
Abi Zidan melangkah cepat untuk mendekati istrinya yang sedang menyiapkan sarapan pagi untuk Zalimar. Ummi Zee menata makanan itu dihadapan Zalimar dan Revan yang kini terdiam.
Abi Zidan mendekati istrinya itu. "Ummi," panggilnya yang membuat sang istri menoleh padanya.
"Ya? Mau sarapan di sini atau?" jawabnya sembari bertanya kesediaan lelaki paruh baya yang sudah lama menjadi suaminya itu.
Itulah Ummi Zee. Sekesal apapun ia pada suaminya, ia tetap menyahuti ucapan suaminya. Semua itu merupakan ciri-ciri salah satu istri taat pada suaminya.
Ummi Zee menghela napasnya karena tidak mendengar jawaban suaminya yang kini menatap lekat pada putrinya yang kini menunduk.
"Ummi masuk dulu. Tak enak pada kedua iparku itu," ucapnya. Beliau segera berlalu meninggalkan ketiganya.
Tinggallah ketiganya saja. Revan yang paham akan keadaan, ia memilih bangkit dan pergi darisana. Akan tetapi, tangannya dicekal oleh Zalimar yang membuat pemuda itu urung untuk pergi. Ia kembali duduk di samping kiri Zalimar.
__ADS_1
Tangannya cekatan mengambil nasi dan omelet yang ia buat tadi. Revan membuka niqob Zalimar. Ia mencuci tangan dan segera menyuapi istrinya itu.
Abi Zidan mendekati putrinya dan duduk dihadapan Zalimar yang tetap menunduk tidak menatap padanya. Abi Zidan menghela napasnya.
Sejak kejadian lima belas tahun silam, putri sulungnya itu seakan menjauh darinya.
"Nak. Apakah kamu masih marah sama abi? Abi hanya mencoba untuk mengatakan yang sebenarnya padamu. Tidak baik memelihara dendam yang membuat hatimu kotor. Abi menyuruhmu untuk melupakan semua itu agar hatimu tidak tercemar. Hatimu akan rusak jika memelihar dendam, Nak. Tak baik," tuturnya lembut pada Zalimar yang bergeming melihat padanya.
Revan memilih diam. Ia tidak akan ikut campur. Kali ini, biarlah uwaknya itu berbicara dari hati ke hati dengan istrinya. Revan terus menyuapi Zalimar yang tidak menolak suapan dari tangan suaminya.
"Kenapa? Kenapa Abi memaksaku untuk berbicara jika abi sudah tahu kenapa aku memilih diam?" tanya Zalimar yang membuat abi Zidan menatap nanar padanya.
"Nak, cobalah mengerti keadaan abi. Abi hanya-,"
__ADS_1
"Tak apa, Bi. Aku paham, bahkan sangat paham akan keadaan Abi. Aku ikhlas, kok. Sudah seharusnya, Abi melakukan hal ini padaku. Lagipula, aku bersalah bukan? Aku bersalah karena sudah menampar putri kalian di masa lalu. Untuk itu, aku minta maaf. Aku minta maaf karena sudah menamparnya yang lancang mengatakan jika aku sudah berzina dengan lelaki lain selain Damar!"
Deg!
Abi Zidan terkejut. "Apa?" tanyanya
Zalimar tersenyum sinis, tetapi sendu. "Aku minta maaf atas semua kelakuanku selama ini. Aku tahu aku salah. Makanya aku lebih memilih diam daripada berbicara yang ujungnya akan membuat kalian kecewa lagi padaku. Sedari dulu aku sudah melihat perubahan kalian terhadapku. Kalian begitu menyayanginya. Kalian begitu memuja dan membanggakannya. Tidak sepertiku yang selalu membuat kalian malu karena ulahku dan mencoreng nama baik kalian berdua. Saudariku baik dan patuh pada kalian berdua. Sedang aku? Aku pembangkang. Tidak sekalipun aku mendengar apa yang kalian katakan. Jadi, berhentilah untuk mencoba menasihati anak pembangkang ini."
"Lebih baik Abi mengurusnya daripada mengurusku. Aku tahu dan aku sadar diri makanya aku memilih diam. Bukankah ini yang selalu Abi minta dariku? Lantas kenapa sekarang Abi begini? Kenapa, Bi? Apakah aku terlalu kejam sebagai anak dan saudari? Jika iya, aku minta maaf. Aku salah. Aku akan meminta maaf padanya bair Abi senang," tururnya pelan walau dengan hati tercabik-cabik.
Revan mengelus lembut punggung istrinya. Abi Zidan menatap lekat padanya.
"Andai Abi tahu, kenapa aku menolak menikahi Damar, pastilah Abi tidak akan menyudutkanku seperti ini. Aku sadar sekarang. Kehadiranku di sini hanya membuat kalian pecah belah. Oleh karenanya, aku memilih pergi. Abi tenang saja. Aku tidak akan membawa apapun dari rumah ini selain tubuhku saja. Aku akan menggunakan baju yang suamiku berikan untukku ketika aku pergi dari sini. Setelah aku pergi, aku harap, Abi bisa berbahagia dengan anak abi yang lain. Abi juga tidak akan terganggu dengan kehadiranku yang mengganggu Abi dengan cucu kandung Abi. Maafkan aku, Abi!" Zalimar mengecup tangan lelaki paruh baya yang mematung itu.
__ADS_1
Ia berlalu meninggalkan Revan yang gelagapan seketika mengejar istrinya setelah berpamitan pada mertuanya yang kini meneteskan air matanya melihat kepergian putri sulungnya yang begitu terluka karena kejadian lima belas tahun silam.
"Maafkan Abi, Nak. Abi tak bermaksud. Abi minta maaf," lirihnya berbisik.