Ikatan Takdir

Ikatan Takdir
Pengakuan Revan


__ADS_3

"Begitu Bang ceritanya. Eh, seingatku. Abang juga ada di sana, loh. Tapi, kenapa aku tidak melihat abang hingga aku sadar?" tanya Zalimar yang membuat Revan tersenyum dan memeluk tubuh ramping istrinya itu.


"Kamu mau mendengar pengakuan abang?" tanyanya.


"Tentang?" balas Zalimar membalas pelukan nyaman itu.


"Janji dulu. Kalau kamu tidak akan marah?" katanya yang membuat Zalimar mendongak melihat padanya.


Keduanya sudah berada di ranjang. Revan duduk menyender pada kepala ranjang dengan Zalimar berada di dalam pelukannya. Keduanya bertatapan.


"Kenapa harus berjanji? Apa yang akan abang katakan sebenarnya?" Tanya Zalimar menatap lekat suaminya itu.


"Tentang kamu, kejadian lima belas tahun yang lalu hingga saat ini!" Jawabnya yang membuat Zalimar semakin penasaran.


"Aku janji tidak akan marah. Sekiranya abang membahas wanita lain, aku akan menghajarmu! Jangan lupakan jika istrimu ini pemegang sabuk hitam tingkat nasional, ya!" ucapnya jumawa.


Revan tertawa. Zalimar terkekeh. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Revan. Revan tersenyum.


"Baiklah, jika itu yang kamu inginkan. Ehem, kejadian lima belas tahun lalu itu abang tahu. Abang saksinya ketika Zianti mendorong Damar dengan kuat hingga terjatuh. Kamu yang panik dan memilih turun tanpa menggunakan apapun. Abanglah saksi kunci dari semua kejadian itu. Abang, Sayang. Suamimu," ucapnya yang membuat Zalimar terkejut.


Revan tersenyum, ia sudah menebaknya jika Zalimar pasti akan terkejut.


"Tentang siapa yang mengirim, pean itu dan juga siapa dalangnya abang tahu. Tentang kamu siapa pemuda itu juga abang tahu," ceritanya yang membuat Zalimar semakin terkejut.


"Siapa pemuda itu Bang?" tanya Zalimar

__ADS_1


"Beneran ingin tahu? Kamu tidak akan marah sama abang nantinya?"


Zalimar mengangguk mantap. Revan menatap lekat istrinya. "Abang orangnya!"


Duuaar!


Zalimar terhenyak mendengar ucapan Revan.


"A-abang? T-tapi, b-bagaimana bisa?!" serunya segera duduk dan menghadap pada Revan yang terkekeh lucu melihat kelakuan Zalimar.


Revan menangkup kedua pipi istrinya. "Yakin, masih mau mendengarnya?" tanyanya lagi untuk memastikan.


Zalimar mengangguk cepat.


"Nggak akan marah?" tanyanya penuh selidik. Walau ia sudah tahu akan reaksi Zalimar, tetap saja Revan bertanya.


"Kenapa begitu?" Revan tertawa.


Zalimar berdecak. "Katakan dulu abang! baru setelahnya aku akan mengatakan apa yang aku rasakan waktu itu!" Katanya yang diangguki oleh Revan.


"Abang sengaja mengikutimu ketika seseorang menyuruhmu untuk masuk ke kamar kosong itu. Abang yang penasaran kemana kamu pergi pun sengaja mengikutimu tanpa mengatakan pada siapa pun. Firasat abang buruk ketika itu. Dan benar saja. Kamu hampir dilecehkan jika saja abang terlambat."


Zalimar menutup mulutnya. "Abang memukul pemuda itu hingga ia pimngsan. Abang mengikatnya dengan seprei yang ada di kamar itu. Abang malu melihat tubuhmu yang terbuka separuhnya. Abang segera mengambil pakaianmu dan menggenakannya kembali. Ketika itu kamu mengigau memanggil abang," ceritanya yang membuat Zalimar teringat sesuatu.


"Benar! Aku ingat. Waktu aku masuk ke kamar itu, ada seoerang perempuan memberikan aku minuman yang katanya diberikan oleh Damar. Tanpa curiga, aku meminumnya hingga aku mengalami pusing dan terjatuh di ranjang. Ketika aku hampir pingsan, aku melihatmu dihadapanku. Berarti benar, dong, dugaanku!" katanya dengan mata menyipit tajam pada Revan.

__ADS_1


"Apa?" Revan terkekeh.


Bukannya menjawab, Zalimar malah menimpuk suaminya itu dengan bantal bertubi-tubi yang membuat Revan tertawa terbahak melihat wajah malu Zalimar padanya.


Zalimar yang kesal semakin kuat memukuli suaminya itu dengan segala ucapan tak baik untuk suaminya yang ditanggapi dengan tertawa oleh Revan.


Di depan pintu kamar keduanya, papa Kenan dan mama Bella terkekeh mendengar suara lengkingan Zalimar dan juga suara tertawa Revan. keduanya berniat ingin berbicara pada zalimar. Akan tetapi, karena mendengar keduanya sedang perang bantal, keduanya terkekeh bersama dan berlalu mneninggalkan kamar keduanya. Mereka memilih bergabung dengan ummi Zee di belakang sana.


Revan menangkap kedua tangan istrinya dan memeluk tubuh ramping itu. Terdengar isakan lirih di telinganya yang membuat pemuda itu tersenyum dan mengusap lembut surai hitam milik istrinya.


"Sudah. Tak usah menangis. Yang melihat tubuhmu itu suamimu. Bukan pemuda itu. Dia tidak sempat melihat tubuhmu karena ia sudah lebih dulu abang tendang ketika ia akan membuka seluruh bajumu. Benar, bajumu terbuka. Akan tetapi, ia tidak sempat melihatnya. Karena ia terjungkal dengan bajumu ia tarik sekalian. Abang sempat melotot melihat tubuhmu terbuka. Dengan segera abang menendangnya hingga ia terjungkal dan jatuh pingsan. Jadi, abanglah yang melihat tubuhmu. Walau dulu kamu masih kecil, buah melon milikmu lumayan berisi. Kencang dan padat!" celetuknya sambil tertawa karena Zalimar kembali memukulinya dengan bantal karena malu akan ucapan suaminya itu.


"Sudah. Belum selesai yang abang katakan!" katanya kembali menangkap tubuh Zalimar. Ia mengecup kening itu dengan lembut yang membuat Zalimar terdiam di dalam pelukannya.


"Abang sengaja tidak mengatakan hal itu pada semua orang karena itu aib untukmu. Abang sengaja menutupinya. Akan tetapi, abang tidak tahu jika ada seseorang yang memotret tubuhmu ketika abang memakaikan baju. Yang Zianti Terima itu adalah penggalan ketika abang memakaikan baju di tubuhmu. Ia pikir itu siapa."


"Selama ini, mereka mengabaikan dan meninggalkan dirimu, tetapi tidak dengan abang. Abang selalu ada untukmu. Apapun yang kamu butuhkan, abang sediakan. Abang rela bekerja siang dan malam agar kamu bisa menempuh pendidikan walau abi danummi tidak memberikan uang mereka untuk mencukupimu. Uang jajan yang papa kirimkan itu adalah uang abang untukmu. Sengaja melalui papa agar kamu tidak marah sama abang."


"Dengar, Sayang. Kamu tidak sendiri di dunia ini. Ada abang bersamamu. Biarkan mereka dengan pemikiran mereka yang mengatakan kamu berzina. Itu tidak benar. Abang sengaja diam karena menunggu waktu yang tepat untuk membuka semuanya. Akan ada waktunya semua keluarga kita tahu dan juga keluarga Damar tahu jika Ziantilah pelakunya. Akan tetapi, abang tidak bisa merusak hubungan suami istri itu!" Ujarnya yang membuat Zalimar mengangguk setuju.


"Biarkan saja mereka hidup dalam kebohongan Bang. Aku lebih memilih meninggalkan mereka dan menjauh dari mereka semuanya termasuk abi dan ummi. Aku terlalu kecewa dengan mereka berdua. Bawa aku kemana pun abang pergi. Dengan itu, aku bisa melupakan semuanya. Aku bersyukur karena lelaki itu adalah kamu. Karena waktu aku pusing, aku hanya mengingatmu. Bukan Damar," ucap Zalimar yang diangguki riang oleh Revan.


"Terima kasih karena kamu menerima cinta abang, Sayang. Itu artinya, cintaku tidak bertepuk sebelah tangan!" Katanya pada Zalimar yang tertawa mendengar ucapan suaminya itu.


"Ya, cintamu tidak akan bertepuk sebelah tangan karena aku juga mencintaimu. Terima kasih karena sudah berkorban begitu banyak demi hidupku. Aku akan patuh dan taat padamu hingga Allah menghadiahkan surga untukku!"

__ADS_1


"Amiin," ucap Revan menimpali ucapan Zalimar.


Keduanya berpelukan bersama. Zalimar tidak menyangka, jika pemuda yang sudah melihat tubuhnya adalah suaminya sendiri. Ia sangat bersyukur akan hal itu. Sekiranya itu orang lain, maka ia pasti akan merasa sangat bersalah karena tubuhnya sudah terlihat oleh pemuda lain.


__ADS_2