
Malam ini, semua orang sudah tertidur nyenyak. Hanya Aya yang masih terjaga. Dia mencoba untuk mengelilingi pondok untuk sekedar melihat keadaan santri lain.
Aya tersenyum, karena semua ada pada posisinya. Ia duduk dan menatap bintang.
Didalam lamunan, ada sebuah tangan menyapa pundak.
"Hay .." sapa Axelin.
"Eh, kenapa belum tidur? Kamu mau sholat tahajud?" tanya Aya tersenyum.
"Apa itu?" tanya Axelin.
"Salat Tahajud adalah salat sunah muakad yang didirikan pada malam hari atau sepertiga malam setelah terjaga dari tidur," jawab Aya dengan nada yang sangat lembut.
"Emm, tidak. aku hanya ingin duduk. Kamu tidak marah aku disini?" tanya Axelin.
"Tidak, mengapa aku harus marah?"
"Aku kesini karena mau ngerokok. Kepala aku pusing kalo tidak merokok," ujar Axelin dengan santainya.
"Apa boleh aku tanya sesuatu?"
"Apa ..?"
"Kamu terlihat anak yang baik. Mengapa kamu menjadi seperti ini?" tanya Aya.
Axelin yang sedang menghisap rokok langsung terdiam dengan pertanyaan Aya. Aya adalah satu-satunya orang bertanya mengapa dia menjadi begitu.
"Mengapa kamu diam. Insyaallah, aku akan mencoba membantu kamu menemukan jalannya?" tanya Aya Kemabli.
"Semua sudah terlambat. Ini," tunjuk hati." Rasanya sudah beku."
"Sejatinya manusia memiliki hati yang lembut, yang membuat kaku karena dia tidak ingin mencairkannya. Berdoalah Kepada-Nya. Insyaallah, kamu akan dapat jawabannya."
"Orang tua gua cuma selalu yang terbaik buat gua. Gak pernah bertanya apa yang gua mau, apa yang gua cita-citain. Mereka menjerumuskan aku kedalam dunia model. Ibu tiriku hanya ingin aku menghasilkan uang banyak. Dia sangat tamak karena papah sudah memiliki banyak uang. Dari usia 15 aku terjun kedunia model. Ibu tiriku hanya melihat uangku, dia tak melihat bagaimana aku bisa dapat uang itu. Usia 16 aku kehilangan keperawanan, dunia model sangat mengerikan. Siapa yang sudi tampil seksi, dia yang akan mendapatkan uang banyak. Dari sana, aku bukan lagi Axelin yang penurut dan baik hati. Kehilangan mahkotaku membuat aku menjadi gila dalam menekuni dunia model. Pada akhirnya, jadilah aku yang sekarang. Awalnya mereka masih tidak perduli dengan aku, namun karena mereka ingin menjodohkan aku dengan anak teman papah, mereka langsung mendongrak aku untuk menjadi wanita yang alim. Cih, sungguh mereka orang konyol," ucap Axelin yang mulai terbuka.
Aya sangat tersentuh dengan cerita Axelin. Sungguh aya sudah sangat mengira jika awalnya Axelin ini anak yang baik. Semua tingkah buruknya terlihat tidak murni, seperti dipaksakan supaya dia terlihat seperti anak yang pembakang.
Aya masih terdiam dan menatap Axelin yang terus menghabiskan rokoknya. Aya masih diam dan membiarkan dia meluapkan emosi ya. Sampai akhirnya Axelin tertunduk dan meneteskan air.
"Hiks... Hiks... Hiks..., Mengapa kamu hanya diam saja aku merokok. Semua akan marah-marah kepadaku tanpa tahu beban apa yang sedang aku tanggung. Mereka akan merebut rokoknya dan menyeret aku lalu menghukum ku. Huuu uuuu uuuu ...."
Aya merangkul Axelin dengan sangat lembut membuat Axelin terkejut.
"Ustadzah, jangan peluk aku. Aku ini wanita kotor, aku tidak pantas berada disini, hiks...hiks..."
"Diamlah, aku hanya akan memelukmu tanpa berkata. Menangis lah jika kamu ingin menangis. Aku disini hanya akan menemani dan merangkulmu," ucap Aya membuat Axelin terdiam dan menghayati segalanya kepedihannya.
__ADS_1
....
Pagi ini ditemani dengan Axelin, Aya akan kepasar untuk membeli bumbu dapur.
Dengan senang hati Axelin pergi menemani Aya. Karena dia akan dapat melihat-lihat desa.
Jarak antara pasar dan pondok tidak jauh, sehingga mereka memutuskan untuk jalan.
Dijalan, ada sebuah montor jadul yang menerjang jalan utama di pasar.
"Awaaaasss.. awaaaasss..." teriak Wisnu dan Rey.
Motor jadul seken yang mereka beli mendadak tiba-tiba remny blong ketika mereka sudah akan sampai ke pondok.
Semua orang di pasar dengan panik langsung menghindar.
"Ustadzah ,awaas !!" teriak Axelin yang langsung menarik Aya untuk minggir.
"Astaghfirullah halazim.."pekik Aya sambil menahan perutnya.
"Ya Allah, semoga motor itu selamat," ucap Aya.
"Ustadzah tidak papa?"
"Tidak papa Axelin. Terima kasih ya."
"Sama-sama, ustadzah."
...
"Aawaaaaasss reeem blooooong !!" teriak Rey.
"Aaaaaahhhhhkkkkk .... BRAAAAKKKK !!! Motor yang Wisnu bawa berakhir menabrak gerbang pondok.
Para santri yang melihat ada kendaraan yang menabrak pagar bambu langsung berlari untuk membantu.
"Ustad, kalian tidak papa?" sapa santri.
Melihat penampilan Wisnu dan Rey yang seperti ulama besar langsung membuat mereka tunduk hormat.
"Ah, iya tidak papa, alhamdulillah. Saya masih berada dalam lindungan Allah SWT. Saya akan mengganti rugi kerusakan pagar ini," ujar Wisnu langsung mencoba merapikan pakaiannya.
"Ah, pak ustadz saya akan membuang montor ini," ucap Rey.
PLAAK !!" Berkahir mendapat pukul dari tongkat Wisnu. Dan Wisnu langsung membisikkan." Sikap seperti itu hanyalah milik orang-orang kaya," bisik Wisnu.
"Ah, iya maksud saya. Saya akan memperbaiki motor ini," ucap Rey dengan senyum canggung.
__ADS_1
"Iya bagus, jika masih dapat di perbarui kenapa harus di buang, itu namanya mubazir," ucap Wisnu.
Tak lama seorang ustadz yang bukan lain adalah pemilik pondok datang untuk melihat.
"Assalamualaikum.." sapa pak ustadz.
"Walaikum salam pak ustadz. Maaf kami telah membuat keributan," ucap Wisnu
"Ah, iya tidak papa. Mari ..?"
Kini, di ruangan pribadi milik ustadz Jefri. Wisnu menjelaskan kedatangannya yang ingin mengajar di pondok itu untuk menyalurkan ilmunya.
"Owh, jadi dek Usman ini sudah berapa lama berdakwah?" tanya pak ustad.
"Ah, masih baru mulai ustadz," jawab Wisnu yang menyamar jadi Usman.
",Owh begitu. Yah, saya sangat jika ada anak muda yang memiliki niat mulia seperti dek Usman dan juga, siapa ini?"
"Say Rey, Rey Maher yang ustadz," jawab Rey dengan bangga menyebutkan namanya.
"Ah, tapi setelah dia bertaubat dan mendapatkan hidayah, dia merubah namanya menjadi Qodir, ustadz," sahut Wisnu membuat Rey tercengang.
"Anak ini sungguh-sungguh keterlaluan. Apa tidak ada nama yang lebih bagus !" batin Rey kesal.
"Ah, nak Qodir. Baiklah, saya akan antar kalian kekamar. Yah, namanya ini pondok kecil-kecilan, jadi kamarnya barengan dengan guru yang lain," ucap Ustadz.
"Ah, iya tidak papa ustadz. Di beri tempat, kami sudah sangat senang," jawab Wisnu.
..
"Nah, ini kamar kalian. Semoga betah ya?"
"Ah, iya terima kasih banyak ustadz. Insyaallah, selama 3 bulan kami akan betah," ucap Wisnu. Mereka memang meminta izin untuk berdakwah selama 3 bulan saja.
Ketika ustad pergi. Rey langsung menutup pintu dan menerjang Wisnu.
"Loe reseh ya. Kenapa nama gua jadi Qodir sih !! Gak ada nama lain apa!?" omel Rey.
"Qodir itu artinya kuasa, sang penguasa, Lo kan orang kaya yang memiliki banyak kawasan, cocok itu nama," jawab Wisnu dengan santai.
"Ya tapi setidaknya yang lebih bagus kek," gerutu Rey.
"Sudah-sudah. Ini susun buku-buku gua," ucap Wisnu memerintah.
"Loe nyuruh gua!?"
"Loe kan Sekertaris gua sekarang. Cepat kerjain, atau gua pecat !" Ancam Wisnu.
__ADS_1
Dengan berat hati Rey mengerjakan apa yang Wisnu suruh.
Wisnu menatap jendela untuk melihat keluar. Celinga-celinguk untuk mendapatkan bayangan Aya, istrinya.