Ikatan Takdir

Ikatan Takdir
Tamu jauh


__ADS_3

Lama Zalimar berdiri menatap kedua sejoli yang sibuk masak tanpa memperdulikan kehadirannya. Ia mengepalkan kedua tangannya ketika melihat kelakuan mereka tidak wajar.


Zalimar menghela napas sabar. Ia masuk tanpa mengucap salam. Karena tidak ingin mengganggu kedua orang itu, ia berniat masuk ke kamarnya untuk melaksanakan sholat ashar. Akan tetapi, ia terkejut melihat adik sepupu laki-lakinya ada di sana dan menegurnya.


"Loh, Kakak sudah pulang? Sejak kapan? Itu bungkusan berisi apaan?"


Deg!


Deg!


Kedua orang yang sedang sibuk masak itu terkejut. Spontan saja keduanya menjauh. Zalimar menatap datar pada adik sepupu laki-lakinya itu.


"Baru saja kakak pulang. Kakak mandi dulu," jawabnya dingin dan berlalu dari sana.


Revan menatap kepergian Zalimar dengan tatapan sulit diartikan. Savana menoleh pada suami kakaknya itu.


"Bang, apa kakak lihat kit lagi.. Em..,"


"Kenapa? Kamu terkejut melihat kakak pulang? Iya? Makanya, punya akal dan pikiran itu di pakai! Jangan kecentilan jadi perempuan! Bagaimana pun bang Revan itu suami kak Zalimar!" ucap Samir ketus dan segera meninggalkan kedua orang itu.


Savana menunduk. Sedangkan Revan kembali berbalik ke kompor dan melanjutkan masaknya yang diganggu oleh Savana tadi.


Setelah kejadian itu tak ada lagi yang berbicara. Jarak keduanya pun sedikit jauh. Savana lebih menyibukkan dirinya dengan belanjaan yang Zalimar bawa pulang tadi.


Revan yang sudah selesai dengan masakannya dan menghidangkannya di meja, segera berlalu menuju ke kamarnya tanpa berkata apapun pada Savana.


Gadis kecil belum genap delapan belas tahun itu menatap nanar punggung tegap yang sudah berlalu meninggalkannya. Ia menghela napas berat. Setelah ini, ia yakin. Abi dan umminya pasti kembali menegurnya.

__ADS_1


Gadis kecil itu hanya bisa pasrah saja. Ia kembali sibuk dengan pekerjaannya. Sementara itu di kamar Zalimar, Revan sedang berdiri dihadapan Zalimar yang kini tidka mengindahkan kehadirannya.


Zalimar sibuk dengan berkas rekam medis pasien yang ia bawa pulang untuk ia pelajari tadi.


"Dek," panggilnya pada Zalimar yang mendiamkannya karena kejadian di dapur tadi.


Revan bukanlah pria yang betah lama-lama di diamkan. Apalagi ia di diamkan oleh istrinya. Revan bisa menebak jika Zalimar salah paham akan kejadian di dapur tadi.


Ia mendekati istrinya dan duduk dihadapannya. "Maaf, abang tidak melakukan seperti apa yang kamu pikir, Dek. Savana datang dan menyerobot masuk di depan abang saat abang lagi masak semur ayam kesukaan kamu. Abang sudah berusaha menolaknya dan memilih pergi. Tapi adik kamu itu menahan tangan abang. Maaf," ucapnya pada Zalimar yang kini menatap lekat padanya.


"Terserah abang ingin melakukan apa. Toh, aku belum sepenuhnya percaya dengan pernikahan ini!" jawabnya dingin sambil berlalu meninggalkan Revan yang kini terpaku karena ucapannya baru saja.


Pemuda tampan itu memejamkan kedua matanya. "Hufftt.. Zalimar bukan wanita biasa. Ia tahu, mana wanita yang mengagumi dan mana wanita yang menyukaiku!" keluhnya merasa tidak enak.


Ia mengambil handuk milik Zalimar dan masuk ke kamar mandi untuk melakukan sholat ashar. Revan butuh ketenangan sebelum berbicara kembali dengan Zalimar.


Zalimar menuju ke dapur di mana adik sepupunya sedang membuatkan minuman untuk ketiga orang itu. Lagi, jantung Zalimar mencelos melihat adiknya itu begitu sigap membuatkan teh hangat untuk kedua mertuanya.


"Kakak persiapkan makan malam saja. Biar adek yang bawa minuman ini ke depan!" katanya pada Zalimar yang kini menatap kepergiannya entah seperti apa.


Zalimar pun segera menyiapkan makan malam mereka. Tak lama, terdengar suara gelak tawa dari Revan dan yang lainnya di sana. Zalimar menghela napas berat. Ia sendirian di dapur menyiapkan makan malam.


Setelah selesai, ia sudah tidak melihat kedua mertuanya itu di sana. Mereka ternyata sudah ke mesjid untuk sholat berjamaah. Zalimar pun menuju ke kamarnya untuk melakukan sholat maghrib.


Selepas isya.


Mereka para lelaki berjumlah lima orang kembali. Mereka langsung menuju ke ruang makan. Sebab ummi Alzana menuntun mereka untuk segera makan malam yang tertunda.

__ADS_1


Mereka makan di selingi canda tawa. Zalimar yang sudah selesai pun segera ke dapur. Tetapi, ia lagi dan lagi terkejut melihat adik sepupunya kini sedang melayani Revan dihadapan kedua orangtua mereka yang terlihat biasa saja.


Zalimar melangkahkan kaki dengan pelan menuju ke dapur. Kakinya terpaku di tempat ketika Savana mengatakan sesuatu yang membuatnya tidak berselera untuk makan malam.


"Enakkan Opa? Iya, doang, enak! Ini, tuh, masakannya Bang Revan sama aku, loh!" ucapnya jumawa.


Revan diam saja. Ia tidak menyuapkan makanan itu ke mulutnya. Sebab ia tidak melihat Zalimar di sana. Persaaannya tidak enak sekarang. Seakan bulu kuduknya berdiri. Refleks saja ia berbalik dan terkejut melihat Zalimar yang kini menatap datar dan dingin padanya.


"Dek," panggialnya.


"Ya, abang mau apalagi? Biar adek ambilkan!" sahut Savana yang membuat semua orang melihat pada Revan kini menatap ke suatu tempat yang membuat mereka terkejut bukan main.


"Zalimar!" ucap mereka kompak.


Savana mendongak melihat pada kakak sepupunya itu.


Deg!


Deg!


Deg!


Jantungnya berdegup seakan lepas dari tempatnya. Wajahnya memucat seketika. Zalimar mendekati mereka semua. Ia beralih mengambil minum dan berlalu dari sana. Wajahnya begitu dingin dan datar. Mendadak suasana di sana hening seketika.


Opa Reza menatap lekat wajah Revan yang kini berubah melihat kepergian Zalimar. Ia ingin melihat, sejauh mana cucunya itu akan meluluhkan hati cucu mantunya yang terlihat tersinggung karena mereka tidak menganggap akan keadaannya.


Revan berbalik dan menatap semuanya. Tak sekalipun ia menatap pada adik sepupu istrinya itu yang kini menatap nanar padanya.

__ADS_1


Semuanya terdiam. Sunyi dan hening. Ia tersentak ketika terdengar suara motor keluar dari garasi. Spontan saja Revan berlari menuju ke pintu dapur yang terhubung dengan garasi.


__ADS_2