
Keduanya tiba di rumah dan langsung menghadap mereka. Zalimar tidak sedikit pun mendengar apa kata mereka. Ia pamit ingin bersih-bersih dan akan pergi sejauh yang ia bisa.
Malam ini, ia akan pergi dari rumah itu dengan atau tanpa izin mereka semua. Toh, percuma dirinya di sana. Ia hanya dijadikan objek belas kasihan karena sakit hati ditinggal pergi oleh calon suaminya yang kini sudah bahagia dengan adik kembarnya.
Zee menyiapkan semua pakaiannya dan ia masukkan ke dalam koper dan ia simpan ke dalam lemari agar mereka tidak curiga. Sudah cukup dirinya di sana. Kali ini, takkan ada seorang pun yang bisa menemuinya setelah ini. Bukan maksud hati ingin lari dari masalah.
Ia hanya mencoba menghindar, itu saja. Ia lelah harus selalu dibohongi. Zalimar menatap nanar uang tabungannya lumayan banyak untuk satu tahun ke depan. Ia menyembunyikan buku tabungan itu ketika pintu kamarnya di dorong oleh Revan yang ingin berbicara padanya.
Akan tetapi, Zalimar tidak peduli padanya. Ia mengacuhkan pemuda yang sedari tadi ingin bicara padanya.
"Say- ehem, Dek!" tegurnya pada Zalimar yang seketika berhenti di depan pintu kamarnya.
Ia akan keluar dan tidak ingin satu kamar lagi dengan pemuda itu.
"Besok, kita akan kembali ke Medan. Setelah itu ke Jakarta. Aku sudah memutuskan untuk mengembalikan kamu pada kedua orangtuamu. Aku sadar, aku tidak bisa menjadi suamimu lagi. Sekarang, terserah padamu ingin apa. Jika kamu ingin aku menjatuhkannya padamu, maka akan aku lakukan! Apakah kamu sanggup?" ucapnya pada Zalimar yang kini bergeming tanpa berbalik menoleh padanya.
Biarlah dirinya dikatakan tidak sopan pada suaminya. Ah, bukan. Belum tentu pemuda itu suaminya. Pemuda yang belum pasti apakah benar sudah menikahinya dari kedua orangtuanya. Sebab hingga saat ini, ia tidak mendengar apapun dari kedua orangtuanya tentang pemuda tersebut.
"Dek!" panggilnya lagi karena Zaalimar tidak menyahuti apa yang ia katakan.
"Terserah apa yang kamu inginkan. Lagipula, siapa aku untukmu hingga kau berjuang untuk mempertahankan gadis pembawa sial sepertiku?"
Deg!
Deg!
Revan mengepalkan kedua tangannya.
"Aku bukan siapa-siapa kamu. Cinta bisa dengan mudah terucap, tapi tidak bisa langsung begitu saja melekat di hati. Sudah cukup aku merasakan semua ini. Jika dulu kalian mendengarku, maka kali ini kalian harus mendengarkan apa yang aku katakan!" lanjut Zalimar lagi segera berlalu meninggalkan Revan yang kini menahan emosinya.
"Jangan salahkan aku jika akhirnya aku meninggalkanmu, Zalimar! Benar yang Tiara katakan! Kamu tidak pernah berubah. Menyesal aku menikahimu kemarin! Aku pikir, kamu bisa berubah dan melembut padaku. Tapi, ternyata kamu tidak sedikit pun berubah. Maaf, Zal. Semua ini akan terjadi seperti yang kamu mau!" tukasnya tersenyum misterius.
__ADS_1
Ia mengambil handuk milik Zalimar dan segera pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Sementara Zalimar keluar dari rumah itu menuju ke suatu tempat.
Ummi Zee memanggilnya berulang kali, tapi wanita yang sedang dilanda luka hati itu tidak menggubrisnya. Ummi Zee panik bukan main. Ia mendatangi Revan berniat untuk menyuruhnya menyusul. Akan tetapi, menantunya itu mengatakan, Zalimar tidak akan kemana pun. Ummi Zee bernapas dengan lega.
Revan keluar dari kamar itu setelah berpakaian lengkap. Ia akan pergi ke suatu tempat untuk menemui seseorang yang tadi malam menghubunginya.
Revan melajukan mobilnya menuju tempat itu. Tanpa ia ketahui, tempat yang ia tuju juga tempat yang sama Zalimar tuju. Keduanya duduk saling membelakangi. Zalimar tidak tahu jika itu Revan, begitu pun dengan Revan. Hanya satu orang yang mengenal Zalimar di sana. Wanita itu tersenyum sinis.
"hai, Sayang!" sapanya manja yang membuat Revan terkekeh.
Zalimar terkejut mendengar suara kekehan itu. Suara yang begitu ia kenalnya.
"Hai juga, Sayangku? Apa kabarmu? Kenapa harus menyusulku sampai kesini? Sudah rindu?" godanya yang membuat wanita itu tersipu malu.
"Aku sengaja kesini hanya ingin menemuimu, calon suamiku!" ucapnya masih bernada manja dan sedikit meledek Revan yang kini tertawa keras yang membuat jantung Zalimar seakan lepas dari tempatnya.
Zalimar memegang erat ujung gamisnya hingga lecek.
"Ck. Jangan tertawa seperti itu! Kamu belum bisa aku peluk dan cium! Masih belum sah!" godanya yang kembali membuat Revan tergelak renyah.
Sebelumnya, Zalimar menekan video untuk merekam percakapan mereka. Keduanya pun melanjutkan ucapan mereka.
"Sudah makan? Aku belum. Sibuk membalas pesan darimu hingga aku tidak sarapan pagi tadi!" Keluh pemuda itu lesu.
Wanita itu tertawa. "Apakah istrimu itu tidak memberikanmu makan, Van?" ledeknya sembari menatap pada Zalimar yang kini bergeming di tempatnya.
"Jangan sebut dia di sini. Saat ini, hanya kita saja. Bicarakan tentang kita! Jika bukan karena keputusan orangtua, maka aku tidak akan menikahinya! Huh! Kesal aku menikahi saudara sepupu yang begitu keras kepala!"
Deg!
Wanita itu terkekeh. Zalimar sekuat yang ia bisa untuk bertahan mendengarkan walau hatinya semakin sakit saat ini. Ia tak habis pikir dengan Revan. Laki-laki macam apa dia yang berani mengumbar keburukan istrinya pada wanita lain. Sekalipun pernikahan itu terpaksa, tapi janganlah menjelekkan istrinya saja. Apakah ia meminta untuk dinikahi?
__ADS_1
Buliran bening semakin banyak mengalir di wajahnya yang tertutup niqob. Ia sampai sesegukan di sana. Tubuhnya berguncang.
"Hiks.. Hiks.. Hiks.."
Deg!
Deg!
Jantung Revan memcelos mendengar suara tangisan itu. Suara tangisan yang begitu menyakitkan. Ia ingin berbalik sebab hatinya terpanggil untuk berbalik. Akan tetapi, ia tahan karena Tiara saat ini sedang menatap padanya. Sekuat tenaga untuk tidak terkecoh dengan suara tangisan itu.
Entah kenapa hatinya terasa sakit mendengar suara tangisan itu. Revan berusaha tersenyum walau tangannya kini menjadi dingin. Ada perasaan entah seperti apa saat ini. Ia gelisah dan gundah memikirkan Zalimar.
"Baiklah, baiklah. Aku tidak akan menyebutkan wanita sial itu di sini! Ups! Maaf," cicitnya tapi, meledek sinis.
Zalimar tahu itu. Revan mematung mendengar kata-kata itu.
"Allahuu.. Kuatkan aku!"
Deg!
Deg!
Tubuhnya membeku ketika mendengar suara itu. Spontan saja Revan berbalik. Ia melihat wanita berniqob menggunakan baju berwarna hijau daun sudah berlalu dengan langkah gontai.
Jeduaaar!
Pyarrr..
Gelas di tangan Revan lepas seketika. Matanya melotot dengn mulut bergetar saat ia menyadari jika wanita itu adalah istrinya. Kakinya reflek saja berlari mengejar Zalimar yang sudah lebih dulu berlalu. Tiara berteriak memanggilnya. Namun, Revan tidak menggubrisnya.
Wanita licik itu tersenyum sinis. "Akhirnya.. Revan sebentar lagi akan menjadi milikku! Ha ha ha.. Bodoh! Bisa-bisanya si Revan percaya dengan apa yang aku katakan! Hahaha.. Jika bukan karena hartanya, maka aku tidak sudi untuk mengejar lelaki payah itu!"
__ADS_1
Jeduaar.
Langkah pemuda jangkung itu terpaku di tempat ketika mendengar ucapan Tiara. Ia mengepalkan kedua tangannya. Ia berbalik dan mengejar kembali istrinya yang kini entah sudah sampai di mana.