Ikatan Takdir

Ikatan Takdir
Ujian sebelum Pernikahan


__ADS_3

Dua hari setelah acara khitbahan itu, kini Zidan semakin bersemangat. Ia semakin semangat dalam menjalani hari-harinya.


Rencananya hari ini, ia akan membeli seserahan untuk Zee karena acara pernikahan itu tinggal berapa hari lagi.


Ia dan mama Rani sudah sepakat akan keluar pagi ini untuk berbelanja. Tetapi sebelum itu, Zidan mendapatkan telepon dari orang kepercayaannya jika kantor saat ini dalam masalah.


"Masalah apa? Kenapa sampai ada teror di kantor papa?" seru Papa Reza begitu terkejut saat Zidan mengatakan masalahnya kepada Papa Reza.


Beliau yang saat ini sudah memilih pensiun dari dunia usahanya sangat terkejut mendengar teror itu.


"Apa yang sudah kamu lakukan Bang? Sampai-sampai kita di teror dengan bangkai ayam seperti itu? Apakah kamu ada melakukan kesalahan kepada orang? Sampai-sampai kamu harus menanggung teror ini? Sudah berapa lama?" tanya Papa Reza dengan beruntun.


Zidan diam, tidak ingin menyahuti sang Papa. Karena di sendiri pun bingung. Tidak bisa berbicara apa. Karena selama ini ia tidak memiliki masalah dengan orang lain.


"Jawab Bang. Kenapa sampai begini? Kalau sudah seperti ini bagaimana cara kamu menyikapinya? Coba di ingat dulu. Kamu memiliki masalah dengan siapa selama ini? Jika kamu tidak mau berbicara, akan sulit bagi kita untuk memecahkan masalah ini. Coba kamu pikirkan dulu." Lanjut papa Reza lagi sedikit menurunkan suaranya karena melihat Zidan yang terdiam karena sentakan nya baru saja.


Zidan memikirkan sesuatu. Apakah selama ini ia memiliki nusuh atau tidak. Karena selama ia memimpin perusahaan sang Papa, Zidan tidak pernah mencari masalah dengan orang.

__ADS_1


Apalagi sampai mencelakia orang, itu tidak pernah terpikirkan olehnya.


Siapa pelaku ini? Kenapa ia sangat tahu jika aku berada dna tinggal di komplek ini? Kenan? Apa hubungannya dengan Kenan? Kenapa orang itu membawa Kenan dalam masalah ini? Setahuku, Kenan juga tidak memiliki masalah dengan mereka. Lantas, kenapa mereka mengatakan jika dalang dari kematian seseorang adalah kami berdua? Ada apa ini?


Apakah ini yang dikatakan ujian sebelum pernikahan? Ah, itu tidak mungin. Ujian itu akan datang saat kami sudah sah menikah nntinya.


Berarti bukan ujian. Melainkan masalah yang harus di selesaikan. Agar masalah ini tidak berbuntut panjang ke depannya. Batin Zidan meraba dan menerka entah kemana.


Ia sibuk melamun memikirkan masalah itu sampai suara ponselnya yang berbunyi nyaring di atas meja pun tidak ia respon sama sekali.


Papa Reza jadi merasa bersalah melihat putranya itu.


"Bang! Kamu kenapa?" seru Papa Reza dengan suara naik satu oktaf.


Zidan tersentak.


"Maaf Pa. Abang melamun. Abang sedang memikirkan masalah ini. Karena dari surat yang di kirim oleh peneror itu mengatakan jika Abang dan Kenan merupakan pembunuh orang tuanya. Seingat Abang, Abang tidak pernah membunuh orang tuanya. Kapan pula Abang melakukan pembunuhan berencana itu? Apakah.."

__ADS_1


Ucapan Zidan berhenti saat ia mengingat suatu kejadian dimana dirinya yang sudah menyelamatkan seorang wanita paruh baya tetapi tidak selamat lantaran sudah kehabisan darah saat ia tiba disana.


Dan saat ia menyelamatkan orang itu, anaknya mengamuk dan menuduhnya sebagai pembunuh. Tetapi Zidan mengelak.


Ia sempat dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Zidan tersentak tubuhnya memikirkan hal itu.


Kejadian itu sudah sangat lama sekali. Saat ia masih duduk di bangku SMA dulunya.


Kenapa baru sekarang kejadian ini terulang? Bukankah sudah clear ya waktu itu? Kenapa sekarang ini balik lagi? Sebenarnya siapa orang ini? Kenapa baru sekarang ia kembali lagi?


Apakah orang ini anaknya yang dulu pernah mengamuk saat mayat wanita tua itu ingin dibawa kerumah sakit untuk di otopsi??


Lantas? Kenapa baru sekarang?


Ada apa ini? Batinnya menerka-nerka lagi.


Papa Reza jadi geram sendir melihat putra sulungnya yang seperti orang bingung itu. Ingin sekali menepuk kepalanya saking kesal dirinya melihat snag putra yang duudk terdiam dengan tatapan kosongnya.

__ADS_1


__ADS_2