Ikatan Takdir

Ikatan Takdir
Kilas balik kejadian 15 tahun yang lalu


__ADS_3

Zalimar berlari masuk ke dalam rumah melewati semua orang yang terkejut melihatnya berlari begitu cepat. Papa Kenan yang sedang menyuapkan nasi goreng ke mulutnya, terkejut melihat mennatu sekaligus keponakannya itu.


Ia mematung melihat Zalimar dan Revan yang saling berkejaran. Zianti dan Damar pun ikut berdiri. Mereka bingung melihat Zalimar berlari diikuti Revan dengan wajah paniknya.


Papa Kenan ingin berlari mengikuti keduanya, tetapi Ummi Zee menegurnya.


"Makanlah, Dek. Biarkan saja keduanya," ucapnya yang membuat papa Kenan urung untuk mengikuti mereka.


Mama Bella mengusap lembut lengan suaminya itu. "Sarapan dulu. Nanti kita tanyakan sama Revan, ya?" bujuknya yang terpaksa pria tampan itu turuti.


Dari arah belakang terlihat abi Zidan masuk dengan langkah gontai. Wajahnya terlihat basah dengan mata sedikit memerah. Beliau memaksakan senyum pada mereka semua.


"Kenapa Bang? Kenapa Zalimar berlari seperti itu bersama Revan? Terjadi sesuatukah? Apa?" desaknya bertanya pada abi Zidan yang hanya tersenyum lirih saja padanya.


Ia menggeleng menanggapi ucapan adiknya itu. "Tak ada, mari kita sarapan." Jawabnya segera menyuapi makanan ke mulutnya yang sudah terhidang di depannya oleh ummi Zee.


Papa Kenan menatap kakak iparnya yang mengangguk padanya. Ia pun kembali menyuapi sarapan paginya yang sudah tidak berselera ketika melihat Zalimar dan Revan yang saling berlari entah karena apa.


Beliau melanjutkan sarapan paginya. Mendadak meja itu hening setelah abi Zidan berbicara seperti itu.


Sementara itu di dalam kamar Zalimar, Revan duduk jongkok dihadapannya. Ia memegang lembut tangan Zalimar yang kini menatap kosong dengan air mata terus berlinangan.

__ADS_1


Revan tidak berbicara apapun. Ia terus mengusap lembut tangan istrinya.


"Abang tahu? Bukan salahku jika aku menamparnya waktu itu. Aku marah sebab mulutnya itu begitu pedas dalam berbicara! Dia menuduhku. Dia mengatakan jika aku pernah berzina dengan pemuda lain selain Damar! Kapan aku berzina dengan pemuda lain? Sedang dengan Damar saja aku jarang bertemu? Kapan aku berzina dengan orang lain? Huh? Apakah sehina itu aku di matanya? Apakah aku ini tidak berhak bahagia?" tanya Zalimar pada Revan yang kini menatap sayu padanya.


Zalimar bangkit dan melorot ke bawah dihadapan Revan. Pemuda itu terkejut melihat aksi istrinya.


"Bangun, Sayang! Jangan begini! Kenapa kamu bersimpuh di kakiku?" ucapnya pada Zalimar yang terus bersimpuh di kakinya.


"Hiks.. Maafkan aku, jika aku bersalah padamu, bang Revan. Maafkan aku, jika diri ini tidak sempurna untuk menjadi istrimu. Aku banyak kekurangan. Aku hina. Aku sudah pernah berzina dengan pemuda lain. Aku tidak pantas untukmu. Kamu boleh melepaskan aku jika kamu tidak inginkan aku lagi. Lepaskan aku, Bang Revan agar kamu tidak sakit hati karena ucapan orang nanti!" ucapnya masih bersimpuh.


Dirinya masih saja bersimpuh di kaki Revan. Revan yang kebingungan dengan tingkah Zalimar menarik paksa tubuh itu dengan sekali sentakan yang membuat tubuh istrinya kesakitan.


Revan menatap lekat wajah Zalimar yang basah dengan air mata.


"Abang tidak akan bertanya tentang masa lalu kamu. Masa lalu kamu sudah berlalu. Yang saat ini ada dihadapanku adalah masa depan." Revan menangkup kedua pipi yang basah air mata itu. Ia mengecup semua wajah itu dnegan sayang uyang membuat Zalimar semakin tersedu.


Ia menubruk tubuh Revan hingga hampir membuat pemuda tampan itu terjungkal ke belakang jika tidak kakinya bertahan dengan kuat. Revan terkekeh.


Zalimar masih saja tersedu. Revan terus mengusap lembut tubuh istrinya. Cukup lama Zalimar di posisi memeluk erat tubuh Revan, hingga di rasa cukup wanita cantik itu mengurai pelukannya.


Ia menatap revan yang kini tersenyum padanya. Tangan pemuda itu mengusap lembut wajah Zalimar.

__ADS_1


"Aku akan menceritakan kejadian lima belas tahun yang lalu itu padamu agar Abang bisa menilai apakah aku yang bersalah atau Zianti. Karena kejadian itu, aku sampai tertuduh karena kau telah mendorong Damar." ucapnya yang diangguki oleh Revan.


Ia sebenarnya, sudah mengetahui hal itu. Akan tetapi, ia terpaksa mengangguk saja. Jauh sebelum Zalimar bercerita, Revan sudah tahu. Sebab dirinya juga berada di sana.


Zalimar bangkit dan duduk di ranjangnya. Hijab yang sudah basah ia buka perlahan dibantu oleh Revan. Pemuda itu membantu Zalimar membuka bajunya.


Revan juga mengambil baju ganti untuknya. Zalimar menggenakan pakian yang Revan berikan padanya. Hanya baju batik terusan tanpa lengan. Revan menelan salivanya ketika melihat tubuh istrinya yang terbuka seperti itu.


Walau sudah sering melihat, tetap saja. Ia lelaki normal. Revan berdehem dna duduk di samping zalimar yang sednag memperbaiki tangannya yang belum lagi sembuh.


"Lima belas tahun yang lalu, di sebuah taman kami sednag berkumpul bersama di sana. Aku dan zianti sudha leih dulu datang bersama keluarag yanga kan mengadakan piknik keluarga di sana. Seingatku, abang juga ada di sana. Benar?" tanyanya yang diangguki oleh Revan dengan tersenyum.


"Lanjutkan dulu cerita kamu. Baru setelah itu cerita menurut versi yang abang ketahui," jawab Revan yang ditatap lekat oleh Zalimar.


Wanita cantik dengan rambut terkuncir ke belakang itu mengangguk. Ia terus menatap lekat pada suaminya. Ada kedamaian ketika menatap wajah tampan nan teduh itu.


Zalimar menerawang mengingat kejadian lima belas tahun yang menyisakan luak di hatinya hingga saat ini.


Ketika itu mereka akan melakukan piknik keluarga. Keluarga Zalimar, Papa Kenan dan juga keluarga Damar pun ikut serta. Ketiganya selalu melakuakn piknik itu di setiap bulannya. Ada keluarag Papa kenta, Papi Keanu dan mami Kezia. Semuanya berkumpul menjadi satu.


Mereka sengaja menlakukan hal itu untuk memperkeuat ikatan saudara diantara mereka. Papa Kenan yang paling bersemangat waktu itu. Beliau menunjukkan di mana tempat wisata yang bagus untuk mereka kunjungi.

__ADS_1


Beliau sengaja pulang dari Jakarta untuk berlibur ke Medan. Beliau memilih air terjun sipiso-piso. Tempat kenangan bagi kedua orangtua ummi Zee mendapatkan masalah hingga keduanya terpaksa menikah muda waktu itu. ( Baca Cinta Dalam Nestapa biar kalian tahu kisahnya ).


__ADS_2