Ikatan Takdir

Ikatan Takdir
Ungkapan cinta Zalimar


__ADS_3

Zalimar memeluk erat tubuh Revan yang kini memeluknya. Keduanya terus larut dalam rasa yang haru dan bahagia. Zalimar tidak menyangka, jika ia sudah mencintai Revan sedari dulu. Hanya saja, semua itu tertutup karena kehadiran Damar yang katanya bakal jodoh yang ternyata jodoh saudarinya sendiri.


"Sejak kapan?" tanya Revan dengan mata terpejam.


Dagunya ia letakkan di atas kepala Zalimar yang sudah terbuka. Sengaja ia buka ingin melihat luka di kepala wanitanya itu.


Zalimar tersenyum dalam mata terpejam. Ia masih mengingat jelas jika rasa itu sudah ada sejak mereka bertemu setelah tamat SD. Lebih tepatnya kelas satu SMP.


Waktu itu, Revan sengaja ingin menemuinya. Sebab ia akan mondok lebih kurang empat tahun, dilanjut empat tahun ke depannya. Jadi, mereka akan jarang bertemu setelah itu. Revan sempat mengatakan cinta padanya. Cinta monyet pada masa itu. Zalimar tersipu mengingat itu.


"Kok, diam?" tanya Revan lagi.


Zalimar terkekeh. Ia meringis ketika merasakan tangan kirinya sedikit nyeri ketika ia tarik paksa. Revan spontan saja membuka matanya.


"Kenapa? Apa yang sakit?" tanyanya panik.


Zalimar tersenyum. "Nggak, nyeri dikit aja, sih. Tanganku patah atau?"


"Tanganmu terkilir. Keluar dari sini kita akan bawa kamu ke dukun patah agar tangan kamu bisa di urut," jawabnya yang diangguki oleh Zalimar.


Keduanya kembali terdiam. Revan masih menatap lekat cintanya itu. Zalimar yang sadar segera menoleh padanya.


"Kenapa abang lihatin aku begitu? Ada yang aneh dengan wajahku?" tanya bingung.


Revan menggeleng dan terkekeh.


"Terus?" lanjutnya lagi.


"Kamu belum jawab pertanyaan abang!" katanya


"Yang mana?" kali ini Zalimar sedikit pelupa.


Revan berdecak sebal. Zalimar terkekeh. Ternnyata ia pura-pura lupa untuk mengalihkan ingatan suaminya itu tentang pertanyaan yang ia ajukan tadi.


Zalimar terkikik geli melihat wajah masam suaminya. "Penting banget, ya, harus aku jelasin gitu?" ucapnya yang diangguki cepat oleh Revan.

__ADS_1


Spontan saja Zalimar tertawa keras. Para orangtua yang baru tiba di luar terkejut mendengar suara tawa itu termasuk bagas. Ia menatap papa Kenan yang kini juga menatap padanya. Keduanya lantas terkekeh karena sudah menyadari jika kedua orang itu sudah sadar dan sedang berbicara berdua saja.


Mereka mengerti akan hal itu dan memilih menunggu keduanya selesai berbicara. Mama Bella dan ummi Alzana bersyukur akan hal itu.


Kembali pada Zalimar dan Revan.


"Ck. Jangan tertawa, Sayang! Abang butuh jawaban. Bukan tertawa kamu!" ucapnya dengan ketus yang membuat Zalimar semakin kuat tertawa.


Revan sebenarnya ingin tertawa. Akan tetapi, ia sengaja membuat dirinya pura-pura kesal sebab ia ingin tahu isi hati istrinya itu untuknya. Ia tersenyum senang di dalam hati. Wajah berkata lain, hati pun demikian. Ck. Dasar Revan! Sungguh pandai ia bersandiwara. Seperti mama dan papanya! Eh? 🤣


Zalimar berhenti tertawa. "Abang ini, kok, yang kayak anak perawan aja, sih?" ledeknya pada Revan yang kini mendengkus mendengar ucapannya.


"Abang nggak perawan, Sayang! Tapi, perjaka!" jawabnya masih juga ketus.


Zalimar tertawa lagi. Ia sangat menyukai jika Revan berkata ketus begitu. Wajah tampan nan juteknya itu begitu menggemaskan untuk ia lihat. Kadar cinta yang terpendam itu kembali mencuat saat ini. Ia menatap lekat wajah Revan yang kini semakin tampan terlihat olehnya.


Blusshh..


Spontan saja semburat merah itu muncul di pipinya. Revan menaikkan alisnya sebelah, pertanda heran pada Zalimar.


Zalimar tersenyum malu. Ia menundukkan wajahnya. "Abang tahu? Rasa ini, tuh, sudah ada sejak lama. Hanya saja, tertutup oleh kehadiran orang lain di sampingku. Sebenarnya, aku sudah lebih dulu menyukaimu. Mungkin, ini terdengar aneh. Tapi, inilah yang terjadi padaku ketika pertemuan terakhir abang akan mondok dulunya," pipinya merona merah.


Revan tertawa senang di dalam hati. Akhirnya ungkapan suara hati istrinya kini tercetus juga. Namun, untuk mengorek isi hati itu lebih dalam, Revan sengaja berpura-pura agar Zalimar mau mengatakannya dengan jujur.


"Maksudnya? Abang tidak paham? Sejak kapan kita bertemu?" tanyanya pura-pura bingung sengaja memancing ikan dalqm air keruh. Eh?


Zalimar menoleh padanya dan tersenyum lembut padanya. Berdesir hati Revan. Jantung itu semakin berdegup tidak karuan. Ia salah tingkah ditatap lekat oleh istrinya seperti itu.


"Ck. Ehm, jangan tatapa abang begitu, napa?!" ucapnya ketus salah tingkah yang membuat Zalimar terkekeh-kekeh.


Ia menyukai Revan ketus begitu padanya. "Gemas dan makin cinta! Eh?" Zalimar mengerjab ketika suara hati itu membuat Revan menatap lekat padanya.


"Kenapa?" tanya Zaalimar. Kini ia pula yang kebingungan.


"Kamu bilang apa baru saja? Gemas dan makin cinta? Sama siapa? Sama abangkah?" tanyanya percaya diri sekali.

__ADS_1


Zalimar meringis geli. Ia pun terkekeh lagi. Ia kembali menatap Revan dan mengangguk padanya.


Yes!


Soraknya dalam hati.


"Sejak kapan kamu mencintai suamimu ini?" tanya Revan dengan lekat.


Zalimar tersenyum manis.


Haisshh..


Revan salah tingkah lagi.


'Ck. Bisa-bisanya aku yang seperti anak perawan! Haissh.. melihat senyumnya saja jantungku udah cenat cenut! Gimana kalau seluruh tubuhnya? Eh? Astaghfirullah! Sadar elu Revan! Haiissh.. Dasar mesum!' umpat Revam dalam hati.


"Jangan mengumpat dalam hati. Aku tahu jika abang sedang kesal saat ini. Sabar dulu, dong!" ucapnya lirih yang membuat Revan terkekeh kecil.


Ia merebahkan tubuhnya dan menghadap pada Zalimar yang kini menghadap juga padanya.


"Katakan!" titahnya


Zalimar tersenyum. "Cinta itu datang tanpa kita sadari, Bang. Aku pun demikian. Entah sejak kapan hati ini menyukaimu, aku pun tak tahu. Yang jelas, rasa itu kembali bangkit ketika aku melihatmu bersama Savana di dapur minggu lalu." Ucapnya yang membuat Revan semakin lekat menatapnya.


"Aku tak suka melihatmu dekat-dekat Savana. Aku kesal dan ingin marah waktu itu, tapi tak bisa! Aku ingin sekali melempari kalian dengan sayuran yang aku bawa pulang. Kesal sekali aku melihatmu diam saja saat dia berada di dalam pelukanmu!" ucapnya tiba-tiba ketus.


Revan tersenyum. "Dengan kata lain kamu cemburu?"


Zalimar mendengkus tak suka. "Iya, kenapa? Masalah buat abang?!" balasnya masih juga ketus. Revan tertawa. Zalimar semakin kesal. "Lagian abang, tuh, ya, yang kayak suka banget, sih, di peluk adik sepupuku? Senang, iya? Besaran mana punyaku sama punya dia?" ucapnya semakin ngaur dan juga semakin ketus.


Revan tergelak keras. Ia smapai memeluk Zalimar saking gemasnya pada istrinya itu yang ternyata sudah memiliki rasa padanya.


Pantas saja kemarin ia menangis ketika ucapan itu keluar dari bibirnya. Akhirnya, Revan bisa tahu isi hati Zalimar untuknya.


Napas Zalimar masih memburu. Revan mendekap erat tubuh lemah itu.

__ADS_1


"Terima kasih karena kamu sudah mencintai abang. Dengan begini, abang semakin yakin untuk mengenalkan kamu ke seluruh dunia. Bahwa kamulah istri sah dari seorang Revan Putra Alamsyah. Abang akan mengumumklan pernikahan kita. Abang akan mengadakan resepsi dan nikah ulang sebagai pelengkap nantinya. Kamu butuh pengakuan dan abang sudah mendapatkan pengakuan kamu. Terima kasih, Sayang! Abang pun sangat mencintaimu!" ucapnya semakin erat memeluk Zalimar yang kini tersenyum dan mengangguk dalam dekapan suaminya.


__ADS_2