Ikatan Takdir

Ikatan Takdir
Sedikit mengingatnya


__ADS_3

Sementara itu di tempat lain, Zalimar sedang merenungi nasibnya yang entah akan berlabuh kemana. Teringat akan perjalanan keduanya dulu ketika pulang sekolah.


"Dek?"


"Hem, apa? Abang haus? Aku tak punya minum. Botolku kosong!" jawabnya sambil menunjukkan botol miliknya yang kosong karena minumamnya bekal dari rumah sudah habis.


Pemuda remaja itu terkekeh. Zalimar menatap bingung padanya.


"Kalau kita sudah dewasa nanti, apakah kamu mau menjadi istiku?"


Zalimar spontan saja menghentikan langkah kakinya. Ia menatap lekap pada pemuda yang kini menatap lekat juga padanya.


"Kenapa abang bertanya demikian? Bukankah abang tahu kalau aku ini memang calon istrimu? Sudah sepantasnya 'kan kalau aku menikah denganmu ketika kita dewasa nanti?" Zalimar membalas balik bertanya pada pemuda itu.


Pemuda tampan bermata gak kebiruan itu terkekeh. "Iya, sih. Abang hanya memastikannya saja. Seandainya kamu lupa, maka kamu harus mengingat perjalanan kita hari ini. Kamu dan aku, akan bersatu di masa depan kelak. Apapun yang akan terjadi, kamu akan menikah denganku! Bukan dengan pemuda lain ataupun adikku!" katanya yang membuat Zalimar tergelak seketika.

__ADS_1


"Kenapa kamu ngomong begitu? Kamu cemburu pada adikmu? Zahdan masih kelas satu SMP, loh. Kita ini kan sudah kelas tiga? Sebentar lagi lanjut ke SMA. Ngacok kamu!" seloroh Zalimar tergelak lagi sambil berlari meledek pemuda itu yang juga ikut berlari mengejarnya.


"Awas kamu, Dek!" teriaknya mengejar Zalimar hingga sampai di rumah mereka.


Zalimar terhenyak ketika air mata menjatuhi kedua tangannya yang berpangku di pangkuannya. Zalimar tersenyum kecut mengingat kejadian masa lalu itu.


"Bukan aku yang melupakannya, tetapi kamu!" ucapnya sambil bangkit menuju ke kursi kerjanya. "Kamu yang melupakan semua janji kita hanya karena marah padaku. Seandainya kamu bertanya dulu, semua ini pasti tidak akan terjadi. Kamu menuduhku karena terhasut oleh ucapannya. Tak apa. Semoga kamu sadar. Suatu saat nanti, kamu akan tahu kebenarannya. Akan tetapi, saat kamu mengetahuinya, sudah terlambat bagimu untuk bisa bersama kembali denganku!" ucapnya menatap lekat pada dinding ruangan serba putih dan tercium bau disenfektan yang begitu menyengat.


Sementara itu di dalam ruangan lain, pemuda yang masih pingsan itu belumlah sadarkan diri. Kedua orangtuanya begitu mengkhawatirkan dirinya saat ini.


"Akh!" teriaknya yang membuat semua orang spontan menoleh dan berlari mendekati dirinya.


"Damar!"


"Nak!" seru mereka serempak.

__ADS_1


Pemuda itu masih berusaha menormalkan detak jantung dan juga denyutan ngilu serta sekelabat bayangan yang tidak begitu jelas terlihat. Buram dan abu-abu. Tidak jelas terlihat siapa wanita yang saat ini tertawa sambil berlari dan menoleh padanya.


"Kenapa? Ada apa? Kepala kamu sakit lagi? Biasanya nggak kambuh lagi, loh!" ucap bunda Putri sangat mencemaskan keadaan putra sulungnya itu.


Ayah Jerry menatap lekat putranya itu. "Apakah ini sering terjadi Damar? Jangan bilang, saat kamu menabrak kedua calon mertuamu jika kamu dalam keadaan sakit kepala?" terkanya yang membuat Damar mendongak seketika.


Keduanya bertatapan. Damar menelan ludahnya getir. Mata itu berkaca-kaca. Ia menunduk.


"Sudah berapa lama kamu mengalaminya?" tanya Ayah Jerry yang tahu akan keadaan putra sulungnya itu.


"Dua tahun yang lalu aku sudah sering mengalami ini, Yah. Nggak tahu kenapa, bayangan itu selalu muncul ketika aku sedang memikirkan Zianti! Bayangan itu muncul seketika dan membuat kepalaku berdenyut sakit. Satu bulan ini lebih sering. Makanya ketika aku menbrak Abi dan Ummi kemarin, aku tidak sadarkan. Pada saat aku mengendarai mobilku, bayangan klise itu kembali muncul. Bayangan di mana aku terjatuh hingga terperosok ke dalam jurang. Ada dua orang gadis yang berteriak ketakutan kala melihatku terjatuh. Tapi, tapi, aku tidak tahu keduanya siapa! Akhht!" teriaknya lagi karena kembali merasakan sakit.


"Sudah, cukup! Jangan dipaksakan! Kamu bisa mati jika memaksa mengingatnya!" ucap Ayah Jerry yang membuat Damar menatap padanya.


Air matanya itu mengalir seketika. "Aku ingin tahu siapa dia, Yah. Makanya aku berusaha terus untuk mengingatnya. Sebab, gadis itu terus hadir di dalam mimpiku dengan raut wajah yang begitu sendu. Ia pun memilih pergi dan meninggalkanku dengan orang yang tidak aku inginkan," lirihnya dada yang semakin sesak.

__ADS_1


Bunda Putri segera memeluk putra sulungnya itu. Ayah Jerry menghela napasnya. Inilah yang ia takutkan, makanya ia selalu berusaha menjauhkan Zalimar darinya. Akan tetapi, seolah takdir memiliki jalannya sendiri hingga membuat keduanya kembali bertemu dan Damar mengalami hal yang seperti ini lagi.


__ADS_2