Ikatan Takdir

Ikatan Takdir
Teguran halus


__ADS_3

Savana duduk dengan wajah menunduk. Ada mama Bella di sampingnya. Sedangkan ummi Alzana berada di depan Savana saat ini. Ia menatap datar putrinya itu.


"Kenapa belum tidur?" tanya mama Bella pada Savana yang masih menunduk tidak berani melihat wajah umminya.


"Jawab Vana!" seru ummi Alzana yang membuat Savana tersentak tubuhnya.


"Na," tegur mama Bella pada keponakan sekaligus besannya itu.


Ummi Alzana mendengkus keras. Mama Bella masih berusaha membujuk Savana. Ia punya cara sendiri untuk menegur cucunya itu.


"Apa kamu masih menunggu Revan, abangmu?" pancingnya secara halus.


Savana mengangguk. "Kenapa?" pancingnya lebih dalam.


"Em, a-anu. I-itu Oma. Em, tadi 'kan kakak lihat kami lagi, lagi pelukan di dapur. Nah, aku ingin tahu, apakah mereka berdua ribut karena itu atau malah baikan?" jawabnya jujur yang membuat Ummi Alzana segera melempari putrinya itu dengan kotak tisu.


"Astaghfirullah, Nana!" tegur mama Bella lembut.


"Biarin Tante! Anak ini selalu begini! Kebiasaan! Yang kayak nggak pernah diajarkan sopan santun kepada yang bukan mahram!"


Deg!


Savana semakin menundukkan kepalanya. Ia ketakutan melihat kemarahan ummi Alzana padanya.


Mati aku!


Ia bergumam dalam hati berharap Revan atau abang kembarnya yang menyelamatkannya. Namun, apa yang menjadi pengharapannya itu tidak akan pernah terkabul. Revan saat ini sudah terlelap bersama istrinya. Sedangkan Samir, ia pun sudah berlabuh ke pulau kapuk! Ck.


Mama Bella mengusap lembut pundak keponakannya itu. "Dengar, Nak. Kamu tidak perlu khawatir dengan mereka berdua. Mereka berdua sudah dewasa. Bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk untuk kehidupan rumah tangga mereka. Kamu seharusnya, mendukung mereka untuk melakukan kebaikan. Bukankah di sekolah dan di pengajian juga diajarkan tentang cara dalam berumah tangga terutama bagi kita seorang wanita?"

__ADS_1


Savana mengangguk lirih. Mama Bella tersenyum teduh. "Kamu tidak salah jika mengkhawatirkan abangmu yang merupakan Om kamu,"


Deg!


Jantung Savana mencelos ketika mendengar kata Om.


"Ia sudah dewasa dan sudah menikah. Umurnya sudah cukup untuk berumah tangga. Dan istri yang ia mau itu, ya, kakak sepupu kamu! Zalimar! Dan kamu sebagai adik harus bisa menjaga diri dengan baik. Kamu anak gadis, Nak. Masih perawan. Tidak sepantasnya berlaku demikian pada yang bukan mahram untuk kamu." Tegurnya lembut pada Savana yang kini semakin menunduk dalam merasa tidak enak sekaligus malu.


"Kamu tidak boleh berlaku kelewat batas. Lebih baik kamu menghindar daripada kamu mendekati yang bukan mahram untuk kamu. Bukan maksud Oma ingin mempermalukan kamu, tidak sama sekali!" Tegasnya. "Oma hanya berusaha mengingatkan saja. Sekiranya kamu anak yang baik, kamu pasti menerima apa yang Oma sampaikan padamu. Jangan cemaskan mereka. Mereka akan kembali besok pagi. Untuk sekarang, istirahatlah. Besok sekolah bukan?" tuturnya lembut pada Savana yang diangguki oleh gadis belia itu.


"Ya, sudah. Masuk dan tidur. Jangan lupa berwudhu sebelum tidur agar malaikat selalu menjaga kita ketika tidur!" lanjutnya lagi yang diangguki oleh Savana.


Gadis belia itu pun menuju ke kamarnya. Ia menghilang di balik pintu yang sudah tertutup rapat itu.


Mama Bella menghela napasnya melihat pada ummi Alzana yang begitu kesal pada putrinya tersebut.


"Sudah, jangan kesal begitu! Ayo, istirahat. Biarkan keduanya bermalam di sana. Zalimar butuh waktu untuk itu. Tante sudah menghubungi Revan dan menyuruh mereka pulang pukul sembilan saat Savana sudah pergi dari rumah. Lain kali, ajarkan dengan baik pada putrimu. Terkadang anak gadis jika sudah besar, ia kan malu jika di tegur di depan umum. Tante sudah membicarakan hal ini pada Prince. Ia yang akan menegur putrimu," ucapnya pada Ummi Alzana yang masih kesal pada putrinya itu.


Ke esokan paginya.


Pukul sembilan pagi Revan dan Zalimar baru pulang dari tempat penginapan mereka. Ada yang tidak beres dengan keduanya. Sepanjang perjalanan, keduanya terdiam tanpa kata setelah perdebatan tengah malam tadi.


Masih teringat jelas oleh Zalimar bagaimana Revan berbicara dengan seseorang yang entah siapa. Revan keluar kamar untuk mengangkat telepon yang berbunyi tengah malam itu.


Zalimar yang sadar karena pelukan nyaman itu lepas mengerjabkan matanya. Ia melihat ke sekeliling ruangan, tidak ada Revan di sana. Samar-samar ia mendengarkan ucapan Revan dari luar kamar. Karena penasaran, Zalimar pun mencari asal suara itu.


Dirinya mematung di depan pintu ketika mendnegar ucapan dnegan seseorang.


"Maaf, Sayang. Aku ngga bisa menikahi kamu. Aku sudah menikah dengan sepupuku . Ia sedang terluka saat ini karena pemuda yang ia cintai menikah dengan saudara kembarnya. Iya, aku ngerti! Tapi, aku tak bisa! Itu terlalu sulit! Lebih baik, kamu minta tolong pada Rendi saja. Adikku ada di sana saat ini. Hem, aku juga mencintaimu! Ya, bye!" ucapnya menutup sambungan ponsel itu dan berbalik hendak masuk.

__ADS_1


Deg!


Deg!


Tubuhnya terpaku melihat Zalimar ada di sana. Revan gelagapan. Zalimar menatap datar dan dingin padanya. Tanpa berkata sepatah kata pun Zalimar melangkah masuk ke dalam kamarnya di ikuti Revan yang kini semakin panik melihat wajah istrinya itu.


"Tunggu, Sayang!"


Deg!


Zalimar berhenti. Niat hati ingin berwudhu karena kesal mendengar ucapan suaminya, malah semakin emosi ketika kata sayang itu tersemat untuknya.


"Dengarkan abang dulu-,"


"Apa yang harus aku dengar Revan?"


Deg!


Revan terkejut mendengar namanya di sebut begitu saja tanpa embel bang lagi.


"Aku sudah cukup mendengar semuanya dan itu sudha cukup untuk aku mengerti. Terima kaish karena kamu bersedia menawarkan dirimu untuk menikahiku. Akan tetapi, aku tidak butuh seorang lelaki untuk bisa menyembuhkan lukaku. Lukaku tetap akan menganga dan juga sembuh sendirinya tanpa kamu. Jadi, lebih baik, kamu putuskan hubungan ini dihadapan kedua orangtuamu dan juga orangtuaku besok. Bagiku, pernikahan ini tidak ada apa-apanya untukku. Kamu, tetap orang lain yang dengan lancang memasuki hidupku tanpa permisi!"


Jeduaar!


Revan semakin terkejut mendengar ucapan istrinya itu. Kedua tangannya mengepal erat.


"Baik, jika itu yang kamu mau. Maka akan aku lakukan! Tunggu saja besok pagi! Malam ini, tidurlah! Saya akan tidur di luar!" tukasnya seraya berlalu meninggalkan Zalimar yang ambruk setelah pintu tertutup rapat.


Zalimar menangis dalam diam. Ternyata, pemuda mana pun tetap sama saja. Tidak hanya Damar, Revan pun demikian. Zalimar mengusap kasar air matanya. Ia tidak lagi terlelap. Ia memilih berwudhu dan berzikir hingga subuh harinya.

__ADS_1


Pagi harinya, ia keluar dan tidak mendapati Revan di sana. Ia segera ke warung makan pagi yang ada di sekitar pondok itu. Ia melanjutkan sarapan paginya tanpa Revan. Ia tidak peduli lagi dengan pemuda yang mengaku-ngaku suaminya itu.


Sudah cukup dirinya di bohongi seperti itu.


__ADS_2