
Lagi dan lagi, abi Zidan tercenung memikirkan pemuda yang bernama Jack ini. Ia tidak habis pikir dengan pemuda itu. Kenapa ingin masuk Islam dan juga kenapa ia begitu mengenal Zahara, putri bungsunya?
Banyak pertanyaan-pertanyaan muncul di benaknya. Ia harus menanyakan hal ini pa pemuda yang bernama Jack ini. Niat hati ingin cepat pulang dan bertemu ketiga anaknya, malah beliau tersangkut di mesjid itu ketika salah satu pengurus mesjid menghubunginya bahwa ada seorang pemuda ingin masuk Islam yang langsung di bimbing olehnya.
Awalnya ingin menolak, takut ketiga anaknya itu gelisah menunggunya. Akan tetapi, ummi berkata padanya,
"Abi, bukankah jika kita ingin mendapat pahala banyak adalah ini salah satunya? Pemuda ini berniat baik, loh. Ia ingin masuk Islam dengan bantuan Abi. Tidakkah abi mendukungnya untuk bisa lebih dekat dengan Allah? Ingat, Bi! Semua yang terjadi, sudah kehendak-Nya! Kita tidak bisa menolak!" ucapnya yang diangguki oleh abi Zidan.
Keduanya segera menuju ke mesjid tersebut. Tibanya di sana, ia sempat terpaku melihat pemuda tampan kebulean itu. Pemuda itu, bahkan salim takzim padanya. Lalu, pada ummi Zee, ia menangkupkan kedua tangan di dada. Beliau kagum melihat pemuda yang ternyata adik angkat Revan. Besan angkatnya.
Belum puas dengan keterkejutan yang pemuda itu berikan padanya, beliau bertambah terkejut lagi ketika Jack mengenal Zahara. Pemuda itu begitu panik ketika melihat putri bungsunya itu pingsan.
Ia kagum pada pemuda ini. Baru sebentar melihat dan bertemu dengannya, abi Zidan langsung menyukainya. Sifatnya sama seperti Revan, keponakannya. Suami Zalimar.
"Dengar, Nak. Saya masih bingung dan terkejut dengan semua keadaan ini. Saya masih tidak tahu akan kamu. Sebab, kedua orang tua kamu tidak mengatakan jika mereka memiliki putra seumuran putriku. Jadi, bisakah kamu ceritakan sedikit, apa alasan hingga membawa kamu ke sini untuk bisa menjadi seorang mualaf? Bukannya di Amerika juga ada?" tanya abi Zidan yang diangguki oleh Jack.
Ia tersenyum, ummi Zee sampai berdehem melihat senyum teduh mirip suaminya itu. Pipinya mendadak merona ketika mengingat, bagaimana dulu abi Zidan pernah melakukan sesuatu yang membuat dada, hati dan pipinya menghangat.
Ummi Zee menggelengkan kepalanya. Ia kembali berusaha menyadarkan putrinya yang tak kunjung siuman.
"Saya datang ke sini memang dengan tujuan tertentu. Saya memilih masuk Islam yang dituntun langsung oleh Abi pun karena sesuatu. Sesuatu yang bisa membuat saya bahagia. Sesuatu yang sudah menjadi takdir saya. Sesuatu yang menuntunnya hingga datang ke mesjid ini," jawabnya sembari melirik Zahara yang masih terlelap.
Abi Zidan lagi dan lagi terkejut mendengarnya. "Apakah..?" tanyanya yang membuat Jack tersenyum dan mengangguk padanya,
"Hah?" abi Zidan menganga.
__ADS_1
Jack terkekeh. "Tebakan Abi benar. Saya datang ke sini atas keinginan Kak Zalimar. Saya yang memintanya mencarikan jodoh yang sama sepertinya. Saya ingin mendapatkan istri sepertinya. Kakak bilang, ia punya. Dan itu Zahara. Saya belum pernah bertemu dengannya. Saya baru bertemu dengannya tadi malam dalam mimpi dan... Hari ini. Di dalam mesjid ini," ucapnya yang membuat kedua orang tua Zahara itu semakin terperangah.
"Abi," Jack menyadarkan kedua orang itu yang kini menganga menatap padanya.
"Abi, Ummi, jika diperbolehkan. Saya ingin mengkhitbah Zahara untuk menjadi istri saya. Saya butuh seseorang untuk mengajari saya lebih banyak tentang Islam. Saya butuh Zahara, Abi, dan Ummi untuk bisa menuntun saya mengenal Allah lebih dalam. Saya rela meninggalkan agama saya demi bisa menjemput hidayah di sini. Juga menjemput takdir saya bersama Zahara. Apakah.. Abi mengizinkannya? Jika diperbolehkan, hari ini juga saya akan menikahi Zahara untuk pelengkap ibadah saya!" ucapnya lugas dan tegas.
Abi Zidan mengatupkan bibirnya karena terlalu shock mendapat kabar dari pemuda itu. Pemuda yang baru saja masuk Islam dan belum lagi beliau bertanya tentang sholat atau segala macam sudah di todong dengan ucapan mematikan untuknya.
"Putriku? Di kihitbah?' gumam ummi Zee yang terdengar oleh abi Zidan dan Jack.
Ia mengangguk. "Benar Ummi. Inilah tujuanku ingin masuk Islam. Menyempurnakan ibadah. Aku ingin, di sela-sela aku menuntut agama islam lebih banyak, ada seseorang yang mendampingiku. Aku ingin mendapatkan pahala banyak Abi, Ummi. Untuk itu, tolong kabulkan permintaanku! Aku tidak akan meminta apapun pada kalian. Tapi, kalian harus ajarkan aku islam dan nikahkan aku dengan putri kalian." ucapnya lagi masih membut abi Zidan termangu.
Ia masih tertegun dengan ucapan pemuda itu. Ia sedikit ragu padanya. Jack tersenyum melihat keraguan di mata calon mertuanya itu.
"Jika Abi masih ragu, bagaimana kita ulang lagi untuk mengucapkan kalimat tauhidnya. Setelah itu, saya akan memimpin sholat untuk pertama kalinya di mesjid ini. Sekiranya saya bisa, apakah Abi akan menikahkan saya dengan Zahara?" lagi, ucapannya membungkam keraguan di hati abi Zidan. Beliau menghela napas panjang dan mengucap bismillah di dalam hati.
Pemuda itu mengangguk dan tersenyum. Ia kembali mengikuti abi Zidan yang mengulang syahadat pertanda dirinya masuk Islam. Setelahnya, ia berwudhu yang diperhatikan langsung oleh abi Zidan.
Tak lama, suara alunan merdu memecah cakrawala. Suara alunan merdu itu begitu mendayu hingga membuat semua orang terbuai akan suara lembut nan merdu itu.
Semuanya terpana mendengar suara seorang pemuda yang baru saja masuk Islam, tetapi bisa mengumandangkan adzan. Banyak orang-orang sekitar datang untuk melihatnya, siapakah pemuda itu? Pemuda yang sudah berhasil meluluh lantakkan jiwa manusia yang membeku ketika suara adzan berkumandang.
Banyak sekali yang ikut sholat ashar di mesjid itu. Jack sendiri yang memimpin sholat ashar hingga selesai. Cukup lama mereka mengikuti alur sholat Jack yang begitu khusyuk.
Jack tersenyum ketika usai sholat dan berdoa. Ia langsung mengulurkan tangannya pada abi Zidan yang segera pria itu memeluknya erat. Jack tersenyum haru.
__ADS_1
"Apakah itu artinya... Saya di terima?" tanya Jack di sela-sela ucapan riuh para jamaah di mesjid itu.
Abi Zidan menganggukkan kepalanya. "Sore ini juga, abi akan menikahkan kamu dengan Zahara, putri bungsuku! Kita persipkan segalanya!" ucapnya yang diangguki oleh Jack.
Acara nikahan dadakan itu pun terjadi. Selepas ashar, acara nikahan dadakan itu pun terjadi.
"Saya terima nikah dan kawinnya Zahara Rahayu Putri Zidan binti Zidan Putra Ar Reza untuk saya, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan berlian 26 karat di bayar tunai!"
Suara lantang itu bergaung di seluruh mesjid dan penjuru komplek itu. Abi Zidan segera memeluk menantu bungsunya itu. Ummi Zee pun demikian.
Mereka begitu bahagia karena Jack bisa meluluhkan hati keduanya hingga Zahara menikah dengannya. Sementara itu, Zahara belum sadarkan diri.
Jack mendekatinya bersama Ummi Zee. Jack memegang ubun-ubunnya dan membacakan doa untuknya. Lagi, kedua paruh baya itu terharu melihatnya.
Jack membungkuk sedikit dan berbisik lirih di telinga Zahara yang masih terlelap.
"Zaujati, bangun. Kangmas merindukanmu,"
Deg!
Deg!
Spontan saja mata Zahara terbuka. Tatapan keduanya bertemu. Jack tersenyum, ia mengecup kening Zahara untuk pertama kalinya. Zahara terpejam merasakan sentuhan seorang laki-laki untuk pertama kali di seumur hidupnya.
Masih mau lagi? Komen wey! Othor capek nih ngetiknya, kalian mah, kagak ada yang mau komen?!
__ADS_1
Hehhehe.. Maaf banyak typo! 🙏