
Beberapa polisi datang ke kediaman Tuan Maher untuk menjemput Rey.
"Selamat siang pak?"
"Siang, ada apa pak?" tanya Tuan Maher.
"Kami dari kepolisian ingin meminta keterangan dari bapak Rey, apakah beliau ada dirumah ini?"
"Iya pak ada, tapi saya tegaskan jika anak saya tidak ada hubungan dengan kelakuan dari kedua wanita gila itu," tegas Tuan Maher.
"Untuk lebih lanjut sebaiknya kita bicarakan di kantor polisi, pak."
"Hemm,, tunggu sebentar," ujar Tuan Maher.
Tuan Maher berjalan menaiki anak tangga untuk ke kamar Rey.
Disana mama Salamah sedang membujuk Rey supaya mau makan.
Rey terlihat sangat pucat, dia benar-benar gila dengan prilaku Kiana yang telah mengecewakan dirinya.
Apapun yang berhubungan Kiana akan membuat Rey bergidik jijik. Bahkan ia tidak ingin baju atau barang apapun yang pernah Kiana pegang atau sentuh. Bahkan makanan jenis apapun yang pernah Kiana buat, Rey enggan untuk memakannya.
"Sayang, makan dikit ya nak. Nanti kamu sakit, jika kamu sakit bagaimana dengan anak kamu? Dia saat ini sangat butuh perhatian dan kasih sayang lebih dari kamu, Rey." Mama Salamah terus membujuk anaknya. Namun Rey hanya diam tak bergeming.
"Mah, bagaimana?" tanya Tuan Maher yang masuk kekamar Rey.
"Dia masih tidak mau makan, pah."
"Rey, ada polisi yang ingin membawa kamu. Mereka ingin meminta keterangan dari kamu," ucap Tuan Maher.
"Apa pah, polisi !!? Anak kita tidak akan di penjarakan pah?" tanya mama Salamah cemas.
"Papah juga tidak tau," jawab Tuan Maher.
"Rey, ayo cepat kamu selesaikan semua ini, supaya kita bisa segara lepas dari masalah wanita itu!?"
"Tidak, Pah!"
"Rey ..!?"
"Sudah Rey katakan, Rey tidak mau pah!? Jika mereka ingin mengintrogasi Rey, suruh mereka datang kekamar Rey,!!"
Tuan Maher menghela nafas berat.
"Hemm, papa akan coba tanya kemereka, apa mau dan apa boleh."
"Boleh tidak boleh Rey tidak perduli,! Rey gak akan keluar dari kamar ini," tegas Rey.
Tuan Maher menggelengkan kepalanya dan keluar dari kamar Rey.
"Mah, Rey minta tolong. Jual mobil Rey, buang kursi, sendok, piring, yang pernah dipakai wanita itu dirumah ini. Jual juga rumah Rey yang ada di kompleks. Pokoknya semua yang pernah di sentuh oleh wanita itu buang atau jual. Aku sudah tidak sudi!!" ucap Rey dengan tatapan penuh kemarahan dan kebencian yang mendalam.
Mama Salamah sangat mengerti perasaan anaknya. Ia tak mengelak dan mengikuti semua permintaan Rey.
Setelah mama Salamah keluar, Rey mengambil jubah handuk yang ada dilempari. Jubah itu adalah jubah yang pernah dipakai oleh Aya. Rey mengingat, ia telah melewatkan malam setelah resepsi hanya untuk menghabiskan waktu mengobrol tidak guna bersama Kiana.
__ADS_1
Rey meratap, menyesali semua kebodohannya. Rasa pilu ia rasakan.
"Mungkin ini yang kamu rasakan waktu itu. Maafkan aku, Aya.." ratapan Rey mengingat masa-masa kebersamaan bersama dengan Aya.
"Dapatkah aku mengulang masa-masa itu kembali. Aku mohon, hiiks...." Rey memeluk dan mencium jubah handuk itu dengan sangat erat.
...
Di apartemen, Aya dan Wisnu sama-sama terkejut ketika melihat berita kematian 4 sultan yang didalangi oleh Kiana dan Yunhi.
"Astaghfirullah, umi sudah menduga Bi jika wanita itu tidak baik. Kasihan a'ak Rey, tetapi itu sudah pilihannya," ucap Aya sembari menyusun buah-buahan yang Wisnu beli ke wadah.
Klek.. Wisnu membuka kulkas. Glek... Glek.. ia meminum air mineral.
"Alhamdulillah.." ucapnya.
Wisnu berjalan dan mengambil remote untuk mematikan tv yang semua sedang heboh menyiarkan tentang teror Kiana dan Yunhi.
"Loh, kenapa dimatikan Bi?" tanya Aya.
"Umi, begitulah Rey. Jika sudah jatuh cinta, maka akan sulit untuk dia melepaskannya," ucap Wisnu yang mengingat masa lalu ketika SMP.
"Tapi masak ya segitunya sih, Bi. Dia bahkan rela di campakkan keluarganya. Padahal udah jelas-jelas jika Kiana dan Saudarinya itu sudah berbuat jahat," ucap Aya.
"Abi juga gak tau jalan pikirnya. Memang kalo yang ini dia sudah kelewatan jauh mencintai wanita yang salah. Hemm, sudahlah. Kita doakan saja semoga dia dapat mengambil hikmah dari semua ini," ujar Wisnu yang tak ingin membahas Rey.
"Iya Bi, kasihan juga anaknya. Hemm, bagaimana perasaannya kelak jika rumor tentang ibunya masih ada," ucap Aya sambil berfikir.
"Sudahlah, Mi.. tidak perlu terlalu dipikirkan, biarkan semua berjalan apa adanya. Semua manusia memiliki kesalahan tersendiri, kita jangan terlalu menzolimi orang lain. Lagian belum tentu dosa yang kita anggap kecil, Dimata Allah juga kecil. Bisa saja dosa kecil kita lebih besar dari pada dosa besar yang sudah mereka lakukan, Wallahu alam."
Wisnu melangkah menghampiri istri tercinta.
Perlahan memeluknya dari belakang. Entah mengapa ia sangat menyukai posisi itu, ada rasa tersendiri yang ia rasakan, dan mungkin ini akan menjadi candunya.
"Ah, Abiii ..." pekik Aya terkejut.
"Umi,,," panggil Wisnu dengan nada lembut dan mendalam kan kepalanya di pundak Aya.
"Iya Bi, ada apa?" tanya Aya.
"Boleh Abi bertanya?"
"Tanya apa?"
"Tapi umi jangan marah ya?"
"Ya apa dulu? Marah atau tidaknya kita lihat nanti," ucap Aya merasa penasaran.
"Emm, apakah umi sebelumnya sama Rey tidak pernah melakukan itu?" tanya Wisnu ragu-ragu.
"Itu apa!?" tanya Aya.
"Yang kita lakukan semalam?" tanya Wisnu.
Mendengar pertanyaan Wisnu membuat Aya terdiam. Aya masih belum paham dengan maksud Wisnu mempertanyakan hal tersebut. Aya hanya takut, jika Wisnu akan menyesal karena telah menikahi seorang janda yang sudah tak ori.
__ADS_1
"Umii,, maaf. Bukanya Abi bermaksud apa."
"Lalu apa maksud Abi?" tanya dengan mata yang sudah memerah. Namun Wisnu tidak tahu karena ia masih dalam posisi memeluk Aya dari belakang.
"Nganu, itu loh.. Eemmm,,, kok itunya umi masih bergetih dan masih sulit diterjang,?" ucap Wisnu dengan wajah polosnya.
"Ck.. Lalu, setelah kejadian semalam, apa yang Abi harapkan?" tanya Aya yang menahan tawa karena pertanyaan konyol dari suaminya.
"Emmm ..." Wisnu ragu.
"Pernah sekali, Bi. Maaf," ucap Aya.
"Kenapa umi meminta maaf? Hmm, Abi yang seharusnya meminta maaf karena telah menanyakan hal itu. Itu adalah sebuah aib, tapi Abi malah..."
"Tidak papa, Bi. Umi malah senang Abi bertanya dan dapat menerimanya. Semoga kedepan hubungan kita bisa saling terbuka dan menerima," ucap Aya sembari mengelus rambut Wisnu.
Mendengar tutur istrinya yang sangat bijak membuat Wisnu merasa sangat gemas. Ia perlahan melepaskan pelukannya memutarkan tubuh Aya untuk menghadapnya.
Aya sengaja tidak menggunakan cadar karena hanya ada dia dan suami di apartemen.
Bibir pink alami dan wajah bulat sangat membuat candu Wisnu bergejolak tiap saat.
Tatapan mereka semakin intens membuat Wisnu seperti ingin menuntut sesuatu yang lebih.
Mata terpejam dan perlahan kepala menjulur untuk meraih apa yang diinginkan.
"Hap !!!" Aya dengan cepat mengambil apel dan menempelkannya ke bibir seksi suaminya.
Wisnu membelalakkan matanya karena kaget. Ternyata yang ia cium adalah buah bukan sesuatu yang ia inginkan.
KRESS.. dengan cepat Wisnu menggigit apel itu dan mengunyahnya.
"Hahahhaaa,,," tawa Aya merasa lucu melihat ekspresi suaminya.
"Hemm, umiii ..." ucap Wisnu dengan tatapan tajamnya.
Aya yang melihat ekspresi suaminya langsung memutuskan untuk kabur dan berlari menjauh.
"Hay, mau kemana !!" teriak Wisnu yang langsung mengejar Aya.
"Hahahaa, ampun biiiii ....." teriak Aya.
Tapi, mau sejauh mana Aya akan berlari, karena apartemen mereka hanya mencangkup ruang tamu dapur dan kamar, mentok sampai balkon.
π₯Yaps, kita sensor ya, π. Huust π€« jangan ganggu pengantin baru yang sedang memekarπ€π€
..
..
..
πJANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR
LIKE, KOMENAN DAN VOTE π₯π
__ADS_1
πππππππππππ