
Satu minggu berlalu setelah kejadian nahas menimpa kedua orangtua Zalimar. Kini ummi Zee sudah sehat kembali. Ia tetap di rumah sakit menemani suaminya yang belum juga sadarkan diri.
Hari ini, keluarga Damar akan bertemu ummi Zee untuk mengurus masalah pernikahan kedua anak mereka.
Ummi Zee tersenyum kala ruangannya di penuhi bingkisan dan juga seserahan barang pemberian Damar untuk salah satu putrinnya.
"Masuk, Put!" katanya pada bunda Putri yang kini ikut tersenyum melihat sahabat dan rekannya itu.
Keduanya berpelukan sebentar untuk melepaskan rindu yang menggunung setelah sekian lama tidal bersua.
"Silahkan, duduk!" titahnya pada semua orang yang kini mengangguk setuju.
Semua yang hadir merupakan keluarga besar bunda Putri dan Ayah Jerry. Kedua lelaki itu belum muncul karena masih mengikuti meeting yang akan selesai setelah makan siang. Begitu pun dengan Zalimar. Ia sedang menangani seorang pasien melahirkan di rumah sakit yang sama.
"Lama banget, ya, nggak ketemu?" ucap ummi Zee yang diangguki dengan kekehan kecil oleh bunda Putri.
"Benar! Terakhir kalinya bertemu, lima belas tahun yang lalu!"
Deg!
Deg!
Tiiit.. Tiitt.. Tiitt..
Suara degupan jantung seirama degan suara monitor di jantung Abi Zidan. Ummi Zee mengusap lembut tangan suaminya itu. Seakan tahu, suara monitor itu kembali tenang.
"Apakah kamu sudah mengatakan yang sebenarnya pada Damar, Put?" tanya ummi Zee yang dijawab dengan gelengan kepala oleh bunda Putri.
Tatapannya begitu sendu. Ummi Zee menatap lekat sahabatnya itu.
__ADS_1
"kKenapa? Apakah putriku yang melarangmu untuk mengatakan yang sejujurnya?" ujarnya lagi
Bunda Putri tetap menggeleng. "Nggak, putrimu, bahkan tak pernah membahas itu!" jawabnya menunduk.
"Lantas?"
Bunda Putri menghela napas berat. Ia mendongakk melihat sahabat karibnya itu. "Putraku. Putraku yang tidak ingin tahu tentang putrimu. Dia begitu mencintai putrimu yang lain hingga tidak mempercayai kenyataan lima belas tahun silam," lirihnya menjawab ucapan ummi Zee yang kini tertegun sejenak.
"Apakah segitu parahanya?" ummi Zee bertanya apa yang ia pikirkan saat ini.
Bunda Putri mengangguk.
"Astaghfirullah, ya, Allah..." ucap Ummi Zee merasa nelangsa.
"Maafkan aku, Mbak. Bukan maksudku menutupinya dari Damar. Akan tetapi, kehadiran putrimu yang lain membuat asumsi Damar, jika Ziantilah wanitanya." Ucapnya semakin merasa bersalah.
Ummi Zee berulangkali beristighfar kala mengingat sudah semnggu ini Zalimar banyak diam daripada berbicara dengannya. Hanya Zianti saja yang berbicara padanya. Itu pun yang dibahas masalah Damar yang membuat Zalimar pergi dari ruangan itu.
"Maaf, Mbak," cicit bunda Putri merasa tidak enak.
Keduanya larut dalam lamunan. Begitu pun dengan keluarga mereka. Semuanya tahu apa yang sedang mereka bahas saat ini. Sedikit tidaknya, kejadian lima belas tahun yang lalu itu begitu membekas di ingatan mereka.
Ummi Zee menghela napas panjang. "Kita tunggu semuanya berkumpul. Baru setelah ini kita bertanya. Terutama Zalimar. Sekiranya ia setuju, maka pernikahan ini tetap akan terjadi! Walau aku harus melihat putriku yang lain terpuruk!" ucapnya pada semua orang yang kini hanya bisa terdiam kaku.
Haruskah terulang lagi. Mami? Kenapa? Kenapa saat ini kedua putriku yang merasakannya? Batinnya nelangsa.
Lama mereka menunggu, hingga yang ditunggu akhirnya tiba juga. Keduanya masuk bersamaan. Zalimar tidak sekalipun menatap pada pemuda yang terus menatap lekat padanya.
Mereka semua duduk bersisian dengan Zalimar di tengah-tengah mereka. Wanita cantik berniqob itu hanya menunduk saja. Tak ingin sekalipun terlibat dengan ucapan para orangtua.
__ADS_1
Genggaman tangannya semakin erat kala suara lain menginterupsi acara itu. Ya, Zianti masuk dengan ciri khsnya yang riang. Ia segera duduk di samping bunda Putri yang tersenyum lembut padanya.
Bisa Zalimar lihat, jika Damar pun ikut tersenyum melihat keceriaan adik kembarnya itu. Buku-buku di tangannya memutih seketika. Akan tetapi, ia tetap berusaha tenang.
"Baik, sekarang kita tanyakan pada Zalimar. Karena di sini mempelainya adalah kamu, Nak. Bukan Zianti!"
Deg!
Deg!
Bibir Zianti yang tersenyum, surut seketika saat mendengar ucapan Ayah Jerry untuk kakak sulungnya.
Zalimar menatap lekat pada ayah Jeryy yang tersenyum dan mengangguk padanya. Zalimar melirik Damar. Pemuda itu terus melihat pada Zianti yang kini bermuram durja. Lagi, bagai belati menusuk langsung ke ulu hatinya.
Sakit sekali. Zalimar tersenyum kecut melihat itu.
"Maaf, ayah. Saya tidak pantas bersanding dengan pemuda yang mana hatinya sudah berlabuh untuk wanita lain! Saya menolak pernikahan ini! Kalau kalian ingin menikahkan dia, maka nikahkan pasangan itu! Bukan dengan saya! Saya menolaknya! Permisi!"
Deg!
Deg!
Deg!
Zalimar berlalu. Spontan saja Damar bangkit. Ia memegang tangan Zalimar dnegna cepat.
Plak!
Tangan hangat itu Zalimar tepis, "Saya bukan mahram Anda, tuan Damar! Jika Anda ingin mengurangi rasa bersalah karena telah menabrak kedua orangtua saya, maka menikahlah dengan wanita yang sudah mencintai Anda sedari Anda kecil! Bukan saya orangnya! Tetapi, adik saya! Saya tidak mau menikah dengan pemuda yang di dalam hatinya sudah memiliki cinta lain! Awalnya saya menerima perjodohan ini. Akan tetapi, ketika saya tahu, jika Anda pemuda itu, maka saya menolaknya! Saya sudah cukup menderita selama ini! Lima belas tahun saya sendirian! Maka tak ada salahnya, selamnya pun saya akan sendirian!"
__ADS_1
Jeduaarr!