Ikatan Takdir

Ikatan Takdir
Maybe


__ADS_3

Cekidot....


"Tolong Jelasin ke Gue maksud pernyataan lo yang tadi?" Tanya orang itu.


Membuat Cella menghelai nafas pelan, "Jelasin yang mana lagi si beb." Ucap Cella yang menarik lengan Rayn untuk duduk di sofa.


"Udah deh Cel." Ucap Rayn dengan nada gak suka ia pun  melepas pegangan Cella.


"Mau kamu apa si Ray?" Ucap Cella yang mengernyitkan dahinya.


"Mau aku kamu jelasin kenapa kamu gak mau evan tau hubungan kita?" Ucap Rayn.


"Ya it- Itu karena emm." Ucap Cella terputus karena ia binggung harus mulai dari mana.


"Kenapa gak bisa jawab, atau jangan-jangan kamu memang terpaksa jadian sama aku?" Ucap Rayn yang menduga-duga.


"Astaga Ray, aku gak terpaksa jadian sama kamu." Ucap Cella menerangkan.


"Terus kenapa huh!" Bentak Rayn.


"Karena aku gak mau dia ngusik hubungan kita." Jelas Cella.


"Ngusik gimana maksudnya?" Tanya Rayn.


"Kamu kan tau Ray kalau Evan orangnya gimana? apa perlu di jelasin." Ucap Cella.


"Bener yang di bilang Cella Ray, Evan orangnya kayak gitu. Mending biar dia tau sendiri." Ucap Maria yang menambahi perkataan Cella.


"Terserah deh." Ucap Rayn akhirnya.


"Ya udah lah Ray lagian yang jalanin kalian berdua bukan kamu dan dia." Ucap Gio menyahuti.


"Iya iya. Ish kalian ini sukanya main keroyokan." Ucap Rayn yang pura-pura marah.


"Bodo." Ucap Maria terkekeh.


"Udah udah daripada lo lo pada ribut mending kita cari makan aja." Ucap Gio.


"Setuju." Pekik Maria ia pun segera berjalan menghampiri Gio.


"Oke." Jawab Cella dan Rayn bersamaan.


Hari-Hari yang mereka lalui membuat suasana hati Maria membaik, didalam hatinya ia selalu mengharapkan kasih sayang dari orang yang memang benar-benar mencintainya.


"Mar lo beneran mau pindah kuliah?" Tanya Cella sahabatnya saat mereka sedang persiapan pulang kejakarta. Setelah menghabiskan 1 minggu di pulau dewata bali.


"Ia." Jawab Maria singkat.


"Tapi mar-" Ucapan Cella Terputus.


"Gue yakin cel ini adalah pilihan terbaik." Ucap Maria pelan.


"Tapi Maria sayang Korea itu jauh banget." Ucap Cella dengan memikirkan jarak indonesia ke korea.


"Semakin jauh malah semakin bagus gue mau buang kenangan antara gue dan dia." Ucap Maria, yang membuat Cella langsung berpikir kalau kepergiannya berkaitan dengan Ammar.


"Ya udah deh. Kalau lo yakin sama pilihan lo gue terima lo pergi, asal lo jangan lupain gue ya." Ucap Cella lalu memeluk Maria erat.


Kepindahan Maria ke korea bukanlah tak beralasan namun ia mendapat kabar kalau Neneknya menginginkan Maria tinggal bersamanya. Nenek yang selalu Maria sayang sekarang sedang Jatuh sakit sehingga Ia pun menuruti permintaan sang Nenek.


****


Setibanya di jakarta Verrel tengah duduk bersama dengan Joan di ruang tengah. 


"Mamah Kakak." Ucap Maria saat masuk kedalam rumah mereka.


"Ia dek." Jawab Verrel yang menatap adiknya lalu kembali lagi dengan kesibukannya.


"Iya sayangnya mamas. Duh pasti capek banget ya." Ucap Joam yang menatap anaknya.


"Banget mah." Jawab Maria.


"Kalau gitu kamu Mandi dulu. Nanti kita ngobrol-ngobrol" Ucap Joan yang menghampiri anaknya.


Maria pun mengangguk ia pun segera masuk kedalam kamarnya, ia meletakan pakaian kotornya dalam ranjang. Setelah membereskan barang-barangnya ia pun langsung mandi untuk menyegarkan pikiran dan tubuhnya.


Dengan langkah pelan Maria keluar kamarnya menuju ruangan dimana kakak dan mamanya masih sibuk dengan kegiatannya masing-masing.


"Mah" Panggil Maria kepada Joan.

__ADS_1


Joan pun menoleh lalu tersenyum pada putri bungsunya itu. "Duh yang bentar lagi ketempat Halmeoni" Goda Joan.


"Ih mama mah gitu. Mama ikut ya?" Ajak Maria yang bersikap manja kepada mamanya.


"Gak... Pokoknya mama disini temenin gue." Ucap Verrel yang menyahuti ucapan adiknya.


"Kakak apaan si, gue gak tanya lo gue tanya nyokap." Balas Maria.


"Bodok amat." Ucap Verrel kekeh.


"Udah udah kenapa malah kalian berantem si." Lerai Joan.


"Habis tuh si kakak ngeselin mah." Ucap Maria yang menekukkan wajahnya.


"Udah jangan cemberut, Mama akan temenin kamu tapi mama disana gak lama habis itu mama balik ke indo. Buat jagain kakakmu biar kakakmu gak bawa cewek masuk." Ucap Joan yang sengaja mengoda anak bungsunya.


"Mama kapan aku pernah bawa cewek masuk?" Tanya Verrel langsung.


"Alah kemarin itu apaan kalau bukan cewek." Ucap Joan membuat Maria menyipitkan Matanya.


"Maksud mama?" Tanya Maria penasaran.


"Jadi kemarin itu-"


"Mama apaan si udah deh." Ucap Verrel menghentikan ucapan Joan.


"Dih gak sopan banget, mama belum selesai ngomong jangan di potong." Ucap Maria.


"Bodok amat. Mama jangan di bahas lagi." Ucap Verrel lalu meninggalkan mereka.


"Dih kakak kenapa si mah sensi amat." Ucap Maria.


"Kayak gak tau kakakmu aja dek." Ucap Joan.


"Emang ada apa si mah?" Tanya Maria yang sedikit penasaran.


"Gak ada apa-apa sayang, Eh iya mau bawa oleh-oleh apa buat Halmeoni?" Tanya Joan yang mengalihkan topik pembicaraan.


"Emm" Maria berpikir sejenak. "Terserah mamah aja lah kan mama lebih tau apa kesukaan Halmeoni." Jawab Maria.


"Iya udah." Jawab Joan.


****


Maria tengah berjalan santai di taman komplek perumahan tempatnya. Sore hari memang waktunya untuk bersantai apalagi ini Weekend jadi banyak ibu-ibu sedang berkumpul dengan keluarganya di taman.


Ada pula yang berlari-lari, Taman disini termasuk kawasan penghijauan jadi tempatnya pun sejuk dan adem buat menenangkan pikiran.


"Maria!" Teriak Gio yang memanggil Maria dari kejauhan. Maria pun menoleh ia mendapati Gio berlari kecil menuju arahnya.


"Apaan?" Tanya Maria pelan.


"Lo beneran mau ke korea?" Tanya Gio.


Maria pun mengangguk. "Kenapa?" Tanya Gio langsung.


"Gak papa, emang kenapa si kepo banget." Jawab Maria.


"Bukan kepo tapi aneh tau gak si lo, atau jangan-jangan gara-gara lo putus dari Ammar. Makanya lo ninggalin Indo." Ucap Gio.


"Ih Sok tau banget si lo." Ucap Maria yang mencubit lengan Gio.


"Ih.. Sakit gila." Ucap Gio yang mengelus lengannya.


"Bodok amat." Jawab Maria santai.


"Jadi ngapain lo ke Korea?" Tanya Gio kembali.


"Halmoeni sakit." Jawab Maria pelan.


"Sakit? Siapa?" Tanya Gio yang binggung.


"Lo ini, Halmoeni itu artinya Nenek." Ucap Maria sedikit kesal.


"Ups sorry gak tau lah gue." Ucap Gio lalu mengacak-acak rambut Maria.


"GIO!" Pekiknya.


"Udah ah ayo gue traktir makan." Ucap Gio lalu menarik lengan Maria.

__ADS_1


Mereka menaiki mobil Gio menuju kesebuah restoran yang bergaya klasik tersebut.


"Lo pesen Gue mau ke toilet dulu ya." Ucap Gio yang pamit pada Maria.


"Oke." Ucap Maria, Ia pun memesan makanan untuk dirinya dan Gio. Pelayan pun meninggalkan Maria setelah mencatat pesanannya.


"Ehem." Dehem seseorang di belakang Maria.


"Lo!" Maria sedikit terkejut dengan orang yang berada dibelakangnya.


"Gue mau ngomong sesuatu sama lo." Ucapnya pelan.


"Oke." Jawab Maria.


Orang itu pun duduk dihadapan Maria, "Pokoknya sebelum gue selesai bicara gue mau lo jangan potong ucapan gue." Ucapnya dengan wajah yang serius.


"Oke. Lo mau bilang apa?" Ucap Maria yang merasakan perasaan yang tidak enak.


"Gue minta maaf sama lo." Ucapnya.


"Minta maaf apa lagi Bel?" Tanya Maria pada Ibel.


"Gila... Mulai kapan ibel jadi dandan. Dia kan gak suka dandan kayak gini apa lagi feminim." Batin Maria yang memperhatikan Ibel.


"Karena hubungan lo dan Ammar sekarang jadi berakhir." Ucap Ibel.


"Maksud lo apaan?" Tanya Maria yang seakan tak mengerti.


"Lo tau kan kalau Ammar bertunangan?" Tanya Ibel.


"Iya" Jawab Maria pelan.


"Lo tau kan Bulan depan dia nikah?" Tanya Ibel.


"Nikah? Gue gak tau." Ucap Maria dengan wajah murungnya.


"Ada alasan kenapa Ammar segera menikah, dan gue harap lo mau ngelepas dia buat nikah sama tunangannya." Ucap Ibel.


"Heh! Gue udah ngelepas dari dulu saat dia ingkar janji sama gue, Saat dia bentak gue dan mutusin akhirin semuanya." Ucap Maria.


"Oke kalau lo memang bener-bener udah ngelepas dia, gue harap jangan ada permusuhan antara kalian." Ucap Ibel dengan tenang.


"Kalau itu gue gak tau." Jawabnya pelan.


"Ya udah kalau gitu gue pergi dulu, ini undangan pernikahan Ammar gue harap lo buka setelah gue pergi dan gue minta jangan pernah lo merasa benci dan kecewa. Karena Ammar pun gak bisa berbuat apa-apa. Gue harap lo dateng ke nikahannya Ammar." Ucap Ibel lalu menyodorkan Amplop Biru polos yang didalamnya berisi undangan pernikahan Ammar.


"Oke." Ucap Maria pelan.


Ibel pun pergi meninggalkan Maria, tak lama Gio datang menghampiri Maria.


"Ini apaan?" Tanya Gio.


"Undangan." Jawabnya.


"Undangan siapa?" Tanya Gio penasaran.


"Lo buka aja." Ucap Maria yang malas membuka amplop tersebut.


Gio pun membuka amplop itu, matanya membulat seketika melihat nama yang ada di amplop itu.


"Mar" Ucap Gio lalu memperlihatkan undangan tersebut.


Maria tak mampu berkata-kata wanita yang ia temui baru saja adalah mempelai wanita Ammar. Hatinya sangat sakit kenapa harus dengan Ibel. 


"Ck. Gue gak nyangka Ibel sama Ammar bakal nikah. Gue kira Ammar nikah sama orang lain." Ucap Gio yang melemparkan undangan tersebut kemeja.


Maria tak mampu menjawab hanya luka kepedihan dan setetes air mata yang keluar dari sudut matanya.


Membuat Gio langsung menarik Maria kedalam pelukannya, Hatinya merasakan piluh yang di rasakan Gadis itu.


"Sabar ya Mar." Ucap Gio yang menenangkan Maria.


"Hiks Hiks." Tangisan Maria pun akhirnya lolos juga. 


"Dia jahat Gi... Hiks... Gue benci mereka." Ucap Maria dalam sela-sela tangisannya


Semua orang pasti memiliki kesedihan masing-masing, apa yang kita lakukan terkadang belum tentu baik untuk diri kita sendiri.


TO BE CONTINUED

__ADS_1


__ADS_2