Ikatan Takdir

Ikatan Takdir
Zianti dan Damar


__ADS_3

Setelah Zalimar dan Revan masuk ke kamar dan tidak keluar lagi. Zianti dan Damar duduk termenung di ruang tamu bersama keluarga yang lain.


Pasangan suami istri itu menatap kosong pada ummi Zee yang sedang sibuk menyiapkan makan siang dan makan malam untuk Zalimar yang tidak ingin keluar sama sekali dari kamarnya.


Semua itu di sebabkan karena kehadiran mereka berdua. Damar memegang tangan Zianti dan mengajaknya untuk masuk ke kamar mereka. Di mana putra sulung mereka sudah terlelap terlebih dahulu.


"Sayang," panggilnya pada Zianti yang melamun memikirkan saudara kembarnya itu.


"Kayaknya, kakak marah banget, ya, sama aku?" ucapnya yang membuat Damar menghela napas panjang.


"Nggak gitu, Yang. Mungkin Zalimar sedang capek atau-,"


"Nggak. Aku tahu siapa kakakku, Bang. Dia wanita keras kepala dan tegas yang pernah aku temui. Ia begitu mirip dengan ummi Zee. Jika sudah berkata tidak, maka tidakkan ada yang merubah prinsipnya itu. Aku kenal baik siapa dia. Pastinya ia sangat dendam padaku?" ucapnya lagi yang membuat Damar segera memeluknya dengan erat.


"Jangan salahkan dirimu dalam hal ini. Semua ini sudah takdir. Walau dulunya aku dijodohkan dengannya, jika kami tidak berjodoh, kita bisa apa? Jauh sebelum kita terlahir, pasangan untuk kita itu sudah tertulis. Kamu memang untukku dan Zalimar untuk Bang Revan. Mereka berdua cocok, kok." Ujarnya dengan hati berdenyut ngilu saat mengatakan hal itu.


Damar tidak bisa berbohong dengan hatinya. Ada rasa sakit di hatinya terhadap Revan yang berani melaranganya untuk kembali pada Zalimar di saat dirinya sudah mengingat separuh dari ingatannya yang hilang.

__ADS_1


Zianti memejamkan kedua matanya ketika pelukan rasa aman dan nyaman itu bisa meruntuhkan rasa sesak di hatinya saat ini. Ia membalas pelukan itu.


"Terima kasih karena Abang masih mau melanjutkan pernikahan ini. Walau dulu pernah abang ceraikan, tapi kini bersatu kembali." Ucapnya begitu bahagia. Ia tersemnyum dan semakin erat memeluk tubuh tegap Damar yang kini menatap kosong pada dinding kamar mereka.


Ia memaksakan senyum. "Tentu saja. Apapun untukmu," ucapnya semakin erat memeluk tubuh Zianti. "Walau ku tahu hati ini sakit dna terluka. Aku terpaksa menerima semua ini. Bukan hanya karena kedua orangtua kita, tapi juga karena Bang Revan! Aku terpaksa menerima kamu karena desakannya, Zia. Maafkan aku!" lanjutnya hanya berani ia katakan di dalam hati.


Keduanya larut dalam rasa yang entah seperti apa. Jika Zianti begitu bahagia karena Damar tetap menjadi miliknya, maka lain halnya dengan Damar.


Pemuda tampan bertubuh tegap itu begitu merana saat ini. Ia sengaja berkamuflase dengan semua keluarganya dan istrinya karena Revan. Jika bukan karena desakan Revan, maka ia tidak akan permnah kembali kepada Zianti. Wanita yang ia tahu sudah mendorongnya hingga jatuh ke dalam jurang dan berhasil di selamatkan oleh Zalimar dengan bertaruh nyawa.


Hal yang baru Damar tahu, ternyata Zianti termakan hasutan mantan kekasihnya ketika ia kuliah dulu. Betapa terkejutnya Damar jika wanita yang bernama Tiara itulah yang menyebabkan kedua bersaudara itu sampai bertengkar karena memperebutkannya.


Zianti yang marah, mendorong Zalimar yang ternyata di selamatkan oleh Damar. Alhasil, Damarlah yang terjatuh ke dalam jurang tak berdasar itu hingga Zalimar yang tertuduh, padahal Ziantilah pelakunya.


Akan tetapi, istrinya itu berkelit dan mengatakan pada semua keluarga jika Zalimarlah yang mendorong Damar hingga pemuda itu terjatuh. Damar begitu shock saat tahu akan fakta itu. Ia menyesalinya.


Damar berencana ingin kembali pada Zalimar. Akan tetapi, Revan menemuinya dan mengatakan hal itu padanya yang membuatnya shock bukan main. Damar sempat mengurung diri selama satu bulan lamanya ketika menyadari, jika dirinya telah menjauhi Zalimar, cintanya dan memilih Zianti untuk ia labuhkan hatinya.

__ADS_1


Hati dan tubuh itu tak seiras. Ia mengucap kata cinta pada saudara Zalimar, tetapi hatinya hanya untuk wanita itu. Untuk menutupi semua rasa sakit dan luka itu, ia terpaksa rujuk kembali dengan Zianti yang diterima dengan baik oleh istrinya.


Damar tetap bersikap baik pada Zianti. Namun, ia tak bisa memberikan cinta seperti yang ia berikan selama ini untuknya. Damar baru sadar. Jikalau cinta itu khusus untuk saudara kembar Zianti. Ia terpaksa kembali pada wanita itu karena Revan mengatakan,


"Lupakan Zalimar. Sedari ia lahir, ia tercipta untukku. Bukan untukmu. Jodohmu adalah Zianti. Tidakkah kamu sadar ketika Zalimar mentah-mentah menolakmu? Zalimar seakan menjauh darimu walau ia tahu itu akan sakit. Zalimar memilih menolakmu daripada menerima perjodohan itu. Kenapa Zalimar menolak menikah denganmu jika bukan karena ikatan takdir kalian?"


"Ikatan takdir kalian itu sudahterputus sejak kamu sadar dari koma dan kamu membencinya. Kamu melabuhkan cinta dan harapanmu pada saudaranya. Kamu juga menjauhinya karena kedua orangtuamu menganggap jika Zalimarlah yang mendorongmu, padahal tidak. Istrimulah yang melakukannya! Sadar Damar! Dari semua itu, belum jelas juga untuk bisa kamu pahami?"


"Dari semua itu sudah terlihat jelas jika Zalimar bukanlah jodohmu. Orangtuamu, bahkan tidak menyetujui kamu menikah dengannya. Mereka terpaksa menerima karena sebuah janji yang sudah terucap tidak bisa di tolak lagi. Dan sekarang? Kamu sudah menikah dengan Zianti. Hiduplah bahagia dengannya. Kamu tidak berjodoh dengan Zalimar. Ikhlaskan dia untukku. Akulah yang tertulis di lauhul mahfudh untuk menjadi pasangannya." Ucap Revan waktu itu membuka mata Damar hingga pemuda itu mau tidak mau harus kembali ke rumah orangtuanya dan rujuk kembali dengan Zianti.


Damar menghela napas berat. Ia bangkit dari ranjang dan menuju ke balkon kamarnya. Matanya terpaku melihat di kamar sebelah ada pasangan pengantin baru yang sedang menikmati angin malam.


Damar memundurkan tubuhnya untuk melihat apa yang akan keduanya lakukan. Damar mengepalkan kedua tangannya ketika melihat pasangan itu. Bergetar tubuhnya. Mendidih darahnya ketika ia melihat Revan sedang menikmati wanita yang masih bertahta di hatinya hingga saat ini.


"Udah, ih! Malu," rengek Zalimar yang terdengar jelas oleh Damar yang kini bersembunyi di samping pintu kamarnya.


Revan terkekeh. "Kenapa harus malu, hem? Kamu itu istriku. Sudah sah jika aku menyentuhmu. Kita hanya butuh pengumuman besar saja untuk menujukkan pada dunia jika kamulah istri Revan Putra Alamsyah!" katanya sembari menggoda Zalimar yang tertawa karena kegelian.

__ADS_1


Damar mencengkram erat tangannya. Rahangnya mengetat. Ingin sekali ia menghajar Revan saat ini. Akan tetapi, ia sadar. Jika dirinya bukanlah siapa-siapa Zalimar. Hanya orang di masa lalu Zalimar yang sudah menorehkan luka di hati wanita itu. Wanita yang begitu ia cintai hingga saat ini.


__ADS_2