
Tap.
Tap.
Tap.
Suara hentakan sepatu di lantai nan dingin membuat suasana hening di rumah sakit milik sang Ummi menjadi riuh seketika.
Napas panjang memburu dengan keringat terus bercucuran di dahinya yang tertitup oleh hijab hitamnya.
Ia berlari sekuat yang ia bisa untuk menuju ke sebuah ruangan VVIP kedua orangtuanya yang baru saja mengalami kecelakan yang menyebabkan keduanya kini kritis.
"Dek!" teriaknya memanggil sang adik yang kini tergugu seorang diri di depan pintu ruangan kedua orangtuanya yang kini masih dalam penanganan dokter.
Sang adik menoleh padanya. "Hiks, Kakak!" jawabnya dengan suara serak akibat terlalu lama menangis.
Keduanya berpelukan dan menagis bersama.
"Kenapa bisa, Dek? Tadi pagi, ummi dan abi sehat aja, kok? Ini, kok?" Zalimar tak sanggup melanjutkan lagi ucapannya itu.
Sang adik terus tersedu di pelukan saudara kembarnya. Keduanya terus tersedu. Tanpa keduanya sadari ada seorang pemuda dan asistennya menatap nanar pada kedua saudara kembar itu.
"Apa yang harus aku lakukan, Fan? Sungguh, aku tak sengaja," lirihnya menunduk merasa bersalah.
Sang asisten menepuk pelan pundaknya. "Bagaimana pun ini salah kita. Maka kita harus bertanggung jawab dengan semua ini," jawabnya memberi ketenangan pada bosnya yang sedang merasa bersalah itu.
"Baiklah, apapun akan aku lakukan agar aku bisa terbebas dari rasa sakit ini," lirihnya berbisik dan segera berlalu meninggalkan kedua saudara yang terus menangis tanpa henti setelah dokter mengatakan jika keduanya masih dalam kondisi kritis.
"Apa?! K-koma?!" teriak Zalimar terkejut bukan main.
Dokter itu mengangguk. "Ya, dokter Zee mengalami benturan keras di kepala bagian kirinya yang membuat ia harus kami operasi. Sedangkan Tuan Zidan, otak sebelah kanannya yang mengalami gagal fungsi. Bisa di katakan untuk saat ini, ia tidak merespon atau mendengar apapun yang kita katakan walau di bawah alam sadarnya," Ujar dokter itu menjelaskan yang membuat Zalimar terhuyung ke samping dan jatuh terduduk di kursi pasien yang tersedia di sana.
Ia tidak lagi mendengarkan apa yang dokter itu katakan. Telinganya seakan pengang seketika. Masih teringat jelas olehnya perkataan kedua orangtuanya tadi pagi padanya sebelum ia berangkat ke rumah sakit untuk melakukan operasi.
__ADS_1
"Nak?"
"Ya, Mi? Kenapa? Kakak buru-buru ini!" jawabnya dengan tergesa dan seketika bangkit kala ponselnya berdering kembali untuk kesekian kalinya.
Ia khawatir. Ingin meninggalkan kedua orangtuanya yang sedang berbicara, tidak mungkin. Sama saja ia tidak peduli dengan kedua surganya itu.
Zalimar kembali duduk setelah membalas pesan pada asistennya. Ummi Zee menatap sendu padanya.
"Ummi sudah memiliki calon pendamping untukmu. Menikahlah selagi kami berdua masih hidup. Sekiranya kami pergi, kami tak akan bisa lagi melihat kamu bahagia nantinya." Ucapnya yang membuat jantung gadis ayu tertutup niqob itu berdentum seakan lepas dari tempatnya.
Ia tertegun dan terpaku menatap lekat ummi dan abinya yang kini menatap padanya.
"Tolong terima tawaran kami. Abi dan ummi juga dulu di jodohkan? Tak ada yang buruk dengan perjodohan, Sayang. Semua akan indah pada waktunya jika kamu mau menerimanya dengan ikhlas," timpal abi Zidan tersenyum teduh padanya.
Zalimar menatap lekat pada kedua orangtuanya itu.
'Kenapa aku merasa.. Kalau kalian itu sedikit aneh? Ada apa? Apa ini hanya perasaanku saja? Jika iya, apa? Kenapa hatiku tak tenang? Seakan akan terjadi sesuatu sebentar lagi? Firasat apa ini?' Batin Zalimar menatap lekat kedua orangtaunya itu.
"Kamu tak akan menyesal jika menikah dengannya. Dia pemuda yang sholeh. Abi sudah mengenal kedua orangtuanya selagi abi lajang dulu. Untuk itu, kami sudah mengatur pertemuan ini untukmu. Semoga kamu setuju, Nak. Hanya ini harapan kami? Maukah kamu memenuhinya?" tanya Abi Zidan lagi yang terpaksa Zalimar angguki.
"Zalimar!"
"Hah? I-iya? Papa? Kenapa Papa kesini? Mama nggak ikut?" Zalimar tersentak dari lamunannya dan menatap lekat saudara kembar umminya itu.
Papa Arga tersenyum sendu padanya. "Papa sudah sedari tadi di sini. Bagaimana kondisi ummi dan abimu? Masih belum ada perubahan?" Ia duduk di samping Zalimar yang kini menatap kosong pada pintu ruangan operasi yang kini lampunya menyala.
Zalimar menggeleng sendu. Papa Arga segera memeluknya erat. Ia menyalurkan rasa nyaman kepada keponakannya itu. Ia tak menyangka, jika kedua saudaranya kini sedang berjuang hidup dan mati setelah mengabarkan pada mereka kalau Zalimar akan segera menikah dengan laki-laki pilihan keduanya.
Baru tadi siang mereka mengabarkan, sore ini ia terkejut ketika Zianti mengabarkan tentang kecelakaan keduanya. Papa Arga menghela napasnya.
Sesak dan sangat sulit untuk terlepas. Zianti datang dengan seorang pemuda di belakangnya.
"Papa?" panggilnya yang membuat kedua orang itu segera mengurai pelukannya.
__ADS_1
Keduanya segera menoleh pada Zianti dan seorang pemuda berdiri di belakangnya.
"Loh?" tunjuk Papa Arga pada pemuda itu yang kini tersenyum mendekati dirinya.
Pemuda itu mengecup takzim tangan pria paruh baya yang masih terlihat segar itu. Jantung Zalimar mencelos kala tatapan keduanya bertemu.
'Dia?'
Zianti mengukir senyum manis. "Papa sudah mengenalnya?" tanya Zianti begitu riang.
"Tentu! Dia ini pemuda yang akan abi kamu nikahkan dengan kakak kamu, Zalimar!"
Jeduaar!
"Apa?!" pekik Zianti begitu terkejut mendengar ucapan papa Arga.
Pemuda itu menatap lekat pada Zalimar yang kini menatap kosong pada dinding kamar rumah sakit itu.
'J-jadi.. Wanita ini yang di jodohkan papa padaku? saudara kembar Zianti? Wanita yang ku cintai?' batinnya bermonolog terkejut akan fakta yang sebenarnya.
"Ya, Damar yang abi kamu jodohkan dengan kakak kamu. Tadi siang, abi kamu sudah mengatakan semuanya pada papa yang berarti kalau mereka akan menikah secepatnya. Tapi, semua ini sekarang terlambat," lirihnya menunduk.
Jantung pemuda tampan berkumis tipis itu tersentak seketika. Zianti tak bisa berbicara apapun lagi. Dirinya begitu shock mendengar kabar, jika pemuda yang ia cintai ternyata akan menjadi calon suami saudara kembarnya.
Pemuda itu menatap lekat pada Zalimar yang kini tak sedikit pun menoleh padanya.
"Hentikan perjodohan ini jika menyakiti salah satunya. Tak apa jika aku tidak menikah. Toh, kalau sudah menjadi jodohnya, kemana pun aku pergi, jodoh itu akan datang menemuiku! Hentikan, Pa. Sebelum semuanya terlambat. Aku tidak mau merebut calon suami yang merupakan kekasih adikku sendiri!" tegasnya sembari berlalu meninggalkan ketiganya yang mematung mendengar ucapannya baru saja.
Zalimar menyusut bulir bening yang mengalir di pipinya.
"Kenapa harus dia, ya, Allah? Tidak adakah pemuda lain di muka bumi ini? Sekiranya ada, maka berikan yang lain itu untukku! Aku rela dan ikhlas menerima jika itu bukan dirinya!" batinnya bermonolog dengan tangan terkepal erat.
...****************...
__ADS_1
Gimana? Seru nggak? Ada yang penasaran? Ada hubungan apa keduanya?
Ikutin terus ye?