
Damar menatap nanar pada ponsel milik WO di tangannya itu. Ia menoleh pada ayah Jerry yang kini menatap datar padanya. Ia juga melihat pada bunda Putri yang berusaha menuntun Zianti, istrinya untuk keluar dari ruangan itu.
Damar tertawa hambar dengan air mata merembes ke pipinya. Ia berbalik dan melihat ummi Zee yang kini memeluk abi Zidan yang baru saja sadar kembali.
Kakinya perlahan mendekat, tetapi sebuah suara menghentikan langkahnya untuk mendekati mereka.
"Pergi!"
Deg!
Damar menatap kosong pada kedua mertuanya.
"Pergi kataku!" teriak Ummi Zee begitu melengking di dalam ruangan itu.
Semua orang keluar dari ruangan itu. Mereka tidak berkata sepatah kata pun. Zafar mendekati abang iparnya itu. Ia menepuk pelan pundaknya.
__ADS_1
"Terima pernikahan ini. Bukankah ini yang Abang mau? Aku sudah memperingatkan Abang berulangkali. Buka mata, buka hati, buka pikiran! Dan kamu akan melihat siapa yang sebenarnya baik di sini! Sekarang, tak ada gunanya kamu menyesalinya. Kamu lebih memilih kakakku yang lain dan membuang cintamu sendiri? Kamu akan menyesal Bang. Apalagi pernikahan ini tidak direstui? Cinta? Ya, kamu begitu mencintai Zianti, kakakku yang lain tanpa mau melihat jika ada cinta yang asli tersakiti selama kamu menjalin hubungan dengan istrimu. Pergilah! Tempatmu bukan di sini lagi. Mungkin, hubungan kekerabatan kita cukup sampai di sini. Ingat, jika kamu menceraikan kakakku saat kamu tahu fakta yang sebenarnya, maka jangan pernah kembalikan dia pada kami! Kami tak akan pernah menerimanya! Cukup sudah selama ini kami bersabar dengan tingkah lakunya! Pergi! Kalau bisa, jangan pernah ceraikan istri tercintamu itu sampai kapan pun! Ku harap, penyesalan itu tidak datang belakangan bang Damar! Pintu keluar di belakangmu!" pungkas Zafar segera mendekati umminya dan memeluknya dengan erat.
Tubuh Damar limbung seketika. Ayah Jerry segera merangkul putranya dan membawanya keluar. Mereka berdua berjalan menuju pintu. Tetapi, belum lagi tangan ayah Jerry menekan handel pintu, suara Zafar kembali menginterupsi.
"Oh, iya, Yah. Setelah ini, kalian bukanlah bagian keluarga kami lagi. Kami memutuskan hubungan ini seperti permintaanmu dulu ketika bang Damar kecelakaan! Ayah lebih memilih putramu hidup, tapi akan mati di tanganmu sendiri! Ayah juga membiarkan wanita lain yang akan membunuh putramu sendiri dengan tangannya! Saya akan lihat. Apa yang akan kalian lakukan saat semuanya terungkap! Semoga.. Kalian berdua tidak mati serangan jantung karena sebuah fakta yang mungkin akan terungkap sebentar lagi! Pergi! Dan jangan pernah tunjukkan wajah kalian lagi dihadapan kami! Bagi kami, kalian itu tidak berarti apa-apa! Selamat tinggal dan semoga selamat!"
Jantung ayah Jerry dan Damar berdegup tidak karuan ketika ucapan itu menampar keduanya. Kedua pemuda beda generasi itu segera berlalu dari sana. Meninggalkan Zafar yang terisak kala ucapan Zalimar tadi sebelum pergi meninggaljkan tempat itu.
"Dek,"
Zalimar terkekeh, tapi sendu. Ia tersenyum dan mengusap air mata yang mengalir di pipi adiknya.
"Kamu tetap adikku! Sampai kapan pun. Pesan kakak, jaga kedua orangtua kita dan kakakmu. Jangan mengucilkannya karena masa lalu itu. Semua itu takdir, Dek. Kakak dengan Bang Damar tidak berjodoh. Ia jodohnya Zianti, saudara kembarku. Jangan membencinya da jangan pula mengusirnya! Ingat?"
Zafar melengos.
__ADS_1
"Dia kakakmu, Sayang. Bagaimanapun dia saudara kita. Kamu wajib melindunginya jika suatu saat terjadi hal buruk padanya, hem?"
Zafran mendengkus tak suka. Ia tidak menyukai ucapan Zalimar.
"Kenapa kakak begitu baik padanya? Kenapa kakak begitu sayang padanya, padahal karena dia, bang Damar meninggalkanmu!" ucapnya ketus yang ditanggapi dengan kekehan oleh Zalimar.
"Ingat pesan Kakak! Dia adikku. Sudah sewajarnya aku memberikan apa yang ia mau. walau harus mengorbankan hidupku sendiri. Percayalah. Jodoh itu sudah di atur. Allah sudah menyiapkan jodoh untuk kakak. Kakak yakin itu! Kakak pergi!" Zalimar mengecup dalam dahi adiknya tiga kali dan meninggalakn pemuda tampan yang begitu mirip dengan abi Zidan itu.
Zafran tersedu. Ia semakin erat memeluk umminya. Abi Zidan mengelus pundaknya.
"Ikhlaskan, Nak. Semua itu sudah ketetapan takdir. Kita sebagai manusia hanya bisa mengikutinya. Jangan dendam dan marah. Itu tidak baik," lirihnya dengan suara lemah.
Ummi Zee semakin tersedu. Abi Zidan memeluknya yang kini berada di dadanya. Zafran sesegukan. Walau ia seorang lelaki, ia tetap bisa menangis. Apalagi menyangkut Zalimar, kakak sulungnya. Kakak yang sama seperti umminya.
Lain halnya di dalam rumah sakit, lain juga di kediaman Ayah Jerry. Suasana begitu tegang karena Damar baru saja memutuskan sesuatu yang membuat semua orang terkejut bukan main.
__ADS_1
"Aku pergi! Jaga putri kalian dengan baik! Aku bukan suaminya lagi mulai detik ini! Jika aku tidak bisa membawa Zalimar kembali, maka sampai kapan pun, aku tidak akan pernah kembali kesini!" tukasnya datar tanpa ekspresi meninggalkan semua orang yang kini mematung melihat kepergiannya.