
"Benar! Waktu itu aku selalu mengejar Abang. Menurut Ummi, sedari kecil kita memang sudah terikat satu sama lainnya. Mungkin memang seperti inilah jalan takdir kita berdua dipersatukan. Iya kan Bang?"
Zidan mengangguk. Ia kembali memeluk erat tubuh Zee yang kini begitu nyaman berada di pelukannya.
"Hem.. Nyaman nya.. Temani Abang tidur yuk. Abang masih pusing. Kamu udah siap nyucinya?" tanya Zidan sambil mengurai pelukannya dari tubuh Zee yang padat berisi.
"Sebentar lagi siap kok. Lah wong aku nyucinya pakai mesin? Noh!" tunjuk Zee pada Zidan yang kini terkekeh dan gemas sendiri melihat tingkah imut Zee.
Ia mencubit sedikit hidung bangirnya dan mengajak Zee masuk lagi ke kamarnya. "Ayo. Abang masih butuh banyak istirahat. Tiga hari lagi kan acara pernikahan kita untuk yang kedua kalinya??"
Zee mengangguk dan tersenyum lembut pada Zidan. "Benar. Semoga peneror itu tidak lagi mengganggu kita ya Bang?"
Zidan menghela nafasnya. "Abang udah hubungi Kenan di Jakarta. Katanya ia sudah tahu siapa dalang dari teror itu. Dan ia bilang, ia yang akan menyelesaikannya. Tapi.."
Zee menatap Zidan. "Tapi apa?"
Zidan lagi dan lagi menghela nafasnya. "Tapi.. Rumah tangga nya terancam kandas gara-gara ingin menyelamatkan kit berdua.." lirih Zidan yang membuat Zee terdiam tanpa kata.
Hanya tedengar hembusan nafas keduanya yang kini saling berhadapan saat di ranjang. Hembusan nafas keduanya begitu jelas terasa.
Zidan menatap lekat wajah Zee. "Boleh Abang melihatmu tanpa hijab, sayang?"
__ADS_1
Deg!
Zee terkejut.
Zidan yang melihat reaksi terkejut Zee segera berbicara lagi. "Ma-maaf sayang. Jangan dengarkan ucapan Abang. Ayo kita tidur!" katanya pada Zee
Dengan segera Zidan memejamkan kedua matanya tidak ingin Zee malu padanya. Ia yang memang sudah sangat mengantuk cepat sekali terlelapnya.
Zee menatap lekat wajah tampan yang kini berada di atas kepalanya. Zee tersenyum saat memikirkan jika Zidan lelaki mulia yang pernah ia temui.
Bagaimana tidak. Jika lelaki lain pastikah dirinya langsung di paksa untuk membuka hijabnya. Sedang Zidan??
Tanpa meminta izin pun Zidan bisa membuka hijabnya. Mata bulat bening mirip Abi Ragata itu berkaca-kaca.
Ia memandang setipa jengkla dari paras tamoan yang kini semakin menggetarkan hatinya. Ia usap pipi itu yang sedikit ditumbuhi bulu-bulu halus disana karena sudah tiga hari Zidan tidak membersihkan nya.
Zee mendekatkan wajahnya pada Wajah Zidan yang sedang terlelap.
Cup.
Cup.
__ADS_1
Cup.
Zee mengecup semua wajah itu dengan sayang. Air matanya menetes hingga menjatuhi pipi Zidan.
Karena Zidan yang sudah terkelap dna tidak sadarkan lagi karena efek obat, Zee bisa sepuasnya menatap lekat-lekat wajah lelkai yang selama tiga hari ini selalu membuatnya bahagia tiap kali melihatnya.
Aku beruntung memiliki imam sepertimu, suamiku.. Bahkan sangat beruntung. Saking beruntungnya aku, aku sampai tidak ingin kamu dimiliki oleh siapa pun!
Aku akan marah dan cemburu jika ada wanita lain yang mendekatimu dengan sengaja untuk mencari simpati mu.
Aku akan melarang mereka untuk berdekatan dengan mu. Karena aku tidak menyukai itu!
Kamu lelaki mulia yang baru kali ini aku temui setelah Abi, Opa, dan juga Om ku yang lainnya. Kamu sangat mirip dengan mereka semua.
Kamu begitu memuliakan ku sebagai seorang istri. Padahal jika di pikir, aku ini milikmu. Kapanpun kamu bisa melihatnya tanpa meminta izin terlebih dahulu dariku.Tetapi karena mulianya dirimu, kamu rela mengalah dan tidur karena tidak ingin membuatku malu dan kesal kepadamu.
Sungguh, aku sangat beruntung mendapatkan imam seperti mu.
Bahkan sangat beruntung..
Batin Zee semakin memeluk erat tubuh Zidan yang juga membalas pelukannya.
__ADS_1