
"Abang tetap bekerja dan kuliah padanya. Ia membayar upah abang sesuai karyawan yang lain. Dari uang itulah abang bisa membantu kebutuhan kamu hingga kamu selesai kuliah mengambil spesialis dokter bedah. Selesai dari Amerika, abang kembali ke Inggris. Abang harus bertahan di sana selama satu tahun untuk menambah ilmu tentang perusahaan dan juga tatacara pengelolaannya agar semakin bertambah pesat. Beliau jugalah yang mendaftarkan abang di sana. Setelah dari sana, abang kembali ke Singapura. Ada opa dan papa yang menunggu abang untuk serah terima sebagai pemilik perusahaan."
"Tidak cukup sampai di situ. Abang harus kembali ke Inggris, sebab profesor yang mengajarkan abang banyak ilmu meninggal dunia dan meminta abang untuk menjadi dosen di fakultas miliknya. Abang bertahan lagi di sana, padahal waktu itu abang sangat ingin pulang menemui dirimu. Rencana abang waktu itu, ingin menikahimu dulu baru kembali ke Inggris. Akan tetapi, penolong abang itu tidak membolehkannya. Katanya, abang harus di sana dulu agar pikiran abang tidak terbagi. Setelah putra sulung profesor itu kembali dari Jerman, maka abang boleh pulang ke tanah air."
"Seperti yang kamu tahu, abang dari Inggris langsung pulang ke Medan untuk menemuimu. Walau abang tahu kamu di Aceh waktu itu, tetap saja abang memilih pulang ke Medan dulu baru ke Aceh. Abang mengucap ijab atas nama kamu tanpa sepengetahuan papa. Makanya waktu itu, papa begitu kesal sama abang," ujarnya menceritakan kejadian lalu kemudian tertawa.
Zalimar tersenyum. Revan senang melihat itu. Ia mengecup singkat pipi chubby istrinya, Zalimar tersipu malu. Revan terkekeh.
"Makan, yuk? Abang lapar. Sebentar lagi abang harus sholat Jum'at," imbuhnya yang diangguki oleh Zalimar.
Ia pun bergerak cepat menyiapkan makan siang mereka yang sudah tersedia di sana. Keduanya makan sepiring berdua. Revan yang memintanya. Keduanya pun makan bersama dengan sesekali tertawa akibat Revan yang usil terus berbicara ketika sedang makan. Ada saja ulah Revan untuk membuat istrinya tertawa.
__ADS_1
Sementara itu di luar kamar mereka, Zianti dan semua keluarga sedang berkumpul membahas tentang perusahana raksasa milik Revan. Zianti memilih diam ketika keluarga suaminya membicarakan suami saudara kembarnya.
"Oh, ya, ampun Damar! Ternyata, ipar kamu, toh, pemiliknya?" ucap salah seorang tamu undangan pernikahan Zalimar dan Revan.
"Iya, Anda benar Tuan Alex. Saya pun tidak menyangka, jika Tuan Revan pemilik sah dari perusahaan raksasa itu. Apakah Anda sudah tahu tentang ini Tuan Jerry?" timpal salah satu tamu yang lain sambil bertanya pada Ayah Jerry yang kini terdiam tanpa kata.
Lelaki paruh baya itu sedikit shock ketika mengetahui jika Revanlah pemilik sah perusahaan itu. Selama empat tahun ini, mereka hanya tahu jika Tuan Smithlah pemiliknya, sebab hanya Tuan Smith yang selalu memerintahkan semu karyawan selama ini. Beliau hanya tangan kanan Revan saja yang di utus langsung oleh Tuan Kendrick, penolong Revan ketika membangun perusahaan bangkrut itu.
Ayah Jerry tidak tahu akan hal itu apalagi putranya. Abi Zidan pun tidak mengetahui itu. Sahabatnya itu baru tahu ketika Revan menikahi Zalimar sebulan yang lalu. Ketika itu pun abi Zidan tidak mengatakan apapun padanya. Abi Zidan memilih diam hingga hari ini ia dikejutkan dengan keberadaan Tuan Smith dan Tuan Kendrick serta istri mereka untuk menghadiri pernikahan itu.
"Anda beruntung sekali tuan Jerry! Jika seperti ini, kita bisa meminta bantuan padanya jika perusahaan kita mendapat masalah?" ucapnya kegirangan berharap ayah Jerry bisa menolongnya.
__ADS_1
"Anda benar Tuan Alex. Saya pun berpikir demikian. Semoga tuan Jerry dan Damar bisa membantu kita nantinya!" timpal salah satu tamu yang lain.
Mereka begitu berharap kepada ayah Jerry. Akan tetapi, pria paruh baya itu tidak bisa menjawabnya. Bagaimana bisa ia bisa mengabulkan permintaan orang itu, sementara hubungannya dengan Zalimar saja belum membaik hingga saat ini. Apakah ia harus menjadi penjilat?
Tidak! Beliau bukan penjilat. Masa lalu itu begitu sulit terlupakan. Walau bukan Zalimar pelakunya, tetap saja. Rasa sakit dan dendam itu masih ada untuk Zalimar. Karena perjodohan itu, putranya sampai mengalami hal demikian. Walau tidak di pungkiri, Zalimarlah yang sudah menyelamatkan nyawa putranya.
Ayah Jerry menghela napas berat. Damar menatap lekat ayahnya itu. Ia pun berpikiran sama dengan sang ayah. Tidak mungkin mereka mendekati Revan setelah tahu jika suami Zalimar itu pengusaha sukses dan kaya raya yang memiliki banyak perusahan di bawah perusahaannya?
Damar malu memikirkan hal itu. Ia tidak akan menjadi seorang penjilat hanya untuk mendapat bantuan Revan, ipar istrinya. Ia masih punya harga diri untuk melakukan hal itu. Jika perusahana mereka bekerja sama, maka ia akan profesional untuk itu.
Satu fakta yang kini menghantam jiwa semua orang. Ternyata semua orang baru tahu, jika abi Zidan memiliki seorang menantu dan keponakan yang luar biasa bisa memiliki perusahan raksasa di negeri orang.
__ADS_1
Zianti mengepalkan kedua tangannya ketika ia mendengar ucapan semua rekan kerja suaminya yang memuji kehebatan Revan, suami zalimar.
"Aku tidak akan membiarkan Zalimar bahagia! jika aku bisa mendapatkan Damar, maka aku juga bisa mendapatkan Bang Revan! Lihat saja!" gumamnya dengan senyum licik muncul di bibirnya.