
Kepala Zalimar berdentum hebat dengan telinga terus berdenging. Langkah kaki yang semakin cepat menuju ke sebuah taman yang ada di rumah sakit sang ummi membuatnya tidak saar untuk tiba di sana.
Sungguh sakit hatinya ketika mengetahui jika pemuda yang di jodohkan dengannya ternyata pemuda itu. Zalimar mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
Bertahun-tahun ia mencoba melupakan pemuda itu dengan susah payah, tetapi pemuda itu kembali dengan rasa yang lebih meyakitkan lagi.
Zalimar terjatuh saat ia menginjak gamisnya sendiri hingga tersungkur. Seseorang di belakangnya hampir berteriak dengan tangan mengulur ke depan. Hampir saja suaranya keluar sebelum ia sadar, jika sedang mengikuti gadis cantik tertutup niqob itu.
Zalimar tergugu di atas rumput yang begitu banyak embun malam. Gamisnya basah karena menyentuh embun malam itu. Ia meremat dadanya ketika rasa sakit itu menghantam hatinya untuk yang kedua kalinya.
"Hiks.. K-kenapa harus dia? Huh? Kenapa harus dia? Aku nggak sanggup jika itu dia! A-aku tidak ingin melukai hati sauadra kembarku sendiri! Bertahun-tahun aku menyimpan rasa ini hanya untuk adikku seorang. Hiks.. Walau ku tahu, aku juga menginginkannya. Hiks.. Ummi.. Abi.. K-kenapa jodoh yang kalian berikan untukku adalah dia? Kenapa, Mi? Kenapa, Bi? Apakah dunia ini sudah begitu sempit hingga tak ada lagi pemuda yang bisa kalian jodohkan denganku?! Kenapa harus dia, Mi? Kenapa?!" teriak Zalimar tersedu di bangku taman yang tersedia di sana.
Tungkai jenjang seorang pemuda berhenti seketika kala mendengar ucapan Zalimar yang begitu membuat jantungnya berdenyut nyeri.
Deg, deg, deg..
__ADS_1
'Kok, sakit, ya? Kenapa saat bersamanya, jantung ini selalu berdegup begitu kencang? Berbed sekali jika saat bersama Zianti? Kenapa ini? Kenapa Zalimar marah akan diriku? Adakah aku melakukan perbuatan yang membuatnya terluka di masa lalu? Atau ketika kami remaja dulu? Kenapa?' Bisiknya dalam hati sembari memegangi sisi kiri dadanya yang terus berdetak tidak karuan kala mendengar suara tangisan pilu gadis yang ternyata sudah di jodohkan dengannya sedari keduanya kecil.
'Apa jangan-jangan..' batinnya lagi berbisik dengan pikiran melayang ke masa lalu.
"Hiks.. Ummi.. kakak nggak sanggup jika itu Bang Damar. Kenapa harus bang Damar, Mi? Kenapa? Hiks.. Kakak nggak sanggup! Kakak nggak kuat! Kejadian masa lalu itu begitu menyakiti hatiku!"
Deg!
Mata lelaki muda itu melotot seketika.
"Hiks.. Kakak mundur, Mi. Biarkan Zianti dulu yang menikah. Kakak ikhlas. Kakak ridho asalkan ia bahagia. Kakak tidak ingin merebut apa yang sudah menjadi miliknya. Allah pasti sudah mengirimkan jodoh untukku kelak. Hiks.. Ummi.. Abi.. Bangun! Kakak sendirian! Tak ada yang menemani! Om Prince! Kembali! Onti Alzana! Kakak butuh kalian!" isaknya semakin nelangsa saja.
"O-om Prince? O-onty Alzana?!" gumamnya terus beringsut berjalan mundur dengan wajah terkesiap kaget.
Ia menggeleng berapa kali untuk mengingat kejadian lalu. Benar, kedua orang itu adalah onti dan om si kembar. Akan tetapi, kenapa harus Zalimar yang mengingatnya? Bukannya Zianti? Ia sering bertanya pada Zianti tentang Om Prince dan Onti Alzana. Gadis yang ia cintai itu hanya bercerita sekedarnya saja, padahal bukan itu yang ia mau. Yang ia inginkan ialah kalau Zianti menceritakan bagaimana kejadian lima belas tahun lalu itu terjadi pada dirinya.
__ADS_1
Damar menggelengkan keplanaya tanda tidak percaya dengan praduga yang bersarang di pikirannya saat ini. Ia semakin mundur hingga terhuyung kala menabrak seorang dokter yang sedang mencari Zalimar untuk mengabarkan keadaan kedua orangtuanya yang sudah lewat dari masa kritis setelah operasi baru saja.
"Eh, Loh?" kata Dokter itu menunjuk Damar yang kini beruraian air mata tanpa suara.
Ia mengernyitkan dahinya bingung. Ia menatap lurus kemana arah mata lelaki muda itu memandang.
"Zalimar?" gumamnya kembali menoleh pada Damar yang kini berjalan terseok-seok menuju ke luar rumah sakit dibantu oleh asistennya.
Dokter itu mendekati Zalimar setelah melihat kepergian Damar menghilang dengan mobil miliknya. Ia kasihan melihat putri rekannya itu. Walau Ummi Zee merupakan pemilik sah rumah sakit itu setelah almarhum Nenek Ira meninggal, tetap saja, keduanya adalah rekan sebelum ummi Zee mengambil alih tampuk kepemimpinan itu.
Puk.
Zalimar tersentak dari lamunan masa lalunya. Ia menoleh ke belakang dan terkejut melihat dokter Firda ada di belakangnya. Mata Zalimar kembali berkaca-kaca.
Tanpa mengatakan apapun, dokter paruh baya itu segera memeluk Zalimar dengan erat. Seakan ia tahu, itulah yang saat ini Zalimar butuhkan.
__ADS_1
"Apakah dia pemuda itu, Nak?" ucapnya bertanya pada Zalimar yang kini terus menangis ketika berada di dalam pelukan wanita itu.
Zalimar hanya mengangguk lirih sebagai jawaban. Ia terus menangis mengingat jika adiknya pasti akan kecewa karena pemuda yang ia cintai sedari mereka berusia dua belas tahun harus menikah dengannya.