IkhlasKu TetanggaKu MaduKu

IkhlasKu TetanggaKu MaduKu
Akan ku Gapai..


__ADS_3

4 Bulan telah berlalu. Kini, Aya sedang berada disebuah pondok untuk belajar bahasa Arab.


Aya memutuskan akan menuntut ilmu di negara Arab sembari menjelajahi sejarah di negara Arabia, tentang kenabian dan juga kekhalifahan.


Ada satu yang sangat Aya inginkan, yaitu berziarah kemakan nabi Muhammad Saw.


..


Mama Salamah menjemput Aya disebuah pondok dimana Aya mempelajari bahasa Arab.


Beberapa santri wanita dengan bergilir keluar dari gerbang.


Aya sengaja untuk keluar terkahir karena ia ingin berpamitan dengan ustadzah yang telah membimbingnya selama ini.


شكرا جزيلا لك على المعرفة استادزه. نرجو أن تكون دائمًا" في حماية الله سبحانه وتعالى.


shukran jazilan lak ealaa almaerifat aistadazah. narju 'an takun dayman fi himayat allah subhanah wataealaa."


"(Terima kasih banyak atas ilmunya, ustadzah. Semoga ustadzah selalu berada di lindungan Allah SWT"


آمين. نأمل أن تكون هذه المعرفة مفيدة لك للدراسة في" الدول العربية


amin. namal 'an takun hadhih almaerifat mufidatan lak lildirasat fi alduwal alearabia."


(Amin. Semoga ilmu pengetahuan ini bermanfaat untuk kamu menuntut ilmu di negara Arab)"


آمين. شكرا جزيلا لك سيد. أنا أذهب للمنزل. السلام عليكم"


amin. shukran jazilan lak sayid. 'ana 'adhhab lilmanzili. alsalam ealaykum"


(Amin. Terima kasih banyak ustazah. Saya pamit pulang[pamit undur diri]. Assalamualaikum.)"


وعليكم السلام. كوني حذرة على الطريق اختي."


waealaykum alsalamu. kuni hadhiratan ealaa altariq akhti."


(Walaikum salam. Hati-hati dijalan Saudariku.)"


(Translate sumber google.com. mohon maaf apabila ada pengeja'an yang kurang tepat)


.....


Dengan hati yang mulai tertata. Kini Aya dapat tersenyum dan keluar dari gerbang. Mata Aya dapat langsung melihat sosok yang ia rindukan. Dengan senyum dan langkah lari kecil, Aya menghampiri Mama Salamah.


"Assalamualaikum, mah?" sapa Aya.


"Walaikum salam.. sudah selesai? Ayok, kita pulang?"


"Iya, mah ..."


Mama Salamah melajukan mobil dengan perlahan.

__ADS_1


"Aya, mama masih terasa berat loh, jika harus jauh dari kamu .." Rengek mama Salamah.


Melihat wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri terlihat sendu, membuat hati Aya tersentuh.


"Kamu tahu, 4 bulan saja kamu meninggalkan rumah untuk pergi belajar bahasa arab, mama susah tidur karena memikirkan kamu. Apalagi jika kamu harus menuntut ilmu di negara yang begitu sangat jauh, sayang." Mama Salamah terus menunjukan wajah galaunya.


Aya masih menunduk ragu. Dia sungguh ingin sekali menuntut ilmu sampai ke negeri Arabia. Namun, melihat wanita yang ia anggap ibunya selalu merengek tidak ingin ditinggalkan membuat hati Aya menjadi sangat berat untuk pergi.


"Mah, bolehkah jika Aya hanya studytour? Aya hanya akan berziarah kemakan nabi saja dan mengunjungi museum disana.?" tanya Aya ragu.


Wajah mama Salamah tersenyum berseri-seri ketika mendengar ujaran Aya.


"Benarkah? Alhamdulillah, akhirnya mama tidak akan berpisah denganmu sayang. Oya, tapi kamu jangan bilang-bilang ke papah ya, kalo mama yang meminta kamu untuk tidak jadi pergi?"


Aya tersenyum dan berkata," baik mah. Aya juga sudah memikirkan ini matang-matang."


"Hmm,, bagaimana jika kita umroh bersama-sama. Mama juga sudah lama sekali tidak pergi ketanah suci. Kita ajak papa juga, bagiamana?"


"Benarkah, mah? Alhamdulillah ya Allah, Aya mau sekali mah, sungguh." Aya sangat bersemangat. Akhirnya dia memiliki teman untuk pergi ketanah suci.


"Bagus, kita bujuk papah supaya dia mau ikut dengan kita .."


"Iya, mah."


Aya menatap kaca mobil, hatinya begitu merasa sangat bersyukur. Mengenal keluarga yang begitu sangat baik, alhamdulillah." batinnya.


Aya kini tidak menyesali apapun. Aya merasa abah'nya pasti sangat mengerti keadaannya saat ini.


Aya tidak lagi menyesal karena telah gagal menjadi istri yang baik untuk Rey pada saat itu. Aya meyakinkan dirinya sendiri, bahwa selama menjadi istri Rey, Aya sudah melakukan kewajibannya sebagai istri dengan baik dan benar. Hanya saja, memang jodoh bukan milik mereka.


...


Disisi lain, Rey menemani Kiana untuk memeriksakan kandungannya. Usia kandungan Kiana telah menginjak 5 bulan. Meski tidak ada dukungan dari keluarganya, tidak membuat Rey sedih dan mundur untuk mencintai Kiana.


"Wah, selamat ya Tuan. Lihatlah, ini telurnya sama seperti ayahnya," ujar dokter mengarahkan gambar kekelamin calon bayi mereka.


"Haha,, dokter ada-ada saja. Apakah itu bisa berubah dok?" tanya Rey.


"Kak, emang anak kita bunglon. Ada ada saja kakak ini," ujar Kiana merasa konyol dengan pertanyaan suaminya.


"Hampir 99% hasil USG kita akurat, Tuan. Sisanya adalah keajaiban tuhan. Ada beberapa kasus memang pernah terjadi, pas di USG perempuan eh, pas lahir ternyata laki-laki. Tapi sejauh ini, sangat jarang kejadian itu terjadi dirumah sakit ini," ujar pak dokter.


"Tuh dengar sayang, bisa saja calon bayi kita berubah. Kita tidak tahu kehendak Tuhan."


"Iya kak, apapun jenis kelaminnya. Aku akan tetap menyayangi mereka," ucap Kiana.


"Nah, itu yang aku maksud. Aku merasa tidak sabar untuk menunggunya lahir," ujar Rey bersemangat.


Ketika akan berjalan keluar, Rey yang hanya fokus memegangi perut istrinya tidak sengaja menabrak seseorang yang ada didepannya.


"Ah, maaf mas!" ucap Rey kaget.

__ADS_1


"Rey !!" ucap Wisnu lirih.


"Bro !! Hay, lu ngapain disini?" tanya Rey merasa ikut terkejut melihat sahabatnya.


"Emm sayang, aku beli somay dulu ya disana . Kalian ngobrol saja dulu. Kak Wisnu, mari?" ujar Kiana ramah menyapa Wisnu. Wisnu hanya tersenyum dan mengangguk.


"Hati-hati sayang," ujar Rey memperingati.


.


"Aku kesini mengantarkan seorang remaja yang terjatuh dari motor. Kebetulan saat itu aku sedang lewat dan menyaksikannya," jelas Wisnu.


"Apakah parah?" tanya Rey.


"Sepertinya tidak, hanya luka kecil saja. Keluarganya tadi sudah menjemputnya."


"Emm begitu. Oya, bagaimana kabarmu? Sudah lama kita tidak jumpa."


"Alhamdulillah baik bro. Oya, selamat ya sebentar lagi loe akan jadi seorang ayah," ucap Wisnu.


Rey menatap tajam kearah Wisnu.


"Apakah loe belom tahu apa-apa?" tanya Rey membuat Wisnu bingung.


"Apa-apa, apa?" tanya Wisnu kembali.


"Aku dan Aya sudah berpisah," jawab Rey.


Mendengar itu, membuat ekspresi Wisnu berubah-ubah tidak pasti. Tidak jelas ia harus senang atau marah.


"Kedua orang tuaku yang memisahkan kami. Papah dan mama tidak setujui jika aku menikahi Kiana dan memadu Aya. Aku disuruh memilih, tapi ternyata Kiana sedang hamil jadi aku tidak dapat menceraikannya. Gua tau, Kiana memang bukanlah tipe kedua orang tua gua sejak awal, ditambah dengan kejadian itu membuat mereka ikut memusuhi gua. Bahkan papa sampai mendepak gua dari kartu keluarga," ujar Rey.


Wisnu masih terdiam tidak percaya.


"Bro.. Gua hanya berfikir, jika gua dan Aya memanglah tidak berjodoh. Mau dipaksa seperti apapun, nyatanya kami tidak dapat bersatu," lanjutnya Rey.


"Bro, lalu sekarang Aya ada dimana?" tanya Wisnu.


"Dia ada dirumah orang tua gua. Mama papah sudah menganggap dia seperti anaknya sendiri. Jika kabarnya gua nggak tahu pasti, sejak kejadian itu gua gak pernah pulang kerumah orang tua gua. Oya bro.. saran gua, mumpung kedua orang tua gua belum mencarikan jodoh untuk Aya, sebaiknya loe segera lamar dia. Gua tau, cinta kalian bukan kaleng-kaleng. Gua doakan, semoga kali ini loe gak kecolongan," ujar Rey menyemangati Wisnu.


Wisnu masih terbengong tidak percaya. Tidak tahu harus senang atau marah, tapi yamg pasti kini ia memiliki kesempatan untuk memiliki wanita yang selalu ada dalam doanya.


"Bro, Kiana sudah manggil tuh, gua duluan ya?" ujar Rey.


"Ah, iya bro. Hati-hati, semoga sehat selalu istri dan calon anak loe .."


"Amiin, makasih. Ya sudah, gua duluan ya, assalamualaikum.."


"Walaikum salam ..."


Senyum tidak percaya terpancar dari wajah Wisnu. Hatinya sungguh sangat berbunga-bunga walaupun ia sendiri belum yakin jika Aya akan menerimanya. Namun Wisnu tidak ingin memikirkan itu, " Aya, semoga Allah mengabulkan doaku, amiin," batin Wisnu yang merasa senang tidak karuan.

__ADS_1


__ADS_2