
Revan terkesiap mendengar ucapan Zalimar. Ia membalik paksa tubuh itu hingga Zalimar terhuyung dan menubruk dadanya.
Wajah Revan begitu datar. Tatapan mata itu menajam menatap Zalimar yang kini menatap sayu dan sendu padanya. Tatapan mata penuh luka begitu terlihat di mata itu.
Revan menghela napas panjang untuk mengontrol emosinya. Buliran bening terus mengalir dari mata Zalimar hingga membasahi niqobnya.
"Dengarkan abang, Sayang! Abang tidak pernah mengkhianati dirimu. Abang menyayangimu sedari dulu hingga nanti. Abang mencintaimu, Zalimar! Abang tahu, kamu tidak mencintaiku. Tapi, aku akan berusaha untuk membuat hatimu luluh padaku dan mencintaiku. Abang tidak sepertinya, Sayang. Abang tidak begitu! Hanya karena ucapan belaka, abang langsung pergi untuk meninggalkanmu. Abang nggak gitu! Kamu salah paham sama abang. Abang tahu, Savana menyukai abang sedari dulu. Tapi, abang tidak memperdulikan hal itu. Bagi abang, hanya kamu! Jika kamu ingin abang menjauh darinya, maka akan abang lakukan! Abang akan pergi dari rumah itu dan tinggal di tempat lain. Tapi, kamu harus ikut bersama abang, ya? Abang tidak mau tinggal sendiri. Kamu istriku, kamu wajib menemani suami kamu sampai kapanpun itu. Percayalah, Sayang. Abang tidak seburuk itu. Abang sayang kamu, Dek! Sangat," lirihnya mendekatkan keningnya pada kening Zalimar yang kini menunduk tidak ingin melihat padanya.
Revan ikut menangis mendengar isakan lirihnya. Revan tidak sanggup melihat Zalimar seperti itu. Sedari dulu hingga saat ini, ia selalu lemah melihat Zalimar menangis.
"Ssstt.. Udah, jangan menangis. Abang sakit melihatmu seperti ini," bisiknya dihadapan wajah Zalimar.
Harum napas mint pemuda itu membuat Zalimar merasa nyaman dan tenang. Entah kenapa, dekapan pemuda itu selalu bisa meruntuhkan rasa kesal di hatinya. Sedari ia kecil, hanya Revan yang berhasil meluluhkan hatinya. Begitu pun saat ini.
Entah daya pikat apa pada diri pemuda yang merupakan sepupunya itu. Zalimar pun tidak tahu. Zalimar sering merasa aneh dengan dirinya. Ia sering merasakan hal yang tak biasa jika bersentuhan dengan pemuda itu.
Ada rasa tidak rela untuk menjauh darinya. Dekapannya begitu menenangkan sama seperti Abi Zidan. Lagi, Zalimar tersedu. Ia merasa bersalah karena meninggalkan kedua orangtuanya tanpa kata.
__ADS_1
Entah apa yang terjadi pada dirinya, Zalimar pun tak tahu. Yang jelas, ia kesal melihat adik sepupunya begitu dekat dengan suaminya itu.
Suami? Zalimar, bahkan belum percaya sepenuhnya. Akan tetapi, ia tetap yakin dan percaya pada pemuda itu.
Cukup lama Zalimar menangis hingga ia mengurai dekapan nyaman itu. Zalimar menjauhkan dirinya dari Revan yang kini masih memegangi kedua tangannya.
Ya, Revan tadi memeluknya walau Zalimar meronta ingin dilepas, tapi Revan tetap memeluknya. Zalimar akhirnya pasrah juga.
"Kita pulang?" tanya Revan setelah sekian lama keduanya berdiam diri di sana.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Zalimar bergeming.
"Kalau Abang ingin pulang, pulanglah. Aku akan di sini sampai besok. Aku butuh waktu untuk menenangkan pikiranku. Luka lama belum lagi sembuh ditambah luka baru. Aku butuh waktu untuk memahami semua ini. Aku harap, kamu mengerti." Ucap Zalimar berlalu dari sana menuju ke belakang pondok tempat di mana tebu di buat menjadi minuman segar jika siang hari.
Revan mengikutinya. Ia terkejut melihat rumah berbaris di sana mirip kontrakan. Zalimar membuka satu rumah itu dengan kunci yang ia miliki. Revan pun ikut di belakangnya.
Zalimar belum menyadari hal itu. Ia pikir, Revan sudah pergi. Akan tetapi, ketika ia berbalik Zalimar terkejut melihat suaminya kini berada dihadapannya.
__ADS_1
Zalimar terkesiap ketika pintu rumah itu terkunci. Revan sengaja mengunci dan mengantongi kuncinya.
Ia berjalan santai menuju ranjang yang hanya muat untuk satu orang itu. Revan melepas jaketnya dan membuka celana panjangnya. Ia mengambil sarung tersedia di sana dan memakainya dihadapan Zalimar.
Zalimar mengerjab lucu. Revan terkekeh. "Ayo, tidur! Abang tidak akan pulang tanpa kamu! Buat apa abang pulang kalau istriku di sini? Abang akan ikut kemana kamu pergi!" ucapnya menggoda Zalimar dengan mengedipkan satu matanya.
Zalimar melengos. Ia mendekati ramjang itu dan meletakkan tas kecil miliknya di sana. Ia menuju ke kamar mandi yang diikuti oleh Revan. Zalimar menggosok gigi dan berwudhu kembali sebelum tidur. Revan pun demikian.
Keduanya tidur dalam satu ranjang yang sama karena Revan memaksa Zalimar untuk tidur bersamanya. Zalimar tersenyum dalam dekapan pemuda tampan itu. Ia semakin menyurukkan wajahnya di ceruk leher Revan yang membuat pemuda itu tersenyum merasakan hembusan napas Zalimar di lehernya. Keduanya pun terlelap bersama.
Sementara itu di rumah Abi Prince, Savana berjalan mondar mandir dengan cemas menunggu kepulangan kedua saudaranya itu.
Mama Bella tersenyum melihat itu. Ummi Alzana mendekati putrinya.
"Duduk Vana!"
Deg!
__ADS_1
Savana terkesiap mendengar suara umminya. Ia melangkah mendekati kedua wanita itu dengan menunduk.