
Papa Kenan tak tahu jika tempat itu merupakan tempat bersejarah bagi kedua mertua abangnya, nenek Ira dan kakek Raga yang sudah almarhum. Beliau berencana akan merubah tempat itu. Akan tetapi, Damar melarangnya.
Ia mengatakan, biar saja mereka kesana. Tempat itu sangat bagus dan kawasannya begitu sejuk. Ia pun berkata jika tempat itu akan menjadi tempat kenang-kenangan untuk ia dan Zalimar.
Zalimar memilih diam saja. Ia saat itu duduk bersama Revan yang sedang mendengarkan murotal Al-Qur'an untuk penenang dan penyejuk hati yang entah kenapa keduanya merasa gelisah saat itu.
Perjalanan itu berjalan dengan lancar. Tak ada hambatan apapun saat mereka menuju ke sana. Awalnya acara itu berjalan dengan baik. Mereka sempat berfoto-foto dan juga makan bersama.
Hingga setelah makan siang, Damar dan Zalimar memilih menjauh dari para orangtua untuk menuju ke suatu tempat. Ia sudah berkeliling ketika tiba tadi. Ia pun berniat mengajak Zalimar saja kesana. Hanya berdua dengannya.
Zalimar yang sedang gelisah dan gundah entah karena apa, terpaksa menuruti permintaan Damar untuk mengikutinya setelah berpamitan pada kedua orangtuanya.
Damar membawa Zalimar ke tepi jurang yang dipagar dengan besi setinggi satu setengah meter. Zalimar memilih duduk sedangkan Damar menatap lurus ke depan di mana hamparan hutan begitu terlihat jelas dengan hawa dingin yang cukup terasa.
Damar menoleh pada Zalimar yang kini menatap kosong hamparan hutan yang terbentang luas dihadapannya.
"Zal," panggilnya yang membuat Zalimar tersentak dari lamunanya.
"Hah? Kenapa Bang? Kamu butuh sesuatu?" tanyanya yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Damar.
Pemuda itu mendekati Zalimar dan menatap lekat pada wajah ayu yang juga menatapnya dengan lekat.
Pemuda tanggung itu tersenyum. "Kamu mau nggak kalau setelah tamat SMA nanti kita langsung menikah?" tanyanya yang membuat Zalimar terkejut.
"Menikah? Setelah tamat SMA?" tanyanya yang diangguki oleh Damar sambil tersenyum padanya.
"Ya, kita menikah ketika kamu sudah selesai tamat SMA dan lulus dari pesantren. Kita akan menikah dulu. Lalu untuk resepsi bisa menyusul nanti," jawabnya yakin.
Zalimar menatap lekat padanya. "Kenapa begitu cepat? Kenapa terburu-buru?" Tanya Zalimar menyelidik.
__ADS_1
Ia sedikit menduga jika Damar sedang terburu-buru tentang pernikahan yang memang sudah ditetapkan. Putri sulung abi Zidan itu terus menatap lekat pada lelaki yang akan menjadi imamnya kelak di masa depan.
Damar tersenyum. "Nggak terburu-buru, kok. Hanya saja, abang merasa kalau kita akan berpisah nantinya. Abang takut, jika kamu pergi dariku dan menikah dengan orang lain," lirihnya menatap nanar ke depan sana.
Matanya menyiratkan kegelisahan yang begitu jelas terlihat. Zalimar terus menatap lekat calon imam masa depannya itu.
Revan yang ada di dekat keduanya, mengepalkan tangannya ketika Damar mengatakan apa tujuannya pada Zalimar. Ia tetap berjongkok di sana tak jauh dari keduanya.
"Bagaimana? Kamu bersedia, bukan?" Tanya Damar mendesak Zalimar yang tidak tahu harus menjawab apa.
Sebab saat ini ia masihlah kelas tiga SMP. Masih lama untuk keduanya bisa menikah. Bagaimana keduanya menikah jika keduanya masih sama-sama pelajar. Masih SMP pula. Bukankah itu kecepatan? Zalimar terkekeh memikikan hal itu.
"Kamu ngacok, ah, kalau ngomong? Kita itu masih SMP Bang Damar! Masih jauh untuk mengatakan tentang menikah. Aku tidak tahu menikah itu seperti apa. Terus kamu? Darimana kamu tahu akan hal itu? Kamu cari di internet tentang arti menikah dan segala sesuatunya yang bersangkutan dengan pernikahan?" Zalimar terkekeh lagi.
Lucu sekali pemuda sebaya dengannya itu. Keduanya hanya berbeda bulan saja. Ia saja masih kelas satu SMA. Sedang Zalimar kelas tiga SMP. Belum sepantasnya berbicara tentang menikah dan pernikahan. Zalimar merasa lucu dengan itu.
"Kenapa kamu menolaknya, Zalimar? Abang sangat ingin meresmikan hubungan ini sebelum-,"
"Kakak!" Teriak Zianti sambil berlari memotong ucapan Damar yang menghela napasnya ketika melihat saudara kembar Zalimar yang begitu mirip dengannya itu.
Ya, Zalimar kembar identik dengan Zianti. Keduanya sangat mirip. Akan tetapi, ada perbedaan mencolok pada keduanya kalau diperhatikan.
Jika Zalimar lebih suka memakai hijab panjang dengan warna baju kesukaanya jika tidak coklat susu, putih dan juga hijau muda. Berbeda dengan Zianti yang lebih menyukai warna apa saja. Ia sering memakai warna baju pelangi. Belum lagi, ia lebih suka memakai celana kulot hitam dengan baju panjang selutut.
Inilah yang membedakan Zianti dan Zalimar. Gadis cantik kembaran Zalimar itu berlari cepat kepadanya dengan wajah menahan amarah. Revan yang berada di sana keheranan melihat adik sepupunya itu.
Di antara ketiganya, hanya dirinya dan juga saudara kembarnya yang sudah tamat SMA. Ia masih melanjutkan sekolahnya di pesantren satu tahun lagi. Baru setelah itu akan melanjutkan sekolahnya ke Amerika dan Inggris.
Pemuda itu bersiaga menunggu apa yang akan terjadi melihat adik sepupunya itu seperti sedang marah pada Zalimar saat ini.
__ADS_1
Zianti tiba di sana dengan napas memburu. Dengan tanpa rasa bersalahnya, Zianti mendorong Zalimar hingga terdorong ke besi pembatas antara jurang dan tempat mereka berdiri saat ini.
Damar terkejut. Refleks ia bangkit dan ingin menolong Zalimar, tetapi Zianti menahan tangannya.
Revan mengacungkan tangannya untuk menggapai Zalimar yang terhantuk pada besi itu hingga pipi dan keningnya memerah. Zalimar meringis menahan sakit.
Ia menoleh perlahan pada saudara kembarnya. "Ada apa Zia? Kenapa kamu mendorong kakak?" Tanyanya masih saja bersikap baik walau sang adik sudah mendorongnya dengan kuat hingga ia terluka.
Zianti yang sedang kalap mendekati Zalimar dan menarik bajunya hingga saudaranya itu terkejut melihat kelakuannya.
"Kamu kenapa?! Apa aku melakukan kesalahan padamu?!" tanyanya berusaha memegang tangan Zia yang terus memegang bajunya begitu erat.
Matanya menyala marah. "Dasar mura han kamu, Kak!"
Dduuaar!
Tersentak ketiga orang itu mendengar ucapan Zianti.
"Apa?" seru ketiganya kompak.
"Kamu mura han Kak! Kamu tidak pantas untuk Bang Damar! Kamu sudah tidak suci lagi! Kamu sudah berzina dengan pemuda lain selain calon suami kamu!" teriaknya menggebu yang membuat Zalimar terhenyak.
Begitu pun dengan Damar dan Revan. Mulut keduanya menganga mendengar ucapan Zianti untuk saudara kembarnya itu.
Zalimar masih terkejut dengan ucapan adiknya itu. "A-aku? B-berzina? Siapa bilang? D-dengan siapa aku berzina, Zia!" balasnya berteriak juga walau terbata.
Sungguh, shock sekali dirinya ketika mendengar ucapan Zia baru saja. Adiknya itu menunduhnya berzina. Ia berzina? Dengan siapa?!
Beribu pertanyaan muncul di kepalanya hingga membuatnya pusing seketika.
__ADS_1