Ikatan Takdir

Ikatan Takdir
Silent


__ADS_3

Cekidot


"Will You Merry me." Ucap Chandra yang berdiri didepan gadis yang berada disebelah Maria.


Gadis cantik yang mengenakan dress dengan warna senada yang di pakai oleh Chandra. Terpancar wajah penuh cinta diantara keduanya.


"Yes I will." Jawab Gadis itu lalu memeluk erat Chandra.


"Oh... Thanks." Ucap Chandra yang membalas pelukan gadis itu.


"Kak Mila!" Pekik Tasya lalu memeluk gadis yang di lamar oleh Chandra membuat pelukan Chandra dan mila terlepas.


"Hai beby." Sapa balik Mila lalu membalas pelukan Tasya.


"Ckckck Lo nih dek ganggu aja." Tawa Chandra yang hanya dibalas plototan mau dari Tasya.


"Btw kakak kapan disini?" Tanya Tasya antusias setelah melepas pelukannya.


"Barusan kok." Jawabnya pelan.


"Kok Kakak gak bilang si kalau mau lamar kak mila. Katanya kemarin putus. Bohong banget si." Ucap Tasya yang menyilangkan tangannya didada.


"Kita kemarin memang sempet putus sayang." Ucap Chandra lalu mengacak-acak rambut Tasya.


"Kakak loh." Ucapnya kesal karena rambutnya berantakan.


Maria yang merasa kebersamaan kakak beradik itu yang sangat hangat pun merasa terharu ia sekarang sangat merindukan kakaknya yang super bawel, tengil dan cerewet itu.


"Ngelamun aja si." Senggol Gio pada Maria.


"Apaan si." Ucap Maria ia hanya mendengus kesal.


"Gak papa, Dansa yuk." Ajak Gio yang mengulurkan tangannya.


Maria mengernyitkan dahinya, ia tak bisa dansa dan disini gak ada musik dansanya mana bisa Gio mengajaknya berdansa.


"Ayo." Ajak Gio lalu menarik Maria lebih dekat lagi tanpa permisi dulu.


"Eh" Ucap Maria terkejut.


Namun tiba-tiba alunan musik melow pun terdengar lagu yang sangat cocok untuk berdansa.


"Gue gak bisa loh." Ucap Maria dengan wajah cemberut.


"Gue ajarin lo tinggal ikutin." Ucap Gio lalu membimbing Maria.


Hampir semua tamu yang datang berdansa, acaranya sangat sederhana namun lamaran tadi mampu membuat wanita manapun pasti akan terpesona.


****


Tempat ini adalah tempat yang dirindukan oleh Maria, ia baru saja tiba dirumah setelah beberapa hari mereka membuat acara di puncak.


"Emmmm..." Erang Maria saat ia membolak-balikkan badannya di ranjang.


Tok tok tok...


"Ya?" Jawab Maria saat medengar ketekukan pintu kamarnya.


"Dek ada Ammar tuh di bawah." Ucap Verrel memberitahu Maria saat ia membuka pintu.


"Huh!" Pekiknya terkejut.


"Biasa aja kali, udah sono turun." Ucap Verrel lalu menarik adiknya untuk keluar kamar.


Dengan malas dia keluar kamar dan menuju ruang tamu dimana Ammar berada. Maria pun duduk didepan Ammar dengan wajah malesnya.


"Beb" Panggilnya pelan.


"Hmm." Gumam Maria yang males menjawabnya.


Ia sangat kesal karena Ammar tidak bisa di hubungi dari kepergiannya mengantar Ibel dan itu membuatnya sedih sekaligus kecewa.


"Beb aku bener-bener minta maaf." Ucapnya dengan penuh penyesalan.


"Hmm." Gumam Maria yang males buat berdebat.


"Pliss beb, jadi kemarin it-" Ucapan Ammar terpotong.


"Gue gak butuh alesan atau penjelasan dari lo." Jawab Maria dengan nada sedikit meninggi ia pun mengatur nafasnya agar mulai tenang.

__ADS_1


"Beb pliss." Ucap Ammar memohon.


"Udah lah." Ucap Maria yang memalingkan wajahnya.


"Mau lo apa beb?" Tanya Ammar yang melihat Maria memalingkan wajahnya.


"Mau gue lo tepatin janji lo. Bukan menghilang tanpa kabar. Lo pikir gue gak khawatir huh! Mikir dong lo anggep gue ini apa?" Ucap Maria yang mulai terbawa emosi.


"Maaf beb kalau aku udah buat kamu kecewa dan gak bisa tepati janji kita." Ucap Ammar, ia pun berdiri tanpa pamit ia pergi meninggalkan Maria. Rasa kecewa yang ada di hati keduanya telah menumbuhkan jarak.


****


Sudah hampir 1 bulan berlalu hubungan Maria dengan Ammar tidak membaik, mereka sama-sama menghindar tak ada yang berbicara jika mereka tanpa sengaja berpapasan.


Hampa yang dirasakan Maria namun ia memilih diam baginya diam adalah hal terbaik yang dapat ia lakukan dari pada kita harus banyak berbicara untuk hal-hal yang tidak penting.


Maria sedang berjalan-jalan ke salah satu Mall terbesar di jakarta. Ia ditemani oleh sahabatnya Ochi dan Tasya yang saat ini dapat menemaninya.


"Gaes ke butik itu yuk." Ucap Tasya lalu menggeret Maria, Ochi pun otomatis ikut.


Mereka sedang asyik-asyiknya bercanda dan memilih pakaian namun mata Maria menangkap sosok yang tak asing.


"Bukannya itu ibunya Ammar." Gumam Maria namun dapat terdengar Tasya.


"Siapa Mar?" Tanyanya.


"Apanya?" Tanya Maria binggung.


"Itu tadi lo bilang bukannya itu ibunya siapa?" Tasya mengulangi pertanyaannya.


"Oh itu. Ibunya pacar gue." Jawab Maria pelan karena ia tak yakin ia masih menjadi kekasihnya amar atau bukan.


"Samperin gih." Perintah Ochi.


Tasya pun hanya mengangguk menyetujui ucapan Ochi. Maria menghelai nafas pelan ia pun segera menghampiri Ibunya Ammar. Sedangkan kedua sahabatnya melihat dari kejauhan. Mereka tau tentang pertikaian dan permasalahan diantara keduanya jadi ochi dan tasya hanya bisa menyemangati Maria.


Namun langkah Maria terhenti saat ada seseorang yang berjalan menghampiri ibunya Ammar dan dengan santainya mengandeng tangan Ibu itu. Sebuah senyum yang mengembang diantara keduanya membuat hati Maria merasakan sedikit nyeri.


Maria pun mulai berpikir sedikit ia tak mau larut dalam kesedihan dan keterlukaan, ia pun melanjutkan jalannya.


"Sore Tante." Sapa Maria pada Ibu Ammar.


"Sore." Jawab ibunya Ammar sangat singkat.


"Tan-" ucapan Maria dipotong oleh ibunya Ammar.


"Jangan pernah ganggu Ammar karena dia sudah bertunangan dengan wanita pilihan saya." Ucapnya langsung. Tanpa menunggu jawaban Maria ibunya Ammar langsung membawa wanita yang bersamanya tadi.


Wanita itu adalah Ibel, Ibel terkejut saat ibunya Ammar berkata seperti itu pada Maria. Wajah Ibel terlihat khawatir ia melihat Maria yang shock dengan ucapan ibu Ammar.


Hati Maria seketika seperti tersambar petir, hancur yang ia rasakan, kecewa entah perasaan apa yang sekarang ia rasakan yang pasti sekarang ia sangat hancur.


"Mar?" Panggil Tasya yang menghampiri Maria yang diam membisu.


Ochi dan Tasya membawa Maria dari butik tersebut karena sudah banyak yang melihat kejadian tadi. Mereka membawa Maria ketaman yang tak jauh dari mall tersebut.


"Mar lo jangan percaya ucapan ibunya Ammar bisa jadi dia cuma buat manas-manasin lo." Ucap Ochi menenangkan Maria.


"Gimana kalau lo hubungin Ammar duluan buat tanya kebenarnya. Lo kan berhak tau semuanya, kalau lo cuma menghindar kayak gini terus yang ada lo makin sakit." Ucap Tasya menasehati.


"Gue harus gimana hiks hiks." Maria menangis sesenggukan.


"Mar lo cewek yang kuat dan tegar, gue yakin lo bisa menghadapi ini. Bener kata Tasya lo harus temuin Ammar sekarang." Ucap Ochi menambahi.


"Ta-tapi kalau di-dia beneran tunangan gi-gimana?" Ucap Maria sedikit terbata-bata.


"Positif thinking oke." Jawab Tasya lalu memeluk erat Maria.


"Sekarang kita balik yuk." Ajak Ochi.


Maria pun mengangguk pelan, ia pun berdiri namun ponsel Ochi berbunyi ia pun pamit untuk mengangkatnya.


"Sya tolong anter Maria ya gue harus balik kerja." Pamit Ochi pada Maria dan Tasya.


"Oke. Hati-hati babe." Ucap Tasya, Maria yang mendengar pun mengangguk lemah.


Ochi pun pergi meninggalkan mereka, sekarang Tasya yanh akan mengantar Maria pulang kerumahnya.


****

__ADS_1


"Assalamualaikum." Ucap Maria yang sudah masuk kedalam rumahnya.


"Waalaikumsalam." Jawab seorang laki-laki dari dalam.


"Udah balik?" Tanyanya.


"Iya. Gue kekamar dulu." Jawab Maria pelan.


Tasya pun mengantar Maria kekamarnya terlihat ada seorang laki-laki yang mengamati mereka dari ruang tengah rumah itu.


"Itu siapa mar?" Tanya Tasya setelah duduk di kamar Maria.


"Siapa maksudnya?" Tanya Maria binggung.


"Itu yang tadi diruang tengah dia jawab salam lo." Ucap Tasya penasaran.


"Oh itu kakak gue, masak lo lupa si." Ucap Maria yang sekarang sedikit tenang.


"Masak si..." Ucap Tasya berpikir. "Tapi nih nya gue jelas lupa lah, lo gak inget terakhir gue kesini pas lulus SMP, kan lo tau gue jarang main kerumah lo." Ucap Tasya menjelaskan, Maria pun hanya mengangguk mengerti.


"Menurut lo gue harus gimana?" Tanya Maria pada Tasya, membuat Tasya berpikir sejenak.


"Lo harus samperin Ammar nanti gue minta gio buat bantu lo ketemu Ammar oke." Ucap Tasya dengan memegang bahu sahabatnya itu.


"Tapi kalau itu be-"


"Lo harus terima kenyataan itu Mar, mungkin ini yang terbaik buat lo, gue yakin itu." Ucap Tasya.


"Baiklah bantu gue pliss." Ucapnya memohon.


"Gue bakal bantuin lo, tunggu info dari gue ok." Ucap Tasya, yang dibalas anggukan oleh Maria.


"Ya udah gue balik ya." Pamit Tasya.


"Oke babe gue anter kedepan." Ucap Maria lalu berjalan bersama Tasya.


"Kak" Panggil Maria pada kakaknya.


"Apaan?" Jawab Verrel tanpa menatap adiknya ia malah sibuk dengan ponselnya.


"Ihh" Maria udah mulai kesal pun merebut ponsel verrel.


"Maria!" Pekik Verrel yang terkejut.


"Bodok" Jawabnya.


"Sini balikin." Ucap Verrel meminta pada adiknya.


"Gue balikin setelah lo anter Tasya titik gak pakai koma." Ucap Maria lalu lari kedalam kamarnya membawa ponsel Verrel.


"Woi balikin." Teriak Verrel pada adiknya.


Namun tak diindahkan oleh Maria, Verrel pun mendengus kesal ia pun menatap kearah Tasya. Ia mengamati Tasya dengan seksama, Tasya merasa diamati pun merasa risih ia pun memalingkan wajahnya agar tak melihat pandangan verrel.


Tasya memang tak begitu suka berdandan ia hanya akan berdandan jika moodnya sedang bagus. Tapi jika sedang jelek ia hanya mengenakan pakaian yang casual itu pun tanpa makeup.


"Buruan jalan." Ucap Verrel yang berjalan mendahului Tasya.


Tasya pun mengikutinya dari belakang, verrel pun menuju halaman depan rumahnya disana sudah terparkir cantik mobil miliknya.


"Naik" Ucap Verrel yang naik mendahului Tasya.


Tasya menghelai nafas pelan ia pun segera naik ke mobil verrel. "Alamat lo?" Tanya Verrel setelah tasya duduk di kursi penumpang. Tasya pun menjelaskan dimana rumahnya setelah itu hanya keheningan yang tercipta tak ada yang berbicara.


****


Disebuah cafe terlihat dua orang lelaki sedang berbincang-bincang, memang tidak ada obrolan yang serius diantara keduanya hanya terdengar tawa kecil yang sesekali terdengar.


Maria yang melihat itu pun menghembuskan nafas pelan, ia pun memberanikan diri untuk melangkah menuju kedua laki-laki itu.


Salah satu lelaki itu melihat maria, ia pun memberi sebuah tanda anggukan setelah itu, laki-laki itu pamit kepada temannya sepertinya ia akan ketoilet dan itu adalah kesempatan buat maria untuk mengutarakan sesuatu.


"Permisi." Ucap Maria sangat pelan.


"Iy- Maria!" Ucap lelaki itu terkejut.


***Nah lo siapa dia...


ah pasti sudah ketebak kan dia siapa***.

__ADS_1


__ADS_2