
Ia menuntun Zalimar ketika wanitanya itu sedikit aneh. Ia memeluk Zalimar sedikit erat. Terdengar erangan halus di telinganya. Zafran terkejut.
Ia menatap Revan yang mengangguk padanya. "Pergilah. Periksa makanan itu, apa benar tidak memiliki obat di dalamnya?" ucap Revan kembali seperti biasa.
Zafran mengangguk tanpa berkata sepatah kata pun. Ia mengerti akan perintah Revan. Sementara itu, Zalimar terus merasakan keanehan di tubuhnya. Panas dan sedikit aneh?
"Issstt.. Kenapa dengan tubuhku? Eugh, Abang!" serunya pada Revan yang sedang mengetik pesan pada asistennya untuk membeli obat untuk Zalimar.
Revan meletakkan ponselnya di nakas. Ia memeluk Zalimar dengan erat ketika wanita itu terus bergerak.
'Sialan! Zalimar hanya sedikit mencicipi makanan itu! Kenapa efeknya seperti ini?' gumamnya dalam hati sambil mengumpat lagi.
Wajahnya merah padam menahan rasa geli akibat perbuatan Zalimar di tubuhnya.
"Eugh, ya, Allah! Nggak sekarang, Dek! Nanti saja di Bali!" serunya blingsatan.
Zalimar tidak peduli. Ia sibuk dengan tugasnya.
"Sentuh aku! Sentuh aku! Sekarang!" teriaknya gusar yang membuat Revan kelimpungan sebab gaspernya sudah terlepas dengan celana bahannya melorot sedikit.
Jika ada yang melihat kelakuan keduanya saat ini pastilah tertawa. Bagaimana tidak, jika Zalimar terus berusaha membuka, maka Revan menariknya lagi untuk menutupi aset berharganya.
Zalimar marah akan tindakan Revan, ia mendorong Revan hingga terjungkal ke ranjang.
Bruuk!
Tubuh keduanya jatuh di ranjang bertepatan dengan tuan Smith dan Zafran membuka paksa pintu kamar itu. Spontan saja Revan membalik tubuhnya agar aurat Zalimar tidak terlihat oleh Tuan Smith.
__ADS_1
Beliau membelakangi keduanya. Zafran melongo melihat kakaknya terus menarik celana abang iparnya hingga terlihatlah celana pendekk selutut di tubuhnya. Zalimar mengamuk dan memukuli tubuh Revan.
"Sentuh aku! Sentuh aku! Aku istrimu! SEKARANG!" teriaknya kuat.
Zafran mendekati keduanya ketika tuan Smith memberikan sebotol obat pada Zafran. Revan mengulurkan tangannya dan menerima obat pemberian Zafran dengann sesekali menahan tangan Zalimar yang sudah nangkring di pusat tubuhnya.
Zafran mematung melihat itu. Ia tidak beranjak sedikit pun sebab Revan melarangnya untuk pergi. Butuh waktu untuk Revan memberikan obat itu. Namun, obat itu tak kunjung masuk ke mulut Zalimar.
Geram karena terus meronta, Revan mengambil jalan lain. Ia meminum obat itu dan mencium Zalimar dihadapan Zafran yang spontan menutup kedua matanya.
Revan menyalurkan obat itu ke mulut Zalimar dari mulutnya yang membuat wanitanya itu meminumnya seketika. Tidak berhenti di sana, Zalimar masih saja meronta sebab butuh waktu untuk obat itu bereaksi.
Sepuluh menit kemudian, barulah Zalimar kembali tenang dan terlelap. Revan menghela napas kasar. Ia bangkit dan menaikkan kedua celananya yang sudah dibuka paksa oleh Zalimar tadi.
"Dek!" panggilnya pada Zafran yang masih mematung dengan mata terpejam. Revan terkekeh.
"Hah? I-iya!" jawabnya gugup dan malu.
"Emm.. A-anu, Bang." Jawabnya gugup
Revan menoleh padanya. "Kenapa? Apakah sangat fatal?" tanyanya yang diangguki oleh Zafran dengan menunduk.
Suara dentingan sendok di piring keramik membuat Zafran terkejut.
"Sialan! Berapa banyak yang kakak kamu berikan di dalam makanan itu?" tanyanya dengan raut wajah memerah menahan amarah.
Zafran masih saja menunduk. "A-anu, k-kata Tuan Smith tadi, o-obat itu b-berdosis tinggi," cicitnya pelan di ujung kalimatnya.
__ADS_1
Prangg
Suara hempasan benda berbentuk kaleng mengejutkan Zalimar. Spontan saja wanita itu bangkit dari tidurnya dengan mata memerah. Zafran mundur ke belakang ketika melihat abang iparnya itu menahan amarah yang sangat.
Zalimar terkejut melihat suaminya itu demikian. Dengan tubuh lemas dan sempoyongan, ia memeluk suaminya.
Nyesss..
Bara api yang sedang menyala itu redup seketika. Revan menghela napas kasar hingga berulangkali. Ia memeluk Zalimar dengan erat.
"Kita percepat keberangkatan kita ke Bali. Setelah acara ini selesai dan semua orang terlelap, kita akan bernagkat! Bersiaplah!" Ucapnya yang diangguki oleh Zalimar dan Zafran.
Adik bungsu Zalimar itu segera keluar dari kamar itu dan menemui tuan Smith dengan tergesa. Wajahnya terlihat begitu panik. Semua itu terlihat jelas di mata Zianti. Ia tersenyum sinis.
"Sekali aku mengklaim jika dia milikku, maka akan menjadi milikku! Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkannya!" ucapnya bertekad penuh semangat.
Tua Smith segera menemui Tuan Kendrick dan berbisik lirih. Beliau terkejut. Spontan saja beliau berlari menuju ke kamar Revan di ikuti mom Stefany yang menyingsing rok kebayanya setinggi betis mengikuti langkah lebar suaminya.
Mereka tiba di depan kamar Revan yang segera beliau dobrak paksa. Ketiganya mematung di tempat ketika melihat Zalimar sedang menenangkan Revan yang masih di kuasai amarah.
"Nak," panggilnya segera melangkah masuk
Revan berbalik dengan raut wajah marah. "Kita berangkat malam ini, Dad. Jangan ada seorang pun yang tahu! Jika aklian menahanku, jangan salahkan aku membunuhnya!"
Deg!
Deg!
__ADS_1
Zafran bergidik ngeri melihat kemarahan abang iparnya yang tidak main-main kali ini. Dua kali Zafran melihat Revan menahan amarah seperti ini.
Zafran hanya bisa menghela napas panjang. "Kamu salah lawan Kak. Jika itu bang Damar, bisa kamu kelabui, tapi tidak dengan bang Revan! Semoga kamu baik-baik saja setelah ini," gumamnya sembari berlalu meninggalkan ke empat orang itu.