Ikatan Takdir

Ikatan Takdir
Ijab Qobul ulang


__ADS_3

Seminggu kemudian.


Hari ini merupakan hari resepsi pernikahan Revan dan Zalimar. Keduanya sudah bersiap sehabis sholat subuh. Zalimar sudah menggenakan kebaya syar'i lengkap dengan niqobnya berwana putih tulang.


Demikian juga dengan Revan. Pemuda tampan dengan tinggi 178 itu pun begitu gagah dibalut jas berwarna putih tulang lengkap dengan songket khas dari Aceh berwarna putih tulang juga.


Prosesi adat akan dilakukan dengan dua adat. Adat pertama menggunakan adat Jawa, adat kedua menggunakan adat Aceh. Perpaduan dua adat itu begitu menakjubkan terlihat.


Dekorasi ruangan pun demikian. Semuanya sudah siap sedari kemarin. Pukul delapan pagi, akad ulang kembali di gelar. Kenapa pagi? Sebab hari yang mereka pilihkan adalah hari Jum'at. Sama seperti hari ketika Revan menikahi Zalimar.


Acara sakral itu pun di mulai. Pertama-tama, moderator meminta pak penghulu untuk berbicara sepatah dua kata untuk pengantin dan juga keluarga pengantin.


Selanjutnya dilanjut dengan ceramah singkat yang disampaikan oleh Abi Zidan selaku wali dari Zalimar. Beliau sempat menangis ketika mengatakan sesuatu yang membuat semua orang pun ikut menangis. Terutama Zianti.


Berbeda dengan Zalimar. Ia sudah kuat sedari tadi malam. Abi Zidan sempat mendatanginya untuk meminta maaf yang kesekian kalinya yang hanya ditanggapi sekedar olehnya. Zalimar memaafkan semua kesalahan mereka. Akan tetapi, luka yang mereka torehkan begitu membekas di hatinya.


Mudah memaafkan, tetapi sulit untuk melupakan. Kenangan itu akan terus berputar seperti kaset rusak. Selagi masa hidupnya belum habis, maka kenangan buruk itu akan terus menghantuinya.


Begitulah wanita. Wanita itu merupakan sejarah. Sejarah yang tidak akan terlupakan dan akan terus teringat sampai kapan pun, bahkan sampai ia mati.


Kembali pada pernikahan Zalimar dan Revan.

__ADS_1


Acara ijab qobul ulang di mulai. Sebenarnya, tanpa ijab ulang pun tidak apa-apa. Akan tetapi, demi menunjukkan kepada semua orang jika keduanya sudah menikah baik agama ataupun hukum, maka Revan sengaja melakukan hal ini untuk istrinya.


"Baiklah, kita mulai!" kata pak penghulu yang diangguki oleh keduanya.


"Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, Asyhaduanlailahailallah, wasyhaduannamuahmmadurrasulullah, Revan Putra Alamsyah!"


"Saya, Bi!" sahutnya


"Saya Nikahkan dan saya Kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Zalimar Rahayu Putri Zidan binti Zidan Putra Ar Reza dengan mas kawin seperangkat alat sholat, sebuah mushaf al-qu'ran dan juga saham sebanyak 25% di Anggara Group Singapure di bayar tunai!"


Deg!


Deg!


Betapa shock semua orang jika pemilik asli Anggar Group adalah Revan Putra Alamsyah. Opa Reza mengusap bulir bening yang mengalir di pipinya. Demikian juga dengan papa Kenan. Ia bangga kepada putranya itu. Karena usaha darinya, perusahaan mereka yang dulu hampir gulung tikar kini sudah berjaya kembali.


Di bawah kekuasaan Revan, perusahaan kecil itu merambat menjadi perusahaan raksasa. Revanlah pemilik aslinya. Pemilik sah yang telah Opa Reza serahkan padanya. Perusahaan turun temurun dari keluarganya yang berhasil Revan selamatkan.


Semua orang terkejut mendengar perusahaan raksasa itu. Mereka tidak menyangka, jika pemilik aslinya, akhirnya muncul juga.


Kilatan cahaya dari fotografer mengabadikan hari sakral itu.

__ADS_1


"Saya terima Nikah dan kawinnya Zalimar Rahay putri Zidan binti Zidan Putra Ar Reza dnegan mas kawin sepernagkat alat sholat, satu buah mushaf Al Qur'an dan juga saham sebanyak 25% di Anggara Gruoup Singapure di bayar tunai!"


"Bagaimana saksi? Sah?"


"Sah!" jawab kedua saksi kompak dan mengangguk bersamaan.


"Alahamdulillahirabbil'alamin. Barakkallhu 'alaikuma wabaroka 'alaikuma fikhair," pak penghulu mendoakan pernikahan itu hingga selesai.


Setelah semua selesai, Zalimar dibawa keluar dan berdiri dihadapan Revan yang kini tersenyum padanya. Mata Zalimar berkaca-kaca melihat suaminya itu.


Revan segera memegangi ubun-ubunnya dan menadahkan satu tangan ke atas untuk berdoa kebaikan istri dan juga keburukan yang menyertai istrinya.


Setelah selesai, Revan mengulurkan tangannya pada Zalimar yang masih saja menatapnya dengan lekat. Setetes buliran bening itu mengalir di tangan Revan ketika Zalimar mengecup tangan yang sudah menyelamatkan hidupnya hingga saat ini.


Cukup lama Zalimar mengecup tangan itu. Revan tersenyum sambil mengelus kepala istrinya.


"Cukup, Sayang." Ucapnya yang membuat Zalimar mendongak padanya dengan mata memerah dan sesekali terdengar suara isakan.


Revan tersenyum lagi padanya. Zalimar semakin tidak kuasa. Spontan saja wanita cantik tertutup niqob itu menubruk tubuh Revan yang membuat pemuda tampan itu tertawa.


Semua orang terharu melihatnya. Apalagi kedua orangtuanya. Mereka merasa malu sekaligus bangga akan putri sulungnya itu. Dibalik rasa sakit, ternyata Allah mengirimkan seorang penyelamat untuknya yang ternyata merupakan jodohnya yang sudah tertulis.

__ADS_1


__ADS_2