Ikatan Takdir

Ikatan Takdir
Suamiku? Sejak kapan?


__ADS_3

Beberapa jam sebelum subuh.


Pintu rumah berbunyi bel hingga terdengar ke dalam kamar pasangan belum paruh baya yang baru saja terlelap setelah sholat tahajud. Keduanya terpaksa bangun kembali dan ingin tahu siapa yang mendatangi rumah keduanya di tengah malam begini kalau bukan tamu penting.


Ummi Alzana mengomel diikuti oleh Abi Prince yang terkekeh. Keduanya membuka pintu dn aterkejut melihat siapa yang datang.


"Loh?" tunjuk ummi Alzana pada kakak sepupunya bersama suami dan juga seorang pemuda jangkung nan tampan di belakang keduanya.


"Assalamu'alaikum, Dek!" sapanya sambil melangkah masuk dan segera memeluk abi Prince yang tertawa melihat keterkejutan istrinya terhadap kakak sulungnya itu.


Ummi Alzana melongo melihat kakak sepupu sekaligus kakak iparnya itu. Ia mengikuti langkah kakak beradik segera duduk di sofa ruang tamu rumah mereka.


"Waalaikum salam, Kakak. Kenapa tengah malam begini? Katanya besok pagi baru sampai?" ucap abi Prince yang di balas dengan cebikan bibir oleh wanita tua itu.


Abi Zidan terkekeh melihat cebikan bibir istrinya yang pastinya ia tahu itu. Ummi Zee pun segera melepas niqobnya dan menatap malas pada adiknya.


"Jadi menurutmu, kakakmu ini tidak boleh bertamu sesuka hati, begitu? Harus menunggu pagi dulu?!" ucapnya ketus membalas ucapan adik bungsunya itu.


Abi Prince tertawa. "Nggak gitu juga kali, Kak! Kakak bilang, besok baru datang. Tapi, sekarang?" balasnya lagi sembari menatap seorang pemuda tampan yang kini terkekeh melihat kelakuan kakak adik itu.


"Kenapa kamu menatap menantuku begitu? Terpesona, iya? Jangan mencoba-coba kamu jodohkan dengan putri bungsumu! Revan itu menantuku! Suaminya Zalimar!"

__ADS_1


"Hah?" Ummi Alzana terperangah.


Abi Zidan terkekeh lagi. "Benar adik ipar. Revan ini putra Dimas, adikku. Dialah yang dulu pernah ingin menikahi Zalimar. Tetapi keponakan kalian itu menolaknya karena Damar." Ujar Abi Zidan menjelaskan tentang pemuda yang bernama Revan itu.


Revan mendekati keduanya dan menyalami takzim kedua pasangan suami istri yang belum paruh baya itu.


"Hem, jadi Revan sudah menikahi Zalimar? Sejak kapan?" tanya Abi Prince yang membuat mereka bertiga terkekeh bersama terkenang akan kejadian tadi pagi yang membuat keduanya mendadak megizinkan Revan untuk menikahi Zalimar setelah tahu di mana Zalimar berada yang terpaksa Zafran katakan keberadaannya.


Di dalam kamar Zalimar.


Bukannya pemuda itu panik, ia malah tertawa melihat istrinya jatuh pingsan setelah melihat dirinya. Pemuda itu membawa istrinya ke ranjang dan merebahkannya.


Ia tersenyum manis. "Cantik! Kamu selalu cantik, Sayang! Abang begitu merindukanmu!" katanya sembari berbaring di samping Zalimar dan memeluk erat tubuh istrinya.


"Eugh," lenguh Zalimar merasa berat di tubuhnya.


Zalimar menoleh pada benda yang menimpa tubuhnya.


Deg!


Deg!

__ADS_1


"Aaaa," teriaknya membahana yang membuat Revan melompat seketika dari ranjang dan berjalan linglung ke tepi jendela.


"Kenapa? Ada apa? Ada maling? Di mana? Di mana malingnya, Sayang?!" tanya panik sendiri.


Zalimar melongo melihat pemuda itu. Ia tertawa melihat gerakan panik Revan yang melihat ke segala ruangan dengan tungkai kaki melemas. Pemuda itu jatuh ambruk ke lantai dengan kaki tak berdaya.


"Haiss.. Selalu saja!" celetuknya kesal.


Zalimar semakin tertawa. Ia mendekati pemuda tampan yang begitu kusut dengan kemeja biru mudanya itu.


Ia duduk tepekur dihadapan pemuda itu. ia berhenti tertawa dan menatap lekat pemuda tampan yang terlihat acak-acakan itu, tapi masih saja tamvan!


Eh?


Zalimar menelan ludahnya getir. Ia menggelengkan kepalanya memikirkan otaknya kini entah kemana. Ia kembali menatap pemuda itu dengan lekat.


Sadar ditatap oleh istrinya, pemuda itu menoleh dan menatap balik padanya.


"Kenapa abang kesini? Kenapa Abang masuk ke kamarku? Ingat, kita belum menikah!" katanya pada Revan yang kini tersenyum dengan mata yang begitu mengantuk.


"Siapa bilang kamu bukan istriku? Hem? Kamu istriku, Sayang. Abang sudah menikahimu dari abi kemarin pagi saat abang tiba dari Inggris untuk menemuimu. Kamu tahu, abang langsung ke Medan untuk menemuimu. Mami dan Papi marah-marah pada abang karena kesini lebih dulu. Bukan ke rumah mereka!" Revan tertawa.

__ADS_1


Zalimar masih menatap lekat padanya. "Sejak kapan? Sejak kapan abang menjadi suamiku? Dan kenapa abang bisa kesini lebih dulu? Kenapa harus aku?"


__ADS_2