
Dua bulan berlalu.
Pagi ini udara begitu dingin terasa hingga rasanya menusuk ke kulit. Zee masih saja bergelung dalam selimut setelah sholat subuh tadi.
Matanya lengket bagaikan ada lem yang menempel disana. Perutnya lapar tidak ia hiraukan. Ummi Ira sudah mengetuk pintu berulang kali, tetapi tetap saja Zee tidak ingin membukanya.
Saat ini hati dan pikirannya sedang tidak sinkron. Memikirkan Zidan yang sudah dua bulan tidak kembali dan sampai saat ini ia masih di Jakarta. Mengurus perusahaan papa Reza yang sempat di teror itu.
Sekaligus Zidan sedang memantau perkembangan Kenan dan Bella yang saat ini masihlah koma.
Rasa rindu di hati keduanya begitu menggunung saat ini. Zidan hanya mengabari Zee setiap hari melalui ponsel saja tetapi tidak bersua.
Zee sangat merindukan Zidan sampai-sampai baju kemeja Zidan ia kenakan saat ini. Zee tidak mau memakai baju miliknya. Yang ia inginkan hanya baju Zidan. Bahkan ketika bekerja pun Zee menggenakan nya.
Perubahan yang terjadi pada diri Zee begitu membuat Ummi Ira khawatir. Ia segera menghubungi menantunya untuk segera pulang dan menemui nya.
Zidan yang baru saja tiba dari bandara menemui kedua mertuanya dan berbincang sebentar. Jam masih menunjukkan pukul enam pagi saat Zidan tiba dirumah mertuanya.
Zidan sempat bercerita tentang perkembangan Kenan walau kedua mertuanya itu sudah tahu dari Zee.
Ia pamit ingin menemui Zee karena rasa rindunya itu sudah tidak tertahankan.
Zidan yang memang sudah sangat merindukan Zee segera naik ke lantai dua dimana kamar Zee berada.
__ADS_1
Ia membuka pintu kamar itu.
"Terkunci?? Hem.. Pasti lagi ngembek nih!" terka nya dengan terkekeh.
Ia segera membuka pintu kamar Zee dengan kunci cadangan yang selalu ia bawa kalau-kalau ia pulang malam dan pintu kamar mereka terkunci.
Zee sendiri yang memberikan kunci cadangan itu padanya. Zidan masuk ke dalam kamarnya dan dikejutkan dengan seluruh ruangan gelap gulita.
Zidan sampai meraba mencari jalan hingga kakinya terpantuk meja kerja Zee. Saking paniknya Zidan, ia lupa kalau ponselnya memiliki senter.
Zidan tidak ingat itu.
Ia segera melipir ke sudut ruangan menuju pintu balkon dan menyingkap tirai jendela berwarna hitam itu hingga terdengar bunyi suara ribut.
Ia membuka satu persatu jendela kamarnya dan masuklah hawa angin pagi yang begitu menyegarkan.
"Hemm huufftt.. Segarnya.. Ini kenapa di tutup rapat sih kamarnya? Bukannya segar ya matahari masuk ke kamar?" gumam Zidan sambail mendekati ranjangnya dimana Zee berada saat ini.
Zidan tersenyum saat melihat hanya kepala Zee saja yang terlihat. Sedang seluruh tubuhnya tertutup dengan selimut putih.
Zidan mendekati Zee dan menunduk sedikit. Ia mengecup lembut kening Zee yang membuat wanita cantik itu melenguh.
"Eugh.. Abang.. Kangen! Cup!"
__ADS_1
Zidan melototkan matanya saat melihat tingkah Zee yang menurutnya tidak seperti biasanya.
Zee semakin sibuk dengan aktivitasnya yang membuat Zidan shock bukan main. Benarkah wanita yang dihadapan nya ini Zee? Istrinya? Tetapi kenapa tingkahnya seperti ini?? Pikir Zidan dalam hati.
Ia masih membeku dan terpaku di tempat saat merasakan sapuan lembut turun ke leher nya yang membuat Zidan melenguh tiba-tiba.
Siapa yang tidak ingin seperti ini. Jika baru pulang ia sudah di suguhkan dengan santapan lezat walau membuatnya shock setengah mati melihat perubahan pada tubuh Zee yang kini semakin chubby setelah ia tinggal dua bulan lamanya.
Keduanya kini sedang menikmati sarapan pagi mereka yang sudah lama tidak mereka kerjakan akibat pekerjaan Zidan dan juga mengurus Kenan yang belum juga sadar hingga saat ini.
Zidan tidak menyangka jika Zee sangat aktif kali ini. Dirinya merasa kewalahan menghadapi Zee. Tetapi ia suka jika Zee menjadi sedikit liar.
"Abang sangat mencintaimu sayangku.. Sangat mencintaimu.." ucapnya di telinga Zee yang membuat sang istri terbang melayang karena perbuatannya itu.
Ummi Ira yang ingin mengajak mereka turun dan sarapan pagi bersama malah balik lagi ke bawah yang membuat Abi Raga keheranan.
"Kenapa kamu balik lagi? kakak dan suaminya mana?"
Ummi Ira menggeleng. Abi Raga terkekeh saat melihat wajah Ummi Ira. Abi Raga tergelak kuat melihatnya.
Ia jadi tahu kenapa istrinya itu menjadi malu seperti itu. Abi Raga bisa menebaknya. Ia semakin tertawa yang membuat wanita paruh baya itu melemparinya dengan buah-buahan yang ada di meja itu.
Arga, putra sulungnya terkekeh melihat itu. Ia pun tahu apa yang terjadi didalam kamar saudara kembarnya itu.
__ADS_1
Makanya tadi ia langsung segera turun dan tidak jadi mengetuk pintu lagi saat mendengar suara perang di sebalik kamar Zee dan Zidan.