
Sembilan bulan berlalu.
Zalimar tinggal bersama Onti dan Omnya di tempat tinggal kediaman almarhum Eyang buyut yang sudah tiada.
Zalimar sengaja memilih tinggal di sana bersama mereka. Sebab hanya mereka yang tahu akan masa lalu keduanya yang begitu kelam hingga menyisakan luka yang begitu mendalam untuk Zalimar. Entahlah dengan Damar sendiri.
Zalimar tidak ingin dan tidak mau tahu akan kehidupan mereka di Medan sana. Ia memilih sibuk dengan kehidupannya sendiri. Ia lebih memilih bekerja dan sibuk mengurus pasiennya daripada merenungi nasib masa lalunya.
Bukannya Zalimar tidak ingin mendengar kabar ummi dan abinya. Hanya saja, ia tidak ingin keberadaanya terendus oleh Damar dan keluarganya. Apalagi saudara kembarnya. Menurut informasi yang Zalimar dengan dari Ontinya, Zianti tengah mengandung saat ini. Damar begitu ketat menjaganya.
Damar begitu menjaga Zianti dengan baik. kenapa demikian? Karena Damar sangat mencintai Zianti dna juga begitu menyayangi sosok bayi yang kini ada di dalam kandungan istrinya itu. Wanita yang sudah berhasil merusak hidupnya dan juga Zalimar.
Zalimar tersenyum kecut kala melihat foto yang adiknya kirimkan padanya. Jika hari ini, cucu pertama di keluarga ayah Jerry telah lahir ke dunia. Ummi dan abi pun ikut berbahagia akan hal itu. Mereka bersama-sama menjenguk Zianti di rumah sakit dan mengucapkan selamat atas kelahiran putra sulung Damar itu.
Zalimar hanya bisa mengurut dadanya. Dadanya begitu sesak melihat kebersamaan itu.
"Mereka bahagia setelah berhasil menghancurkan hidupku. Haruskan ini terjadi padaku? Kenapa harus aku yang merasakannya? Kenapa ini serasa tidak adil untukku? Kenapa mereka bahagia sedangkan aku menderita? Allah.. Jika aku boleh meminta. Hapuskan rasa cinta di hati ini untuk pemuda itu! Pemuda yang selalu aku sebut di dalam setiap sujudku. Aku ingin melupakannya dan memulai kehidupan baruku. Aku ingin lepas dari bayang-bayang masa lalu. Aku ingin melupakan semua ini. Bantu aku, ya, Allah. Sakit! Sangat sakit! Jangan hukum aku dengan semua perbuatan mereka! Aku tak terima!"
"Hiks. Mereka bahagia sedang aku menderita! Jika memang jodohku itu ada, maka kirimkan dia untukku! Aku ingin melupakan pemuda yang bukan menjadi milikku! Allah.. Bantu aku. Kirimkan seorang pemuda yang baik dan pantas menurut-Mu untuk menjadi suamiku. Aku berjanji, aku akan setia dan hanya akan menjadi istrinya. Sekali pun nanti dia tiada, aku tidak akan pernah menggantikannya dengan siapa pun! Walaupun Damar sadar dan bisa mengingat kembali dan ia memintaku untuk kembali padanya, maka aku tidak akan pernah mau lagi. Pantang bagiku untuk memungut sesuatu yang sudah aku berikan untuk saudaraku yang lain! Aku berjanji, ya, Allah! Bantu aku! Hapuskan rasa ini hingga ke akarnya!" Ujar Zalimar melanjutkan doanya di sujud malam yang begitu hening dan sepi.
Zalimar tersedu dan tepekur di sajadahnya. Ia menangis seorang diri tanpa ada yang mau membantunya untuk mengurangi rasa sakit di hatinya karena ulah mereka semua. Zalimar terlelap setelah puas menangis.
Samar-samar ia melihat bayangan seorang pemuda tampan menghampiri dirinya dan berbisik lirih di telinganya.
"Abang akan datang tepat pada waktunya, Dek. Tunggulah sebentar lagi. Abang akan menghapus semua rasa dan sakit di hatimu dan menggantikannya dengan kebahagiaan yang tak terhingga. Hingga rasa cinta dan sayangmu untuknya memudar dalam sekejab. Abang berjanji. Abang akan datang sebentar lagi. Untuk itu, persiapkan dirimu sebelum abang datang untuk menemuimu!"
Deg!
Deg!
__ADS_1
Jantung Zalimar berdegup kecang mendengar suara yang begitu familiar di telinganya bergaung dengan indahnya.
"B-bang-,"
"Ya, ini aku! Persiapkan dirimu. Tunggu abang. Sebentar lagi, abang kembali ke sana. Abang akan langsung menikahimu dari abi nanti!" jawabnya begitu tegas dna lugas.
Zalimar tersentak dari tidurnya hingga terduduk dengan jantung bergemuruh hebat. Zalimar menatap pucat pada dinding dihadapannya. Ia menelan ludahnya getir ketika mengingat suara seorang pemuda yang begitu di kenalnya.
"D-dia..?" Jantung Zalimar berdegup kencang lagi.
"Apakah ini pertanda? Tapi, kenapa harus dia? Kenapa dia? Bukankah dia..?"
Zalimar menerawang jauh ke belakang di mana pertemuan mereka yang sudah begitu lama. Zalimar masih mengingat dengan jelas tentang pemuda itu. Zalimar shock berat saat itu ketika dirinya dipinta untuk menjadi istrinya.
"Abang kenapa? Ngacok, ah!" ucap Zalimar dulu pada pemuda itu ketika pemuda itu memintanya untuk dinikahi.
"Nggak, Dek! Abang serius!" ucapnya waktu itu dengan suara berat dan lembutnya hingga menyentuh ruang terdalam sisi hati tersembunyi milik Zalimar.
Bulir keringat mengalir di dahinya. Zalimar menelan ludahnya getir. Ia sadar ketika suara iqomat sudah terdengar. Bergegas ia berwudhu kembali walau dengan jantung terus berdebar kala gaungan suara itu semakin terdengar jelas di kedua telinganya.
Zalimar berusaha konsentrasi saat sholat subuh. Akan tetapi, bayangan pemuda yang akan segera datang dan menikahinya langsung pada abi Zidan membuat raut tegang di wajah Zalimar semakin kentara terlihat.
Zalimar tetap terus berusaha khusyuk hingga sholatnya selesai. Setelah selesai, Zalimar keluar dari kamarnya dan terkesiap ketika melihat orang yang tadi malam ada di dalam mimpinya sedang tertawa bersama Omnya di sana.
Jantung zalimar seakan keluar dari tempatnya. Buru-buru ia masuk ke kamar dan bersembunyi di belakang pintu. Debaran jantung di dada semakin menggila. Wajahnya begitu tegang dengan sekujur tubuhnya mengeluarkan keringat.
"D-di-dia.. K-kesini? T-tapi.. K-kapan d-datangnya? K-kenapa abi dan Ummi juga ada di sana?!" ucapnya dengan tubuh bergetar.
Bukan bergetar karena ketakutan. Melainkan shock dengan kenyataan yang baru saja ia lihat di luar sana. Zalimar berusaha menenangkan dirinya. Akan tetapi ketukan pintu tiga kali dan terdorong dari luar sedikit kuat membuat tubuhnya terdorong ke depan hingga hampir jatuh tersungkur.
__ADS_1
Zalimar yang tidak siap, pasrah jika dirinya akan jatuh ke lantai dengan wajah mendarat lebih dulu. Ia memejamkan matanya erat dan menunggu dirinya jatuh.
Lama ia menunggu dirinya terjatuh, tapi tidak juga terjatuh. Ia merasakan kehangatan di tubuhnya. Rasa nyaman itu kembali menelusup ke hati dan jantungnya.
Dalam terpejam Zalimar merasakan rasa yang telah lama hilang kini kembali lagi. Ia memegang tangan yang kini memegang perutnya masih dengan mata terpejam.
"Bang Revan?" bisik Zalimar yang di jawab dengan senyuman manis tersungging di bibir pemuda yang namanya di sebut itu.
"Kamu, bahkan sangat mengenal diriku, Dek!" celetuknya yang membuat mata Zalimar terbuka seketika.
Ia mengurai paksa pelukan itu dan melihat ke belakang.
Deg, deg, deg, deg..
Jantungnya menggila. Lutut Zalimar melemas. Ia hampir jatuh jika tidak pemuda bernama Revan itu kembali menangkap tubuhnya.
"B-bang R-revan?! B-beneran ini kamu?!" serunya begitu terkejut melihat wajah pemuda yang kini sedang memeluknya itu.
Pemuda itu tersenyum manis padanya dan mengangguk. "Benar, Sayang. Abang, Revan. Suamimu!"
Deg!
"Hah?"
Bruuk!
"Astaghfirullah! Zalimar!"
*****
__ADS_1
Gimana? Penasaran, siapakah Revan ini? Ayo tebak, Revan ini siapanya Zalimar?