Ikatan Takdir

Ikatan Takdir
Minta restu


__ADS_3

Revan dan Zalimar duduk di kursi mereka untuk menandatangani berkas-berkas penting untuk penyerahan buku nikah. Dalam waktu tiga hari saja surat nikah itu sudah selesai. Akan tetapi, karena Revan memiliki rencana lain, maka buku nikah itu ditahan terlebih dahulu.


Hari ini, buku nikah itu ia tanda tangani hingga sah menjadi miliknya dan juga Zalimar, istrinya. Keduanya mulai melakukan proses adat. Sungkeman kepada orangtua mereka untuk meminta restu demi kelancaran di dalam rumah tangga mereka.


Revan yang lebih dulu meminta restu pada papa Kenan dan Mama Bella.


"Pa, Ma, restui pernikahan kami agar kami bahagia selamanya. Tanpa restu dari kalian berdua, maka rumah tangga kami tidak akan berkah," lirih Revan dipangkuan papa Kenan dan mama Bella yang kini menitikkan air matanya.


"Dengar, Nak. Tidak ada orangtua yang tidak merestui pernikahan putranya. Apalagi kamu putra ke empat papa. Kamu kebanggaan kami. Tanpa kamu, perusahaan kita tidak akan maju seperti sekarang ini. Usahamu membuahkan hasil, Nak. Papa bangga padamu, tetapi bukan berarti papa tidak bangga kepada putra dan putri papa yang lainnya. Kamu istimewa, Nak. Sejak di dalam kandungan mama, kamu sudah menunjukkan keistimewaan itu sendiri. Dan ya, sekarang buktinya. Berbahagialah, papa merestui hubunganmu dan Zalimar. Berikan kami cucu yang banyak!" Ujarnya berseloroh yang membuat para tamu tertawa mendengar ucapannya dari balik pengeras suara yang terpasang di jasnya.

__ADS_1


Revan terkekeh. Ia melihat mama Bella yang segera memeluknya erat.


"Mama merestui apapun yang kamu lakukan selagi itu baik untukmu. Doa mama selalu menyertaimu. Bahagiakan istrimu seperti kami membahagiakanmu. Mulaikan dia. Wanita itu lemah, Nak. Penguatnya seorang suami yang tulus dan lembut dalam menuntunnya. Bertuturlah dengan lembut padanya. Jangan sakiti hatinya dengan perkataan kasarmu. Sekiranya kamu marah, maka diam lebih baik. Contoh papamu! Beliau selalu bersikap lembut sama mama. Tak pernah sekali pun papa membentak mama. Ingat, Nak. Wanita itu lembut hatinya. Sekali tersakiti, maka selamanya akan terus ia ingat! Berbahagialah. Jangan lupa kabari kami orangtua renta ini jika kami sudah mendapat cucu!" celetuknya yang membuat Revan tergelak.


Zalimar menunduk malu. Papa Kenan pun ikut tertawa. Ternyata, bukan hanya papa Kenan yang suka berseloroh, tetapi mama Bella juga demikian. Hidup berpuluh tahun bersama papa Kenan, sedikit tidaknya mama Bella juga bersikap sama sepertinya.


Keduanya satu hati, satu jiwa dan satu tubuh. Jadi, apapaun yang keduanya lakuka, pastilah sama. Hah! Othor rindu dengan keduanya. Kalau kalian penasaran, silahkan mampir di SANDIWARA CINTA. Kisah cinta papa Kenan dan mama Bella, othor kupas di sana.


Revan meletakkan kepalanya dipangkuan ummi Zee terlebih dahulu karena Zalimar yang dipinyta untuk sungkeman lebih dulu dengannya.

__ADS_1


Zalimar tidak mengatakan sepatah kata pun selain hanya tangannya yang memegang tangan hangat yang dulu begitu menyayanginya dan juga mengurusnya selain ummi Zee.


"Nak, kebahagiaanmu juga kebahagiaan abi. Berbahagialah. Abi merestuimu. Abi sayang padamu. Kamu putri abi, Nak. Putri sulungku. Kamu yang pertama abi adzankan ketika kamu sudah dilahirkan." Lirih Beliau dengan dada yang lumayan sesak. "Maafkan semua ucapan abi dulu padamu. Abi tahu, abi sangat menyakiti hatimu. Kamu bisa memaafkan, tetapi tidak akan pernah melupakan. Abi tahu itu dan abi maklum. Maafkan abi yang telah mendholimi kamu. Maafkan abi, Nak. Maafkan abi. Hiks.. Abi sayang Zalimar. Putri kecil abi," bisiknya lirih di telinga Zalimar yang kini tetap diam tanpa berkata sepatah kata pun.


Semua orang yang mendengar ucapan abi Zidan ikut terisak. Revan yang sudah selesai berbicara dengan ummi Zee mendekati istrinya dan mengusap lembut punggung istrinya itu.


Revan tahu, tanpa berkata Zalimar pasti sedang menangis saat ini. Benar saja tebakan Revan. Setelah tangannya menyentuh tubuh Zalimar, guncangan di tubuh itu mencuat seketika.


Revan terus mengelusnya hingga suara isak tangis itu terdengar juga keluar. Zalimar tersedu. Demikian juga dengan abi Zidan. Beliau merosot ke bawah dan memeluk putri sulungnya itu.

__ADS_1


Keduanya menangis bersama. Revan tetap mengelus lembut punggung istrinya. Ia pun menitikkan air matanya ketika mengingat perjuangannya dan Zalimar untuk bisa bertahan hidup karena abi Zidan dulu tidak peduli lagi padanya.


"Sayang, tidak ada orangtua yang membenci anaknya. Jika mulutnya mengatakan benci, percayalah. Hatinya sakit ketika mengatakan itu. Mereka menutupi rasa sakitnya dengan cara mengabaikanmu. Bukan berarti mereka tidak menyayangimu. Abi begitu menyayangimu. Abang merupakan perantara kamu dan Beliau. Abang juga yang mengatakan semua rasa sakitmu padanya. Beliau terluka, Sayang. Sama sepertimu. Untuk itu, cobalah memaafkan apa yang sudah Beliau katakan dulunya. Beliau khilaf. Abang tahu itu. Jika kamu tidak memaafkannya, kamu akan menyesal suatu saat nanti. Apakah kamu mau rumah tangga kita tidak berkah karena kamu masih memmbenci abimu sendiri?" ucap Revan begitu lembut yang membuat Zalimar semakin tersedu-sedu di pelukan abi Zidan.


__ADS_2