
Dua minggu seteklah kejadian itu, acara pernikahan yang sudah kedua belah pihak tentukan tetap terjadi. Hari ini, pernikahan itu terjadi juga.
Sejak pagi, ruangan tempat di mana semua orang berkumpul semakin ramai. Karena masih dalam suasana yang tidak baik, maka hanya orang tertentu saja yang bisa bersuara. Mereka melakukan acara ijab Qobul itu di dalam ruangan VVIP di mana Abi Zidan masih terbaring di sana.
Abi Zidan belum bangkit hingga saat ini, maka saudaranya yang lainlah yang akan menikahkan Zalimar dengan Damar. Zalimar belum terlihat hingga saat ini. Sudah tiga hari ini ia selalu menghindar tiap kali Damar ingin menemuinya. Wanita berniqob itu lebih memilih menghindar darinya karena merasa sakit hati akan perkataan Bunda Putri dan ayah Jerry untuknya.
Hari ini hari pernikahannya dengan Damar. Ia tidak menunjukkan batang hidungnya di sana. Ia sudah mengutus seseorang untuk mengurus pernikahan itu. Zalimar memilih pergi dan menghindar dari mereka semua.
Acara pernikahan itu tetap terjadi. Ijab Qobul itu berjalan dengan lancar. Akan tetapi, Damar terkejut kala mengetahui jika pengantinyya bukanlah Zalimar. Melainkan Zianti.
"Apa?! Apa-apaan ini?! Kalian menipuku?!" teriak Damar teriak terima.
Zianti mematung melihat suaminya marah akan keadaan itu. Ummi Zee pun demikian. Ia mematung melihat Ziantilah yang menjadi istri Damar, bukan Zalimar.
"Kenapa harus Zianti, Mbak? Zalimar kemana?" tanya ummi Zee hampir tersulut emosi melihat amukan yang Damar lakukan saat ini.
Mbak WO menunduk takut. Ia memberikan ponsel berupa video yang akan ia tunjukkan tentang Zalimar yang pamit melalaui ponsel miliknya.
__ADS_1
"Maaf, Bu. Dokter Zalimar hanya menitipkan ini untuk Anda. Terutama," ucapnya melirik Zianti dan Damar berhgntian.
Ummi Zee yang paham segera membuka video itu.
"Assalamu'ailakum Ummi? Kaget, ya? Pasti dong! Kakak pun begitu!" terdengar suara lembut mendayu yang membuat damar mendekati ummi Zee dan melihat pada ponsel itu.
"Kakak lebih kaget lagi saat tahu, jika kehadiranku di sana menjadi ancaman kematian untuk cintaku sendiri. Bang Damar!"
Jeduaar!
"Tapi, tak apa. Kakak sudah melakukan yang seharusnya, kok. Dulu pun begini. Mana mungkin bang Damar mau menikahi gadis yang telah menodai persahabatan serta cinta kami? Bukankah dulu dia juga mengatakan jika aku ini berkhianat padanya? Aku ini bukan gadis baik-baik! Wajahku tertutup niqob karena kelakuanku! Ya, bang Damar benar! Maka dari itu, aku pergi dari kalian semua. Sebagai ganti mempelai wanitanya, aku izinkan Zianti yang menggantikanku. Bukankah Zianti begitu ingin menikah dengan Damar sedari dulu? Ia, bahkan rela membuat calon suaminya menangis karena mendengar aku berkhianat padanya. Tapi, tak apa. Aku ikhlas. Inilah takdirku! Ikatan takdirku dengannya sudah terputus karena aku merupakan ancaman kematiannya!"
"Untuk kamu Zianti. berperilakulah yang baik terhadap suamimu. Kakak mengabulkan keingiannamu dengan memberikan hidupku padamu. Terima kasih kamu sudah membuka mata wanita jahat ini. Bahwa tidak selamanya yang dekat dan terlihat baik itu tulus pada kita. Terkadang, orang jauh lebih baik daripada orang terdekat yang bisa menikam kita dari belakang. Berubahlah. Paling tidak, untuk Abi dan Ummi. Jangan membuat keduanya masuk neraka karena ulahmu!"
Deg!
Deg!
__ADS_1
Tubuh Zianti membeku mendengar suara Zalimar, saudara kembarnya.
"Untuk ummi.. Jaga Abi dan kedua adikku yang lainnya. Aku pergi dari kalian semua demi menyelamatkannya. Aku ikhlas. Inilah hidupku. Tak usah mencariku. Aku di sini baik-baik saja. Semoga pernikahan adikku dan dia, sakinah, mawaddah dan warohmah. Titip salam untuk abi kalau nanti, cintaku itu sadar kembali. Kakak pamit! Jaga diri, Mi. Minta kedua adikku yang selalu mengurus kalian. Zafar sudah mengurus rumah sakit kita saat ini. Walau ia masih kuliah semester dua, ia sudah bisa memimpin menggantikanku. Maafkan kakak, Ummi. Kakak pergi! Selamat tinggal! Semoga Allah selalu melindungi kalian semua! Assalamu'alaikum," suara dari dalam video itu senyap seketika.
Ummi Zee menatap nanar pada bunda Putri dan ayah Jerry. Keduanya menunduk tak ingin melihatnya.
"Kamu berhasil membuang satu putri hanya demi kebahagiaan semata dan bersifat semu Put! Kamu akan menyesal setelah ini. Lihat saja!" ucapnya tegas yang membuat bunda Putri menggeleng padanya.
"Mbak. Nggak gitu!" kilahnya menangis tersedu.
"Dan untuk kamu, Damar. Bawalah pergi istrimu dari hadapan kami! Jangan pernah menunjukkan wajah kalian berdua jika putriku yang lain tidak pernah kembali! Aku tidak akan pernah merestui pernikahan ini hingga aku mati!"
Jeduaar!
Zianti luruh ke lantai yang membuatt bunda Putri segera merengkuh menantunya itu.
Ummi Zee berbalik dan menatap lekat pada suaminya yang kini sudah sadar kembali. Tatapn keduanya beretmu dna berkaca-kaca. Abi Zidan tersenyum sendu padanya dan mengangguk.
__ADS_1