Ikatan Takdir

Ikatan Takdir
Di rawat


__ADS_3

"Zee!"


"Kakak ipar!" panggil kedua orang itu tetapi Zee tidak menjawabnya.


Ia saat ini sedang diserang panik. Hal yang tidak pernah lagi ia rasakan tetapi kembali ia rasakan saat melihat kepala Zidan berdarah tetapi ia tidak bisa menolongnya.


Putri yang kesal melihat Zee tidak menyahutinya segera menyentak tubuh itu hingga jatuh terduduk disamping Zidan yang kini samar-samar melihat Zee menangis.


Ia tersenyum, "Tenanglah Zee.. Abang tidak apa-apa. Hanya pusing dan sedikit berkunang saja. Kamu tenang ya?" bujuk Zidan pada Zee yang membuat gadis Ayu putri sulung Abi Raga itu berhenti menagis.


Ia meliaht Zidan dengan terisak. "Ma-maaf.. A-aku titidak hiks bisa menyentuhmu.. Ki-kita hiks bu-bukan hiks mahram!" sahut Zee dengan terisak karena serangan panik itu masih terasa olehnya.


Zidan terkekeh kecil di sela-sela rasa sakitnya. "Sssstt.. Tak apa.. Bawa Abang masuk Zee.. Pusing.. Ssstt..ya Allah.." keluh Zidan yang membuat Zee dengan spontan berdiri.


Ia reflek saja berteriak kuat hingga perawat yang memang sudah berdatangan untuk melihat direktur mereka itu semakin mempercepat langkah nya.

__ADS_1


Jerry dan Putri menganga melighat Zee yang seperyi orang kalang kabut. Ia jadi panik sendiri. Zidan yang melihat dan mendengar suara lengkingan Zee terkekeh lagi.


Sangat lucu menurutnya.


Reflek saja tangan Zidan lagi dan lagi memegang lengan Zee yang sudah terbalut dengan jas putih dokternya.


"Tenanglah Zee.. Abang tidak apa-apa. Ayo masuk!" tegasnya dengan suara lirih.


Zee terdiam dari mengomel nya yang tidak jelas kepada semua perawat yang kini menatapnya dengan terkejut.


Dan apa yang mereka lihat saat ini?


Zee, mengomel karena seorang pemuda tampan. Dan karena pemuda itu juga dirinya kembali terdiam.


Bangkar Zidan segera dibawa ke dalam rumah sakit untuk ditangani. Zee tetap ikut dengan bangkar calon suaminya itu karena lengannya tidak sekalipun di lepaskan oleh Zidan.

__ADS_1


Bahkan saat baju Zidan dibuka karena tetesan darah yang sudah mengenai kemeja dalam berwarna biru muda miliknya terpaksa mereka buka.


Zee hanya bisa membelakangi Zidan saat perawat lelaki itu membuka seluruh bajunya yang tersisa hanya CD saja.


Setelah selesai, Zee segera mengambil ponsel nya dan menghubungi seluruh keluarga dan menyampaikan kabar tentang Zidan yang kini dirawat karena dilempar batu oleh orang yang tidak mereka kenal.


Seluruh Keluarga shock bukan main. Dua keluarga besarnya segera mendatangi rumah sakit dimana Zee dan Zidan berada.


Mama Rani sangat kaget saat Zidan mengatakan jika Ia kembali di teror oleh orang yang tidak di kenal. Beruntungnya Zee selamat karena dihalangi olehnya.


Jika tidak, maka Zee lah yang terbaring di sana. Semua yang mendengar cerita dari Zidan menghela nafas panjang.


Zee tetap setia berdiri di tepi bangkar Zidan. Tidak sedikit pun ia bergeser. Papa Reza menatap Zidan pada Zee yang kini menatap ke arah jendela kamar VVIP Zidan.


Zidan mengedipkan matanya pada Papa Reza. Pemuda paruh baya itu mengangguk kecil. Ia segera menghubungi seseorang untuk ke rumah sakit.

__ADS_1


Zidan tersenyum lembaut menatap mama Rani yang bertanya melalui bahasa isyarat. Zidan hanay mengangguk kecil saja pertanda jika Mama Rani tidak perlu khawatir dan cemas tentang keadaannya.


__ADS_2