Ikatan Takdir

Ikatan Takdir
She


__ADS_3

"Maria!"


Maria yang merasa di panggil pun menoleh kearah sumber suara, Ia menyipitkan matanya mencerna siapa kah orang yang sedang berjalan kearahnya.


Seketika ia teringat dengan orang itu, dengan senyum mengembang maria melambaikan tangannya.


"Ochi" Pekik Maria saat sahabatnya itu mendekatinya.


Mereka pun berpelukan layaknya teletubis dalam serial televisi anak. Verrel hanya menyipitkan matanya ia tak mengenali sahabat adiknya ini, itu karena adiknya tak pernah menceritakan tentang kehidupannya. 


"ehem" dehem Verrel.


"Eh iya." Gumam Maria saat sadar ia bersama kakaknya.


"Chi kenalin ini kakak gue yang paling jelek." Ucap Maria sembari menyengir pada Verrel.


"Verrel." Ucap Verrel lalu mengulurkan tangan pada Ochi.


"Ochi" Jawab Ochi dengan membalas jabatan tangan Verrel.


Ochi Rosdiana adalah sahabat terbaik  Maria di SMA, mereka sudah berpisah kurang lebih 2 tahun setelah lulus. Ochi memilih bekerja di salah satu perusahaan swasta di yogyakarta. 


"Chi kita duduk disana dulu yuk." Ajak Maria lalu mengandeng tangan Ochi.


Verrel hanya mengikuti perintah adiknya itu, mereka duduk di bangku yang ada di kedai galeto tersebut. 


"Btw kapan lo balik dari jogja?" Tanya Maria sembari menyantap galeto miliknya.


"Mmm... Kira-kira kurang lebih hampir seminggu lah." Ucap Ochi.


"Dih gitu ya lo disini seminggu tapi lo gak mau main kerumah." Ucap Maria dengan pura-pura cemberut.


"Sorry deh, bukan gue gak mau kerumah lo, tapi gue aja baru keluar rumah ini hari." Ucap Ochi.


"Kok tumben baru keluar. Kenapa?" Tanya Maria memincingkan matanya.


"Nyokap sakit Mar, Jadi gue harus ngerawat nyokap gue lah." Ucap Ochi dengan tatapan sedihnya.


"What Nyokap lo sakit apa? terus gimana keadaannya." Ucap Maria dengan beruntun.


"Nyokap sakit kanker stadium 2 Mar." Ucap Ochi.


"Yang sabar ya sayang. Gue tau lo kuat kok. Maka dari itu lo balik ke jakarta ya." Ucap Maria dengan memeluk tubuh Ochi.


"Thanks beb." Ucap Ochi membalas pelukan Maria.


"Cewek ini terlihat kuat tapi sebenernya dia rapuh." Batin Verrel yang sedari tadi menatap Ochi.


"Jadi lo sekarang kerja dimana chi?" tanya Maria setelah melepas pelukannya.


"Masih belum tau mar, lo tau sendirilah susahnya cari kerja dengan ijasah SMA." Ucap Ochi dengan senyum terpaksanya.


"Sabar ya nanti gue bantu cariin kerjaan buat lo." Ucap Maria tulus ia sangat tak tega melihat sahabatnya itu.


"Thanks." Ucap Ochi.


"Sama-sama chi." Ucap Maria.


Mereka pun menyantap galeto yang mulai meleleh, Maria pun sesekali berkutik dengan ponselnya ia mendapat pesan dari Ammar kekasihnya, ia pun membalasnya sekali setelah itu ia fokus pada sahabatnya. Setelah selesai menyantap galeto mereka pun akan pulang. Namun Langkah Maria terhenti saat didepannya terlihat kekasihnya sedang berjalan kearahnya dengan tersenyum.


"Hai beb." Sapa Ammar saat melihat kekasihnya.


"Iyah." Ucap Maria yang menghampiri Ammar.


"Tunggu deh." Ucap Verrel yang memperhatikan adiknya itu.


"Apaan?" Ucap Maria dengan menatapnya penuh selidik begitu pula Ammar.


"Lo siapanya adik gue?" Tanya Verrel dengan penuh tanda tanya.


"Oh maaf kak, gue Ammar kekasihnya Maria." Jelas Ammar lalu mengulurkan tangannya pada verrel.


"Lo kekasih adik gue, oh.. gue Verrel." Ucap Verrel yang membalas jabatan tangan Ammar.

__ADS_1


"Boleh gue ajak Maria Jalan-jalan kak?" Tanya Ammar pada Verrel.


"Jangan panggil kakak panggil aja Verrel." Ucap Verrel menegaskan. " Dan lo boleh jalan sama adik gue asal jangan pulang larut malam." Ucap Verrel memperingatkan.


"Makasih kak, gue pergi dulu bye kak." Ucap Maria lalu menarik Ammar . Verrel hanya mengangguk samar namun masih terlihat anggukannya.


"So?" Tanya Ochi yang ditinggalkan oleh Maria.


"So... Kita juga balik, gue anter lo." Ucap Verrel lalu melangkah bersama dengan ochi menuju kearah parkiran.


Disisi lain Ammar tengah mengenggam erat tangan kekasihnya mereka kini berada di sebuah taman yang letaknya di tak jauh dari rumah Maria.


"Beb kok tadi ponsel kamu sempet mati?" Tanya Ammar saat mereka telah duduk di taman.


"Sorry beb tadi aku di kagetin kakak terus ponselku jatuh pecah deh. Tapi ini udah beli lagi kok ini." Ucap Maria sembari memperlihatkan ponsel barunya.


"Wihh ponsel baru traktiran donk." Goda Ammar.


"Ihhh.. Apaan si." Ucap Maria yang tersipu malu.


"Canda kok beb." Ucap Ammar.


"Kamu nih." Ucap Maria.


"Kamu nih apa hmm?" Tanya Ammar menggodanya.


"Ihhhh" Desih Maria yang sedikit gregetan.


"Kok Ihhh... Ihhh minta kiss ya?" Goda Ammar lagi, sukses membuat wajah Maria sangat malu ia pun langsung mencubit pinggang Ammar.


"Aaww! Ampun beb." Pekik Ammar yang merasakan sakit di pinggangnya.


"Makanya jangan godain mulu." Ucap Maria dengan memasang wajah cemberut.


"Iya iya duhai ayang bebebku." Ucap Ammar lalu memeluk kekasihnya dari samping.


"Btw gimana persiapan cafe Ibel?" Tanya Maria.


Setelah hampir 2 jam mereka saling bercerita, mereka pun segera pulang karena hari sudah mulai larut malam. Ammar mengantarkan Maria dengan selamat sampai dirumah.


Sudah tiga minggu berlalu, Maria kini tengah mempersiapkan pakaian karena ia akan berlibur bersama para sahabatnya. Mereka berlibur karena mereka sudah menyelesaikan ujian akhir semester.


Tin... Tin...


Maria yang mendengar suara mobil itupun segera keluar dari kamarnya dengan sedikit berlari. 


"Hati-hati sayang jangan lari-lari" Ucap Joan  yang melihat anaknya berlari.


"Sorry mah." Teriak Maria yang sudah keluar rumah.


Terdapat para sahabatnya tengah melambaikan tangannya didalam mobil, Ammar pun segera turun lalu mengantar Maria kedalam rumah untuk pamit pada Joanita.


"Tan saya pamit berangkat dulu." Ucap Ammar yang pamit pada joan.


"Hati-hati ya nak." Ucap Joan, para sahabat Maria turun dari mobil dan ikut pamit pada ibu Maria.


Terdapat Ibel, Gio, Evan, Cella, serta si super Cerewet Riska. Mereka bertujuh pun berangkat menggunakan mobil milik Ammar.


Mereka memang sudah berencana berlibur ke puncak tepatnya di kebun teh milik keluarga Abraham yang tak lain adalah keluarga gio. 


Tak terasa 4 jam perjalanan sudah mereka tempuh, banyak yang sudah tertidur pulas, hanya tersisa Maria yang masih terjaga untuk menemani Ammar menyetir.


"Beb tolong bangunin Gio dari sini terus kemana?" Ucap Ammar yang meminta tolong pada Maria.


Beruntung Gio berada di Belakang Maria tepat sehingga dengan mudah Maria mengoyang-goyangkan tubuh gio agar terbangun. 


"Bangun gi... Gio.. Gi.." Panggil Maria.


"Enghh...emmh..." Erang Gio ia pun membuka matanya pelan. 


Setelah kesadarannya pulih sepenuhnya, Maria pun berkata "Habis ini kita kearah mana?"


"Emm..." Gio berpikir sejenak. "Didepan nanti ada perempatan kita belok kanan, lalu ada pertigaan kita ambil kanan lagi. Nanti terus aja sampai kita ketemu Villa Fiore nah sampai deh." Ucap Gio menjelaskan.

__ADS_1


Tak sampai 20 menit mereka sampai di villa milik gio yang letaknya sangat strategis, dan udaranya juga sangat sejuk dan dingin.


"Sampai Woi!" Ucap Gio dengan suara lantangnya untuk membangunkan yang lain.


"Wih Gilaaa seger banget udaranya." Ucap Riska.


"Heem. Gak nyesel liburan kesini." Timpal Marcella dengan senyum bahagianya.


"Btw toilet mana toilet?" Ucap Evan pada gio.


"Lo masuk aja tar belok kiri setelah melewati ruang makan." Jelas Gio, Evan pun berlari masuk kedalam villa gio.


"Ada-ada aja si Evan." Ucap ibel terkekeh.


"Beseran dia itu." Timpal Riska.


"Iya emang." Ucap Cella.


"Ya udah lah ayo masuk gaes." Ajak Gio pads sahabatnya.


"Wihhh gila besar banget vila lo?" Ucap Riska pada gio.


"Yoi" Ucap Gio bangga.


"Para ladies diatas ya tidurnya. Boys kalian di bawah." Ucap Gio.


"Oke." Jawab mereka serentak.


"So.. Gue tidur sama Ibel. Cella lo sma Maria ya." Ucap Riska.


"Oke." Ucap Cella dan Maria bersamaan.


Mereka pun tiba dikamar masing-masing dengan meletakan barang yang mereka bawa tadi. Maria dan Cella rebahan di ranjang kamar tersebut.


"Mar" Panggil Cella pelan.


"Hmm." Gumam Maria menjawab panggilan Cella.


"Lo perhatiin gak si sikap Ibel ke Ammar?" Tanya Cella.


"Maksud lo cel?" tanya Maria yang binggung ia pun segera duduk dan menghadap ke Cella.


"Maksud gue itu gini, sorry tapi sebelumnya... Tadi gue liat ia curi-curi pandang ke Ammar." Ucap Cella dengan wajah serius.


"Lo serius? masak si mungkin dia liat kedepan kali bukan liat ke Ammar." Ucap Maria yang tak ingin berpikir negatif pada Ibel yang notabennya sahabat Ammar.


"Iya mungkin aja, tapi lo harus waspada deh Mar, semoga aja dia gak akan nikung lo." Ucap Cella dengan senyum terpaksanya.


"Siap bu bos." Ucap Maria terkekeh.


"Ya udah gue mandi dulu ya gerah nih." Ucap Cella lalu segera membongkar kopernya untuk mengambil handuk miliknya.


"Oke" Ucap Maria. "Eh gue kedapur dulu ya mau ambil minum aus nih." Ucap Maria pamit pada Cella.


"Yups." Jawab Cella yang tengah sibuk dengan kopernya.


Maria keluar kamar ia segera turun, dibawah terlihat evan sedang sibuk dengan ponselnya. Tak terlihat Ammar dan Gio disana ia pun melanjutkan langkah ke dapur. 


Semakin ia mendekat terdengar suara cekikikan seseorang dari arah dapur tersebut.


"Hahaha... Lo itu bisa aja si." Ucap seseorang yang bersuara wanita.


"Iya lah, apa lagi waktu si Dean ketahuan sama pacarnya kalau dia selingkuh ." Ucap suara laki-laki yang sangat familiar di telinganya.


"Eh gila.. tapi serius itu." Ucap wanita itu.


"Serius lah, Coba aja lo Kemarin dateng ke acara anak-anak paling lo ngakak liat muka mereka." Ucap Lelaki itu.


Maria yang tak tahan pun keluar dari persembunyiannya. "Acara apaan hmm?" Tanya Maria kepada dua orang itu, mereka pun dengan reflek berbalik kearah Maria.


"emmm... Anu-"


To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2