
"Aya, terima kasih banyak ya sarapannya. Besok jangan lupa datang kerumah bersama dengan Rey, mama akan menunggu kalian," ucap Mama Salamah berpamitan setelah sarapan.
"Insyaallah, Mah. Mama hati-hati dijalan ya," jawab Aya.
"Iya sayang."
"Tante, hati-hati ya. Senang bertemu dengan Tante," ucap Yunhi.
"Iya cantik, sama-sama. Tante juga senang sekali berkenalan denganmu, semoga kalian bisa menjadi tetangga yang akur."
"Iya Tante, kami akan selalu akur dalam hal apapun," jawab Yunhi sembari tersenyum melirik Aya.
"Yunhi adalah anak yang baik Mah," ucap Aya.
"Syukurlah, jika begitu Mama pulang dulu ya. Assalamualaikum .."
"Walaikum salam ..."
"Mamah, mertua yang baik ya mbk?" ucap Yunhi menggandeng tangan Aya untuk masuk kedalam.
"Hemm,, kalian kenapa tidak jujur saja kepada mamah?"
"Akan ada saatnya mbk," jawab Yunhi sembari menatap tangga, nampak seorang pria dengan gayanya memakai jas dengan terburu-buru.
Aya mengikuti kemana arah lensa mata Yunhi memandang. Sama seperti Yunhi, kini Aya merasakan kinerja jantungnya lebih bersemangat.
"Mbk, bukankah suami kita sangat tampan?" goda Yunhi yang melihat Aya terus-terusan memandang, Rey.
Aya yang mendapatkan godaan dari Yunhi langsung menundukkan kepalanya.
Aya tidak tahu harus menjawab apa.
Ia benar-benar sangat merasa canggung.
Walaupun kini tidak haram baginya untuk memandang sang suami, namun ia masih belum siap untuk banyak hal.
"Apa yang kalian bicarakan?" Suara Rey membuat jemari tangan Aya merapatkan persatuan.
"Kata mbk Aya, kak Rey sangat tampan," jawab Yunhi sambil tersenyum mengarah ke Aya yang sedang dilanda kegugupan yang dahsyat.
"Yunhi,! Aku tidak mengatakan apa-apa!?" sahut Aya menolak keras tuduhan Yunhi.
"Hahaha, mbk Aya ini. Tidak perlu dikatakan, aku sudah tahu apa yang ada dimata mbk Aya," ucap Yunhi mencoba semakin dalam menggoda Aya.
Mendengar tuturan Yunhi membuat Aya semakin dalam menenggelamkan tundukkannya.
Rey hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kedua istrinya yang asyik bergurau sendiri.
"Sudah, sudah. Aku akan berangkat kekantor sebentar, ada urusan mendadak. Sore aku akan sudah ada dirumah," ucap Rey.
"Lalu, bagaimana dengan rencana pernikahan ulang kalian?" tanya Aya.
"Aku serahkan semua kepadamu Aya. Aku percaya denganmu," jawab Rey tersenyum.
"Iya mbk, kami percaya dengan mbk Aya. Terima kasih karena mbk Aya bersedia menjadi saksi di pernikahan kami yang sesungguhnya," ucap Yunhi.
"Ini sudah kewajiban aku. Meluruskan apa yang harus diluruskan. Bukan fatwa aku, namun ini sudah ada aturannya dari dalam beberapa hadits. Aku juga bukan manusia sempurna, hanya saja, bukankah lebih baik kita harus bersama-sama untuk menjadi pribadi yang lebih baik."
"Aku jadi penasaran tentang banyak hal, maukah mbk Aya mengajari aku untuk mendalami agama Islam?"
"Alhamdulillah, insyaallah aku akan membimbing kamu dikit demi sedikit. Kita bisa belajar bersama-sama."
"Ya sudah, aku pamit dulu ya," ucap Rey yang menatap jam di tangannya, lalu memberikan tangannya kepada Aya terlebih dahulu.
Perlahan Aya menyibakkan cadarnya dan mencium tangan suaminya. Seperti biasa, Aya akan melakukan dengan cara bolak-balik.
Aya menatap intens kearah mereka.
__ADS_1
Kini giliran Yunhi yang akan bersalaman dengan suaminya.
Ingin meniru Aya, Yunhi membiarkan bibirnya mencium lama punggung tangan Rey.
Rey dan Aya yang mengerti maksud Yunhi, berdecak senyum.
"Kenapa? Bukankah mbk Aya juga melakukan ini. Kenapa kalian menertawai aku?" tanya Yunhi heran.
"Sayang, cara Aya bukan begitu. Dia mencium tanganku sembari membolak-balikan tanganku, bukan hanya dicium selama satu menit seperti tadi," jawab Rey memberi pengertian. Karena tangan Rey tertutup cadar Aya, jadi Yunhi tidak dapat jelas melihat apa yang dilakukan Aya pada tangan Rey.
"Oh, begitu. Hehehe, maaf aku tidak tahu."
"Tidak papa, sekarang aku berangkat dulu ya. Emm,,, siapa yang mau kecium duluan," goda Rey.
"Tuh, patung pancuran yang ada didepan," sahut Yunhi mengejek Rey.
"Haha, aku hanya bercanda. Aku berangkat ya, assalamualaikum?"
"Walaikum salam ..."
*********
"Mbk Aya, maukah mbk Aya mengajari aku mengaji? Supaya lidahku tidak kaku ketika nanti akan bersyahadat didepan pak penghulu."
"Dengan senang hati, saudariku. Mau perkenalkan huruf Hijaiyah dulu, atau langsung belajar mengaji?"
"Perkenalkan dulu saja mbk."
"Baiklah .."
Sembari berjalan naik keatas balkon, obrolan kecil terdengar sangat akrab.
"Maaf Yunhi sebelum. Jika boleh tahu, sebenarnya agama apa yang kamu anut sebelumnya?" tanya Aya dengan sangat hati-hati.
"Bukankah sudah kukatakan. Selama ini hidupku tidak jelas, berarti aku tidak menganut agama apapun," jawab Yunhi tersenyum.
Aya mengerutkan keningnya.
"Emm, kami belum menikah mbk, kami baru mendaftarkan nama kami di KUA," jawab Yunhi santai, namun itu benar benar membuat Aya terkejut dan meninggalkan beribu-ribu pertanyaan dalam hati Aya.
Aya tidak dapat mencerna apapun apa yang telah terjadi. Aya terbengong sesaat sembari mengumpulkan semua pertanyaan yang ingin dia tanyakan. Sampai akhirnya, rasa pusing melanda kepalanya yang tiba-tiba terasa berat. Jantung Aya kini berdetak sangat cepat. Sebuah drama besar ada didepannya, namun Aya tidak menyadari apapun.
Kini kaki mereka telah sampai diatas balkon. Yunhi melepaskan pegangan tangannya terhadap Aya. Yunhi mengerti dengan keterkejutan Aya, ia sengaja diam dan membiarkan Aya mencerna segalanya.
"Yu-yunhi ...?" panggil Aya terbata.
Yunhi mengambil posisi duduk sembari tersenyum.
"Iya mbk, tanyakan saja apa yang ingin mbk Aya tanyakan?"
"Apakah itu alasan kamu,? memilih tidur bersamaku tadi malam?" tanya Aya yang mulai mencoba untuk menanyakan segalanya.
"Iya, mbk," jawab Yunhi santai sembari tersenyum kearah Aya yang terlihat masih syok.
Mata Aya adalah jawaban dari segala ekspresi yang sedang Aya rasakan.
Beberapa detik Aya terjaga oleh keterkejutannya. Ia ingin marah, ingin memaki, ingin meluapkan semua emosinya, namun tertahan.
Yunhi yang melihat keterkejutan Aya yang mendalam, tidak tahan untuk tertawa.
"AHahahaha... Hahahaa... Apa yang sedang mbk Aya fikirkan?. Jelas kami belum sah menikah, karena pernikahan kami berbeda keyakinan, bukankah itu yang mbk Aya katakan? Jika pernikahan kami tidak sah! Dan sekarang kami baru akan mendaftarkan nama kami di KUA dengan status yang jelas," jelas Yunhi sembari tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Aya.
Mendengar penjelasan Yunhi dan tawanya. Membuat hati dan fikiran Aya tidak kondusif, entah ekspresi seperti apa yang harus ia pancarkan, semua yang terjadi masih belum dapat ia fahami dengan baik. Entah dia yang terlalu serius, atau dia yang tak dapat bergurau ria.
"Yu-yunhi ..?" ucap Aya terbata, membuat Yunhi yang sedang tertawa terbahak meluruskan pandangannya dan mengatur nafasnya.
"Ahahaa, huft. Iya mbk? maaf ya, aku terlalu bersemangat mengerjai mbk Aya," ucap Yunhi sembari tersenyum kembali.
__ADS_1
"Ah, tidak papa Yunhi. Emm, kita mulai belajarnya?" tanya Aya.
"Jadi dong. Jadi pertama-tama, kita harus apa?" tanya Yunhi yang mulai serius dan antusias.
"Kita ambil air wudhu terlebih dahulu. Lalu, jika kamu tidak keberatan, kamu harus menutup aurat kamu juga," ucap Aya dengan perlahan.
"Iya mbk, tidak papa. Aku akan lakukan semua arahan dari mbk Aya."
.
Tahap demi tahap, kini Yunhi sudah siap untuk menjadi seorang muslim yang sesungguhnya. Berbalut mukena putih yang berenda, membuat wajah elok rupawan Yunhi memancarkankan sebuah aura binar yang menyilaukan seluruh cakrawala.
.
"Subhanallah, kamu cantik sekali Saudariku," puji Aya.
"Am-ambalah ..."
"Alhamdulillah," ucap Aya meluruskan.
"Ah, iya. Alhamdu lilah," ucap Yunhi kembali. Ia sesekali memutar-mutarkan tubuhnya. Yunhi merasa sangat nyaman dengan penampilannya saat ini.
"Iya begitu, ayok kita mulai. Bukankah nanti siang kita harus mendatangi penghulunya," ucap Aya.
"Iya mbk. Aku juga akan mengajak mbk Aya dimana aku dan kak Rey menikah ditempat keyakinan aku," ucap Yunhi sembari mengambil posisi nyaman untuk belajar.
Membahas tentang hal itu lagi, entah mengapa perasaan Aya tidak nyaman. Walaupun Yunhi mengatakannya beberapa kali, sangat sulit bagi Aya untuk mempercayainya.
Namun semua keraguan ia pendam dengan kalimat Allah yang dapat meredam segala kezaliman batin yang seharusnya tidak Aya lakukan.
"Bukankah kalian melakukannya di Gereja?" tanya Aya memastikan.
"Itukan kata bibik, ya kan?" ucap Yunhi yang malah kembali bertanya.
"Emm, iya," jawab Aya.
"Bibik itu tidak tahu apa-apa tentang aku, jadi mbk Aya jangan dengarkan dia," ucap Yunhi sembari tersenyum.
"Iya, Yunhi," jawab Aya singkat, ia tidak tahu lagi harus berkata apa.
Dengan kata "Bismillah" Aya mulai mengajari Yunhi mengenal huruf Hijaiyah satu persatu.
Dari "Alif" sampai ke "nun"
"Yunhi, sampai nun dulu ya. Aku ingin kekamar mandi sebentar," ucap Aya yang sepertinya sudah sangat menahanya sejak lama.
"Iya, mbk."
Sembari menunggu, Yunhi mencoba untuk mengulang kembali huruf-huruf Hijaiyah yang baru diajarkan sampai di huruf Nun.
Aya yang sudah selesai, mencoba memperhatikan Yunhi dari belakang. Ia sangat senang karena Yunhi anak yang sangat pandai, ia dapat mengulang kembali semua huruf yang sudah Aya ajarkan.
Namun, semakin lama semakin jauh dan dalam. Sepasang telinga yang Aya tajam kan, mendengar sesuatu yang sangat mencurigakan.
"Nun, wau, ha, lamalief, hamzah, ya' .!" Suara Yunhi terdengar sangat fasih membaca lanjutan huruf Hijaiyah yang belum Aya ajarkan cara melafalkannya.
Kini, lagi dan lagi Aya dibuat tercengang dengan semua kejutan yang selalu dibawa oleh madunya. Aya seperti telah terjatuh dalam sebuah lubang labirin, yang membuat semua hal rumit kini menjadi sangat lebih rumit.
..
..
..
..
Cerita ini hanyalah fiksi belakang. Tidak untuk menyingung siapapun dan agama apapun. Mohon maaf jika terdapat beberapa kata yang kurang berkenan. 🙏🙏
__ADS_1
..
Jangan lupa dukungnya dan menangkan hadiahnya 💓💓