
Damar menarik kopernya dengan tatapan tajam dan begitu dingin. Ia tak gentar sedikit pun ketika bunda Putri memohon padanya agar tidak pergi. Mereka bisa menjelaskan semuanya.
Damar tak peduli akan itu. Ia semakin kuat tekadnya untuk melangkah pergi menyusul Zalimar yang entah berada di mana. Hanya keyakinan hati yang bisa menuntunnya menuju ke tempat Zalimar berada.
Damar pergi meninggalkan banyak luka untuk keluarganya terutama Zianti. Saudara kembar Zalimar itu sampai jatuh pingsan tak sadarkan diri karena terlalu shock dengan kenyataan yang baru saja menimpanya.
Kini mereka semua hanya bisa menyesali apa yang sudah terjadi. Ingin membenahi tak akan pernah bisa lagi. Sebab awal mula dari kejadian itu di awali oleh kedua orangtua Damar yang nekad menutup pikiran dan hati Damar untuk Zalimar karena suatu hal.
Mereka terpaksa melakukan itu yang berujung penderitaan bagi semua orang. Menyesal pun tak berguna. Semuanya tak akan pernah kembali seperti semula.
Semuanya menjadi sia-sia saat ini.
Sementara itu di tempat dan kota lain, Zalimar sedang duduk bersama Om dan tantenya. Adik dari ummi Zee. Zalimar duduk bersama mereka dan mendengarkan kabar terkini yang Zafran kabarkan padanya melalui sambungan ponsel milik Onti Alzana.
__ADS_1
"Hem, kalau begitu, kamu harus kembali, Zalimar!" ucap ummi Alzana yang di jawab dengan gelengan kepala oleh Zalimar.
"Aku nggak akan kembali kesana lagi, Ummi. Nggak ada yang perlu aku harapkan lagi di sana. Semuanya sudah hancur sejak hari di mana kalian berdua menolongku waktu itu. Aku pasrah, mungkin inilah takdirku." Jawab Zalimar menunduk sendu.
Om Prince atau yang sering dipanggil Abi Prince menghela napas panjang. "Ya, sudah. Kalau kamu tetap tidak mau kembali, maka kamu harus membantu abi di rumah sakit. Bukankah kamu dokter kandungan? Di rumah sakit abi dan ummi sedang kekurangan dokter kandungan sebab beliau kemarin baru saja risign karena mengikuti suaminya yang pindah bekerja keluar kota. Bagaimana, kamu mau?" Ucap abi Prince memberikan penawaran menarik padanya.
Zalimar mengangguk setuju. "Baik, aku akan kesana besok. Tapi, ingat. Siapa pun yang datang kesini dan bertanya tentang keberadaanku, tolong. Ummi dan Abi jangan katakan apapun! Bisa, kan?" jawab Zalimar memohon pada keduanya.
Abi Prince mengangguk setuju. "Baik. Abi dan ummi tidak mengatakan apapun pada mereka. Akan tetapi, sekiranya abi memiliki kandidat untukmu, apakah kamu bersedia untuk melanjutkan hubungan serius lagi setelah ini? Ingat, umur kamu sudah cukup dewasa untuk membina rumah tangga!" tukas Abi Prince menatap lekat keponakannya itu.
Om dan tantenya itu bisa bernapas lega. Mereka tidak menyangka, kejadian lima belas tahun silam itu begitu membuat Zalimar terluka, bahkan tersingkirkan dari orang yang sudah terikat lama dengannya.
Mungkin itulah yang di namakan jodoh, rezeki dan maut sudah diatur. Kita tidak bisa menghindar jika itu sudah menjadi ketetapan-Nya.
__ADS_1
*****
Di sebuah kota kecil, Damar baru saja tiba setelah menjalani perjalanan darat menggunakan mobilnya sendiri. Berhubung ia memiliki pekerjaan di sana, maka ia memutuskan akan menuju kesana saja sambil menunggu informasi dari orang-orang yang kini ia sebar untuk mencari keberadaan Zalimar.
Damar harus meninggalkan kota kelahirannya demi Zalimar. Seseorang yang baru ia ketahui dari kedua orangtuanya merupakan tunangannya sedari keduanya masih kecil.
Entah karena apa, keduanya sampai berpisah demikian, Damar pun tidak tahu. Ingatannya masih buram dan kelabu. Ia belum bisa mengingat sepenuhnya tentang kejadian lima belas tahun silam.
Bunda Putri hanya menceritakan sepenggalnya saja yang membuat Damar memutuskan untuk pergi dari mereka yang ternyata membohongi dirinya. Demi keselamatannya, ia dan Zalimar terpaksa dipisahkan. Sebagai gantinya, kedua orangtuanya memilih Zianti sebagai pendamping hidupnya yang kini tinggal bersama kedua orangtuanya.
Damar menghela napas berat. Ia tak habis pikir dengan kedua orangtuanya. Bisa-bisanya mereka memisahkan keduanya, padahal keduanya tahu jika Damar sudah mengatakan jika ia akan menikahi Zalimar seperti janji kedua orangtua mereka dulunya.
Hal yang baru Damar tahu, kepergian Zalimar tidaklah murni keinginan gadis berniqob itu. Zalimar pergi akibat desakan kedua orangtuanya. Mereka takut jika penyakit Damar akan kambuh jika kembali bersama Zalimar. Sebab dokter mengatakan, jika sampai Damar memaksakan ingatannya kembali seperti kemarin, maka nyawa Damar taruhannya. Inilah yang kedua orangtua itu tidak inginkan hingga mendesak Zalimar untuk pergi dan memilih Zianti untuk menjadi pengantin penggantinya.
__ADS_1
Mereka pikir, jika berbuat demikian, maka Damar akan aman. Tapi ternyata, semua itu berbanding terbalik dari apa yang mereka pikirkan. Damar marah besar karena kelakuan kedua orang itu hingga memutuskan untuk pergi.