
Melihat ekspresi Axelin, Rey hanya bisa unjuk gigi karena canggung.
"Kak, apakah dia anak kamu?" tanya Axelin memastikan.
"Ah, iya Axelin. Dia vino, anak aku. Maafkan atas sikap kasarnya," jawab Rey.
Vino masih menunjukan wajah dinginnya.
"Oh ya tuhan, dia anak kecil yang membuat aku kesal dulu. Dimana mata Rey tak melirik aku sama sekali dan hanya melirik anak ini yang selalu menjulurkan lidahnya kepadaku," umpat Axelin dalam hati mengingat ketika malam perjodohan itu.
"Apa anda sedang mengumpat?" tanya Vino membuyarkan lamunan Axelin.
Ya tuhan, dia tahu jika aku memang sedang mengumpat. Apakah dia juga tahu apa yang aku umpat!?"
"Ah, tidak anak tampan. Kamu dulu sangat kecil, tak terasa sekarang sudah besar. Aku sampai tidak dapat mengenali kamu," jawab Axelin dengan senyum.
"Apakah anda sudah tidak sedih lagi?" tanya Vino membuat Axelin menarik kembali sudut bibirnya yang mengambang.
"Sayang, jangan berkata kasar. Aunty Axelin sedang berduka. Tundukan kepalamu dan beri rasa hormat mu," tukas Rey dengan tegas.
"Dia berduka 5 menit yang lalu, Dad. Sekarang dia sudah bisa tersenyum. Sudah aku katakan, jangan bersedih karena dia akan segera mencari yang baru."
Berdebat dengan Vino tidak akan ada habisnya. Rey memanggil bodyguard untuk membawa Vino pergi mencari makan.
"Kamu, ajak dia dan cari makanan yang lezat di sekitar sini," perintah Rey.
"Baik, Sir!"
Vino dengan gaya dinginnya langsung pergi dan ikuti dua body guard dibelakangnya.
"Ah, Axelin tolong maafkan dia. Sungguh dia masih anak anak yang hanya banyak bicara tanpa tahu makna yang mereka ucapkan," ucap Rey mencoba meminta Axelin untuk tidak ambil hati.
"Ah, iya kak, tidak papa. Aku mengerti kok," jawab Axelin dengan terpaksa lapang dada.
Akhirnya, ditemani Rey, Axelin dapat dengan tegar mengikuti acara pemakaman calon suaminya yang mati karena kecelakaan.
Namun entah mengapa. Perkataan Vino seperti tamparan nyata untuk Axelin.
Hari yang seharusnya sangat memilukan untuk Axelin, dengan adanya Rey disampingnya, membuat Axelin merasa tak gundah ataupun sedih lagi. Belum ada satu jam calon suaminya meninggal, kini rasanya hati Axelin telah berbunga-bunga dengan kehadiran Rey disampingnya.
Air mata yang Axelin keluarkan hanya supaya semua orang tidak curiga.
Axelin sebenarnya tidak mencintai calon suaminya, hanya saja calon suaminya sangat mencintai dirinya. Tekanan dari Rey, supaya Axelin cepat menikah membuat Axelin menerima lamaran dari pria yang kini telah dipendam dibawah tanah basah.
Entah memang sudah jalan takdir atau takdir memihak dirinya. Tuhan dengan adil mencabut nyawa orang yang tidak Axelin cintai dan mendatangkan pria yang sangat ia nanti-nantikan.
"Ahahaaa aaaaa aaaa, my darling. Malangnya nasibmu sayaaang. Huaaa aaaa aaaa, bagaimana dengan nasibku ini! Mengapa kamu pergi dihari bahagia kitaaaa aaaa aaaa,!" tangis Axelin sangat memilukan membuat semua orang ikut hanyut dalam kesedihannya.
Namun siapa tahu. Sebenarnya Axelin sangat senang dengan takdirnya yang tidak jadi menjadi istri dari pria yang tidak ia cintai.
Meski sangat terkejut karena kematian mendadak calon suaminya, namun kedatangan Rey membuat dia menjadi calon istri durhaka yang telah mensyukuri kematian calon suaminya.
*****
__ADS_1
Di sebuah apartemen yang tidak terlalu mewah, Axelin meminta Rey untuk masuk dan berkunjung. Dengan ekspresi yang dibuat sesedih mungkin, Axelin mencoba untuk menarik perhatian, Rey.
Sambil menjatuhkan tubuh di sofa. Axelin tertunduk dan kembali bersedih.
"Hiks..hiks.. bagaimana nasib aku, kak?" tanya Axelin.
Rey duduk disamping Axelin dan mencoba merangkul dan memberinya dukungan.
"Kamu yang sabar, Axelin. Aku sangat yakin, tuhan akan segera mendatangkan jodoh untuk kamu," ucap Rey dengan sangat ragu merangkul Axelin.
Axelin yang mendapatkan rangkulan dari Rey langsung membalas memeluknya dengan sangat.
"Huaaa aaaa aaa, terima kasih karena kakak sudah datang dan menghibur aku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi denganku jika tidak ada kak Rey di sini." Axelin dengan sengaja mempererat pelukannya. Meski matanya menangis namun siapa tahu jika hatinya sedang berbunga-bunga.
Rey merasa sedikit kurang nyaman dengan sikap Axelin yang berlebihan. Dia memeluk sampai rasanya Rey tak bisa bernafas.
Tangan Rey ingin melepaskan pelukan Axelin.
Namun, suara pilu Axelin membuatnya mengurungkan niat dan membiarkan Axelin menumpahkan kesedihannya.
"Huaaaa aaaaaa aaaaa.. malang sekali nasib aku. Di tinggal mati ketika akan menikah! hiks... hiks..."
Axelin melirik untuk melihat wajah Rey. Dia sungguh senang karena Rey tak jadi untuk melepaskan pelukannya.
Wangi aroma tubuh Rey memang sangat menggodanya sejak dulu. Ini adalah kesempatannya untuk mencium aroma itu lebih dekat.
Tak berselang lama, Vino datang dengan membawa 5 pria yang hampir mirip dengan calon suami Axelin yang barusan mati.
Ting tong !
Axelin melirik tajam kearah pintu dan berdecak.
"Siapa sih! Mengganggu saja!" umpatnya.
Axelin menyeka air mata dan tersenyum manis ke arah, Rey.
"Emm, kak. Aku buka pintu dulu ya?"
"Iya."
Ceklek
Mata Axelin terbelalak menatap Vino datang dengan beberapa pria yang sangat mirip dengan mantan calon suaminya yang telah meninggal.
"Aunty, bisa kami masuk?" tanya Vino yang langsung menyerobot masuk sebelum Axelin menjawab.
"Bo-, eh !" Anak ini ! umpat Axelin.
Kini Vino menjelaskan kedatangannya.
"Jadi begini, Dad dan aunty. Saya datang membawa pria yang sangat mirip dengan calon aunty yang sudah, ek." Ekspresi orang mati.
"Aunty bisa pilih salah di antara mereka. Mereka bersedia menjadi suami aunty karena sudah aku bayar. Pilih saja mana yang menurut Aunty cocok. Meski tak sama, tapi aku rasa lebih baik begini dari pada harus menangis dan membuang tenaga," lanjutnya dengan tidak perduli dengan ekspresi Axelin dan Rey yang seperti ingin memakannya hidup-hidup.
__ADS_1
"A_apa yang kamu lakukan, Vino!?" tanya Axelin tak dapat mengerti.
"Sayang, manusia bukan mainan. Yang mana jika mati dapat diganti dengan yang baru," jelas Rey.
"Tapi bukankah aunty ini akan tetap melanjutkan hidupnya?"
"Ya tetapi dia butuh waktu, dia butuh waktu untuk mencari pria yang cocok dengannya lagi. Wajah mirip bukan berarti sifat mereka juga mirip," jelas Rey lagi.
"Bisa di coba dulu, Dad. Siapa tahu ada yang sama," kata Vino.
Axelin mencoba untuk menarik nafas dalam-dalam. Dia mencoba untuk memahami niat baik Vino, yang mungkin tak ingin dirinya larut dalam kesedihan. Walaupun sebenarnya dihatinya begitu sangat kesal di buatnya.
"Ehm, Vino sayang. Begini, aunty memang sedih, tetapi aunty juga butuh waktu untuk menerima segalanya. Mereka mungkin mirip dengan calon suami aunty yang kini telah tiada. Tetapi, bukan berarti seenak hati ini akan berpindah ke lain tempat. Maafkan aunty sayang, aunty tidak dapat menerima niat baik kamu," ucap Axelin dengan selembut mungkin.
Vino hanya diam saja dan berfikir.
"Baiklah, tapi tolong ganti rugi uang yang sudah aku bayar untuk mereka supaya mau datang kemari," ucap Vino dengan santainya.
Jantung Axelin serasa ingin lari dari tempatnya saat itu juga.
"Anak ini, bagaimana dia bisa!"
"Berapa, nak?" tanya Rey dengan santai.
"100 dolar perorangan, Dad," jawab Vino dengan sedikit menyeringai.
"Whaaaat!!" pekik Axelin yang langsung menutupnya tidak percaya. Untuk makan sehari-hari saja dia harus irit, dan ini harus mengganti rugi 100dolar.
Rey menghela nafas berat. Dengan menaikan satu jari yang ia arahkan ke pintu, bodyguard langsung mengerti dan membawa lima orang yang mirip dengan calon suami Axelin keluar.
Rey menatap tajam kearah Vino. Sedangkan Vino mencoba untuk menjelaskan. namun kesabaran Rey telah habis.
"Kamu. Pulang sekarang!" tukas Rey dengan menekankan suaranya.
Vino mematung tidak percaya. "Apakah Daddy yakin? Daddy ingin aku pulang sendiri?"
"Kamu akan diantara oleh pengawal!"
"Tidak perlu. Saya bisa pulang sendiri!"
Melihat anak dan ayah mulai memasang mata panas. Axelin mencoba untuk melarai.
"Eem-." terpotong.
"Tidak perlu ikut campur!" ucap Rey dan Vino serempak.
Axelin menutup mulutnya dan memutuskan untuk tidak akan ikut campur.
Rey menghela nafas.
"Apa sebenarnya yang kamu inginkan?" tanya Rey mencoba meminta penjelasan.
"Saya hanya tidak ingin Daddy menikahi siapapun. Saya dapat melihat bagaimana aunty ini memeluk Daddy. Saya sangat tidak suka jika mommy saya digantikan. Karena mommy, selamanya tidak akan pernah tergantikan!" jelas Vino dengan menegaskan Suaranya.
__ADS_1
Seketika, jantung Axelin terasa sangat berat. apa yang di ucapkan lebih tajam dan lebih menyakitkan dari pada Tuhan yang telah mencabut nyawa calon suaminya ketika dihari mereka akan menikah.