia senagaja bertanya pada Zidan. Rambut sama hitam, hati siapa yang tahu kan?
Maka dari itu Zee ingin tahu apa jawaban Zidan terhadapnya. Zidan tersenyum hangat pada Zee, ia ingin menjawab tetapi kalah cepat dengan mama Rani dan Ummi Ira yang baru saja masuk dan berdiri mematung melihat kedua anaknya dengan posisi yang sangat intim.
Zidan menghela nfasnya. "Nanti Abang jawab. Bantu Abang untuk bertayammum. Kita sholat berjamaah. Ini sholat pertama kita kan ya?"
Zee tersenyum dan mengangguk. "Oke!" jawabnya yang membuat Zidan gemas.
Ingin sekali ia mengecup pipi dan putik ranum miliknya sebagai ganti yang Zee lakukan tadi. Tetapi itu tidak mungkin, karena kedua paruh baya itu sedang mematung meihat posisi mereka saat ini.
__ADS_1
"Ayo, aku bantu Abang!"
Zidan mengangguk. Keduanya sengaja menuju sofa diruangan VVIP itu. Zee mendudukkan Zidan dengan perlahan.
Setelahnya Zee keluar untuk mengambil sesuatu. Cukup dua menit saja ia sudah kembali lagi.
"Nah, ini bersih kok. Udah berapa kali sering aku cuci," ucapnya yang diangguki oleh Zidan saat melihat pasir dalam mangkuk putih yang kini ada di hadapannya.
Ia segera bertayammum. Zee meninggalkannya dan segera berwudhu. Kedua paruh baya itu masih saja berdiri di tempatnya.
Dari mulai keduanya berpelukan hingga keduanya saat ini mereka sedang sholat berdua berjamah. Ummi Ira dan mama Rani tersenyum saat melihat keduanya yang begitu cepat dekat.
Deg!
"Astaghfirullah ya Allah.. Lantas, Zee tidak apa-apa?" tanya Mama rani yang diangguki oleh Ummi Ira.
"Zee selamat lantaran dirinya di tolong cepat oleh saudara kembarnya. Jika tidak mngkin Zee sudah ternoda.."
__ADS_1
"Ya Allah.. Terus, apakah Zee tidak trauma dengan kejadian itu??" tanya mama Rani pada Ummi Ira yang tersenyum kecut mengingat kejadian dimana Zee sempat depresi selama dua tahun.
"Zee trauma. Trauma berat malah. Maka dari itu dirinya berubah total seperti sekarang ini. Ia menutup seluruh tubuhnya. Termasuk wajahnya. Ia tidak ingin hal seperti itu terulang lagi. Dan ya, setelah Zee menutup diri dengan baik, juga perilaku Zee yang dingin dengan wajah datar tanpa ekspresi itu bisa menyelamatkan dirinya. Tetapi ada saja hal yang membuat Zee terkadang kesal dan sering mengomel sendiri." Ummi Ira terkekeh.
Mama Rani pun demikian. "Sangat terlihat jelas keduanya sudah bisa menerima satu sama lainnya. Zidan pun demikian. Ia pun pernah di lecehkan oleh temannya sendiri saat ia kelas satu SMP. Jika bukan Rayyan, adik kamu yang menyelamatkannya maka Zidan sudah habis saat itu. Ck. Ada ya kakak kelas ingin melakukan hubungan terlarang dengan adik kelas dengan cara adik kelas itu di bius?! Kesal Mbak, Ra mengingat kejadian itu!" ketus Mama Rani begitu kesal mengingat kejadian lampau itu.
Ummi Ira menatap tak percaya pada mama rani dengan uacapannya baru saja. Mulutnya menganga, "berarti Zee dan Zidan sama dong? Sama-sama pernah di lecehkan di saat kelas satu SMP??"
Deg!
Deg!
Zee yang sudah selesai mematung di tempat mendengar ucapan Ummi Ira. Begitupun dengan Zidan.
Ia yang lebih terkejut, ternayta sang istri pun sama dengannya. Zidan segera menoleh pada Zee yang kini matanya berkaca-kaca.
Zdan menarik lembut tangannya. Ia merengkuh Zee dan membawanya ke dalam pelukan hangatnya. Keduanya menagis bersama.
__ADS_1
Rasa yang sama, duak yang sama. Ternayta keduanya memiliki nasib yang sama. Keduanya saling menguatkan satu lain dengan cara saling berpelukan dengan erat.
Ummi Ira dan mama rani terkejut melihat keduanya menagis bersama saling berpelukan. Kedua paruh baya itu menjadi merasa bersalah karena cerita mereka berdua mengingatkan keduanya pada kejadian buruk masa silam dulunya.