Ikatan Takdir

Ikatan Takdir
Makan malam Romantis


__ADS_3

Damar masih saja mematung di depan pintu kamar yang tertutup rapat itu. Masih terdengar jelas suara Zinanti yang kesal dan begitu marah saat ini.


"Kenapa Zianti akan ke Bali? Bukannya ke Singapura? Bukankah Zalimar dan Revan kembali ke Singapura? Ada apa ini? Ada apa dengan Zianti? Aku merasa ada hal yang istriku sembunyikan saat ini, tapi apa? Sudah dari semalam ia bersifat demikian. Tidak! Ini tidak bisa di biarkan! Jika Zianti menyusul kemana pun Zalimar pergi, pastilah ada sesuatu yang sudah terjadi di antara keduanya. Aku harus mengikuti Zianti nanti!" Gumamnya segera berlalu meninggalkan pintu kamar yang orang di dalamnya itu sudah kembali tenang.


Zafran tersenyum smirk melihat abang iparnya berlalu melewati dirinya dengan tergesa. Zafran segera mengambil ponselnya dan menghubungi Revan yang kini sudah tiba di Bali dan sedang sarapan bersama dengan Zalimar dan kedua orangtua angkatnya.


"Target masuk perangkap, Bang!" ucapnya buka suara setelah mengucapkan salam.


"Bagus! Kamu bawa semua keluarga kesini. Tapi, ingat. Jangan satukan dengan resort yang saat ini kami tempati. Kamu paham 'kan?" balas Revan yang diangguki oleh Zafran.


"Good Boy! Cepat kerjakan! Biarkan dua malam ini kami bersenang-senang dulu," imbuhnya sambil tertawa karena lengannya di tepuk kuat oleh Zalimar.


Dad Kendrick dan mom Stefany tersenyum saja. Melihat Revan tertawa, ada kebahagiaan tersendiri untuk kedua bule itu. Walau mereka tidak tahu arti ucapan Revan baru saja, keduanya tetap mengerti arti dari tawa yang Revan keluarkan saat ini.


"Siapa?" tanya Dad Kendrick setelah Revan menutup sambungan pada ponselnya.


"Zafran, adiknya Zalimar. Katanya, musuh kita sedang mengamuk di sana. Sebentar lagi, kita akan kedatangan tamu. Jadi, bersiaplah!" jawabnya yang diangguki oleh Dad Kendrick dan mom Stefany.


"Musuh? Siapa musuh kita, Bang? Apakah mereka akan kemari? Siapa?" tanya Zalimar sedikit cemas.


Revan terkekeh. "Kamu akan tahu ketika dia datang kesini. Bukan hari ini ataupun besok. Lusa dia baru hadir setelah kita berdua menyatu," bisiknya di telinga zalimar yang kini melotot kesal padanya.

__ADS_1


Zalimar menimpuk dada Revan berulangkali yang membuat Revan semakin kuat tertawa. Tak ada kedua orangtua angkatnya lagi di sana. Keduanya sudah menghilang sedari tadi. Keduanya tidak ingin mengganggu pengantin baru itu.


Keduanya sibuk bercanda bersama sebelum nanti malam Revan sudah menyiapkan kejutan romantis untuk istrinya.


Zalimar begitu bahagia bersuamikan Revan begitu pun sebaliknya.


Malam harinya.


Selepas sholat maghrib, kedua pasangan pengantin baru itu segera menuju ke pantai. Keduanya berjalan beriringan dengan Revan sedang menuntun Zalimar yang kini matanya tertutup kain.


Revan terkekeh mendengar gerutuan Zalimar padanya.


"Ini mau kemana Abang? Sedari tadi aku tanyain, loh? Ishh.. Mana mata di tutup segala lagi! Nggak kelihatan jalannya Abang!" ucapnya Zalimar bersungut-sungut.


"Isshh..." desis Zalimar terus saja melangkah mengikuti Revan yang kini membawanya entah kemana.


Hembusan angin pantai mengibarkan hijabnya. Zalimar tersenyum ketika memikirkan jika tebakannya ini benar adanya.


"Kita.. Di tepi pantai?" tanya Zalimar yang membuat Revan tersenyum dan mengangguk.


Tangan kekar itu membuka penutup mata Zalimar. Ia membawa istrinya itu duduk pada kursi yang tersedia. Zalimar ikut saja. Sebab matanya masih buram dan kepalanya sedikit pusing.

__ADS_1


Revan terkekeh kecil melihat istrinya itu. Ia meniup kedua matanya yang masih saja mengerjab-ngerjab lucu itu. Zalimar tersenyum senang ketika melihat dekorasi pantai begitu cantik saat ini.


"Ini.. Abang yang siapkan?" tanya Zalimar pada Revan yang kini tersenyum lembut padanya.


"Terima kasih! Aku suka!" ucapnya bangkit dan menghadiahkan kecupan singkat di pipi Revan.


Pemuda itu mematung. Baru kali ini Revan mendapat kecupan dari istrinya. Biasanya, dia yang lebih dulu nyosor kayak soang. Seringkali membuat Zalimar kesal padanya.


Akan tetapi, kali ini Zalimar sendiri yang memulainya. Wajah pemuda tampan itu memerah. Zalimar tertawa senang. Revan tertunduk malu dengan bibir mengukir senyum .


Ia tak habis pikir dengan istrinya itu. Jika di serang, sering mengomel tidak jelas. Eh, ketika dianya tidak macam-macam, malah Zalimar yang macam-macam. Di luar pula.


Ck. Dasar Zalimar! Suka sekali membuatnya sport jantung. Revan membuka tutup saji yang sudah ada di meja. Mata Zalimar berbinar melihatnya.


"Lobster?" tanyanya yang diangguki oleh Revan.


Zalimar bertepuk tangan kegirangan. Revan terkekeh.


"Sesuai permintaan kamu. Abang sengaja mencari lobsternya sesuai ukuran yang kamu mau. Makannya mau pakai apa? Nasi?" jawab Revan sembari membuka tudung saji satu lagi yang sudah tersedia nasi dan juga makanan lainnya di sana.


"Nasi aja! Lebih nikmat! Eits! Tetap sepiring berdua!" katanya ketika melihat Revan akan mengambil piring satu lagi untuknya.

__ADS_1


Revan tertawa. Ia mengangguk setuju. Keduanya mulai makan dengan Revan mengambil daging lobster itu dan menyuapinya ke mulut Zalimar langsung dari tangannya.


Zalimar tersenyum senang di balik niqobnya. Revan pun demikian. Keduanya makan bersama dalam suasana yang begitu syahdu.


__ADS_2