
Sebulan sudah berlalu setelah pernikahan keduanya di gelar. Kini Zee dan Zidan sudah kembali sibuk dengan aktivitas mereka berdua.
Jika Zee dengan kegiatan dokter kandungan. Sedang Zidan dengan direktur di perusahaan Alamsyah'S Group nya.
Zidan dan Zee sudah sama-sama sibuk. Walaupun sibuk, keduanya tetap bisa bertemu dan selalu terlihat romantis jika sedang berdua saja.
Pgi ini kleduanya tidak bisa berangkat bersama karena Zidan sejak subuh sudah berangkat ke Bandara terlebih dahulu sebab mendapatkan kabar dari Jakrta kalau Kenan dan Bella mengalami kecelakaan.
Mama rani, Papa Reza, dan zidan segera berngakt kesana saat Kenta dan Kezia yang memberitahu mereka jika Kenan dan Bella kecelakaan saat mereka berdua sudah berhasil mengungkap pelaku teror yang selamasebulan ini terus menerus meneror Zee dan Zidan.
Zee sangat gelisah karena sejak pagi tadi hingga siang ini ponsel Zidan tidak bisa dihubungi begitu juga dengan kedua mertuanya.
Putri yang melihatnya jadi kesal sendiri.
"Ayolah Zee! Tenang dikit napa?! Nggak tahu apa klau aku pusing laihatin kamu yang mondar-mandir terus?" Ucap Putri sangat kesal melihat tingkah Zee yang sedikit berlebihan menurutnya.
"Gimana mau tenang Put? Bang Zidan, Mama dan Papa serta Neknda Zizi sedang disana. Aku khawatir! Karena semua nomor mereka tidak ada yang bisa dihubungi! Paling tidak, kabarkan apa yang terjadi disana biar hati ini tenang! Mana lagi tante ku yang mendapat musibah??" jawab Zee masih saja mondar mandir tidak jelas.
Sementara Putri hanya bisa menghela nafas beratnya.
Di Jakarta.
__ADS_1
Zidan dan kedua orang tuanya sednag kalut saat ini. Karena kecelkaan itu menyebabkan Kenan dan Bella koma hingga saat ini.
Mereka berdua tidak bisa dipisahkan hingga saat ini. Kedua tangan suami istri itu tetap bertaut walau mereka sudah koma.
"Ya Allah.. Abang lupa hubungi Zee, Ma! Astaghfirullah ya Allah!" serunya gusar.
Ia merahup wajahnya kasar saking kesalnya hingga ia lupa untuk menghubngi istrinya di Medan saat ini pastilah sedang gelisah menunggu kabar darinya.
Dengan seegra ia menyalakan ponselnya. Menunggu sebentar hingga sitem ponsel menyala dengan baik.
Baru saja Zidan ingin menghubungi Zee, nama itu sudah tertera di layar ponsel miliknya.
Zidan tersenyum lembut melihat nama Zee terpampang di ponselnya dengan panggilan video call.
"Noh, Zee! Suami kamu mengangkat panggilannya! Assalamu'alaikum Bang Zidan!"
Waalaikum salam, Put. Sayang!"
Zee yang berjalan mondar mandir tidak karuan dengan wajah cemasnya terkejut saat mendengar suara Zidan di dalam ruangan itu.
Ia berbalik dan segera mendekati wajah Zidan yang kini terhubung di laptop miliknya. Zee bernafas lega walau sedikit cemas juga.
__ADS_1
"Iya Bang. Gimana sama Om Kenan dan tante Bella?" serbunya pada Zidan yang kini tersenyum melihat Zee yang begitu khawatir pada kedua saudara mereka itu.
"Alhamdulillah mereka baik Ze.. Hanya saja keduanya koma hingga saat ini.."
Deg!
"Apa? Koma bang?!" seru Zee dengan suara naik satu oktaf karena terkejut.
Zidan mengangguk dengan senyum sendunya. "Semua itu karena mereka ingin menyelamatkan kita malah mereka berdua yang mendapatkan masalahnya. Dan lagi.. Hah.." bibir Zidan bergetar dan itu terlihat jelas oleh Zee.
"Apa bang? Jangan bilang kalau keduanya belum tentu kapan akan bangkitnya?" terka Zee yang dijawab anggukan kepala oleh Zidan.
Bahkan saat ini air mata itu mengalir di kedua pipinya. "Ya allah.. Terus bang?" tanya Zee lagi pada Zidan yang kini semakin tersedu melihat mata Zee juga berkaca-kaca.
"Anak mereka berdua keguguran sayang.."
Ddduuuaaarr!!
Bruuk.
Ponsel di tangan Zee seketika jatuh ke lantai. Tubuh Zee mematung seketika. Putri pun terkejut dengan ucapan Zidan baru saja.
__ADS_1
Zee menangis begitu pun dengan Zidan disana. Mama Rani memeluknya dengan erat. Begitu juga dengan papa Reza.
Kabar yang baru saja mereka terima membuat Bunda Zizi pun ikut pingsan dan belum sadarkan hingga saat ini.