IkhlasKu TetanggaKu MaduKu

IkhlasKu TetanggaKu MaduKu
Kembali Lah


__ADS_3

2 minggu berlalu..


Sebuah tangan dengan bergetar mengemasi barang-barangnya. Aya dengan hati pilu menata semua miliknya untuk dibawa pulang. Tak henti-hentinya air mata menemani kekelaman hatinya.


Mora datang dan menyerahkan surat yang telah dia tanda tangani. Itu adalah surat dimana Wisnu mentalak Mora dan juga seluruh wanita di dunia yang bahkan belum Wisnu nikahi.


"Aya, ini adalah bukti jika suamimu benar-benar sangat mencintai kamu dan menghargai pernikahan kalian. Akulah yang salah disini. Andai waktu bisa diputar kembali, biarlah aku yang berada diposisi Wisnu," ujar Mora penuh dengan nada penyesalan.


Aya bergetar hebat menatap surat pernyataan suaminya.


"Hiks,,hiks,,hiks,, maafkan aku, Abi. Maafkan akuuu uuuu uuu."


"kamu yang sabar Aya. pasti akan pelangi setelah badai ini." Mora mencoba menguatkan Aya.


...


Kini, Aya berpamitan dengan semua santri yang ada di pondok. Semua santriwati menangis ketika Aya akan pergi. Hanya satu santri yang terlihat sangat menahan dirinya.


Aya tersenyum dan memeluknya.


"Kamu pasti bisa. Semangat," ujarnya.


Axelin masih terdiam, namun tangannya menahan Aya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Apa yang harus aku lakukan disini tanpa anda.?"


Aya menggenggam tangan Axelin.


"Kamu adalah wanita baik. Pasti akan ada banyak yang mau berteman dan membuat nyaman kamu disini."


Aya memandang santri lain dan menasehati mereka agar tidak menjadi santri yang sombong dan merasa lebih dari yang lain.


Setelah nasehat dari Aya, akhirnya mereka mau memeluk Axelin berteman dengan Axelin.


Semua santri melambaikan tangan untuk Aya.


Setelah Aya berpamitan dengan umi dan ustadz. Akhirnya Aya akan benar-benar meninggalkan pondok.


Mora sudah siap akan menancapkan pegal gas untuk pergi. Terdengar suara teriakan santri yang sangat berat kehilangan sosok guru yang sangat baik dan mereka cintai.


Sedangkan Axelin, dalam waktu 3 bulan lagi harus bisa mendalami ilmu agama. Itu adalah waktu yang diberikan oleh kedua orang tuanya.


*****


Waktunya berlalu begitu cepat.


Usia kandungan Aya kini sudah menginjak 9 bulan.

__ADS_1


Aya mendirikan usaha yaitu, Aya hijab style. Usaha yang dia dirikan selama 4 bulan terakhir ini telah menjadi pekerjaan tetapnya. Meski Aya sudah memiliki karyawan sebanyak 20 orang, dia tetap tidak ingin bersantai dan diam. Kesibukan yang ia lakoni nyatanya tidak mampu mengobati rindunya kepada sang suami.


Kini, Aya ingin melampiaskan kerinduannya. Aya mampir kesebuah toko bunga.


Mawar putih menjadi pilihannya.


Ketika akan keluar dari toko. Aya terdiam dan tersentak dengan rasa sakit yang tiba-tiba muncul.


"Ahk! pekiknya.


Beberapa karyawan yang melihat Aya kesakitan langsung membantu dan dibawanya kerumah sakit.


Mama Salamah yang mendengar Aya akan melahirkan langsung menuju kerumah sakit begitu juga dengan Rey.


Mora sudah lebih dulu melahirkan 2 Minggu yang lalu dan lahirlah seorang anak berjenis kelamin laki-laki.


...


Mama Salamah dan Rey menunggu didepan ruangan. Karena Aya tidak ingin dilihat siapapun kecuali dokter dan 1 perawat.


Rintihan Aya membuat Rey dan mama Salamah menangis tak tahan.


....


"Abiii banguuun, aku mau melahirkan, hiks hiks hiks.. sakit Bi, bangunlah! Aaaahhkk," teriak Aya memanggil suaminya.


Aya meminta untuk melahirkan disamping suaminya supaya suaminya mendengarnya.


Terlihat sudut mata Wisnu meneteskan air mata. Namun tak ada tanda-tanda jika Wisnu akan sadar.


"Buk Aya, ayo buk, tekan yang kuat, satu kali lagi ya, semangat buk, ini bayinya sudah mau keluar."


"Huf huf huf, Aaaaaaaggghh!"


Suara panjang Aya akhirnya membuahkan hasil. Suara bayi memenuhi ruangan yang kalut.


Owek..owek..


Aya menatap haru putrinya. Air mata kini membasahi pipinya. Sampai anaknya lahir, suaminya masih tak kunjung sadarkan diri.


Aya menatap suaminya berharap keajaiban datang. Semakin lama semakin rasa putus asa ia rasakan. Bahkan mata suaminya tidak bergerak sama sekali. Seolah terkena bius, Wisnu tak pernah menggerakkan tubuhnya.


Tuan Maher yang mendengar Aya melahirkan langsung meninggalkan meeting pentingnya dan menyusul kerumah sakit.


Aya tak mengizinkan Rey untuk mengadzani putrinya. Aya masih berharap jika Wisnu akan bangun dan mengadzani anak mereka.


Sampai Tuan Maher datang. Aya baru mau anaknya di adzanin oleh tuan Maher.

__ADS_1


Bukan tanpa alasan. Aya tidak ingin memberi harapan kepada Rey. Meski bibir mengatakan antara Aya dan Rey adalah kakak beradik. Namun tidak di pungkiri, namanya hati siapa yang tahu.


Aya juga tidak ingin, ketika Wisnu bangun dan bertanya. Akan sangat berat ketika Aya mengatakan Rey lah yang mengadzani putri mereka.


...


"Hay, Abi? Aku sudah lahir kedunia, Abi bangunlah, apakah Abi tak ingin melihat aku," ucap Aya mewakili putrinya.


Semua orang hanya bisa meneteskan air mata mereka. Bagaimana tidak, sungguh mereka sangat merasakan apa yang Aya rasakan. Namun takdir lagi dan lagi sangat senang menguji hati seorang wanita yang sangat baik.


"Hiks..hiks.. A'ak, bangunlah ak!? Anak kita sudah lahir, huuu uuu uuuu."


"Sayang, yang sabar ya nak. Wisnu pasti akan bangun. Dia hanya sedang beristirahat," ucap Mama Salamah menegarkan Aya.


"Aku akan membeli kebutuhan bayi dulu," ucap Rey dengan menahan mata yang sudah memerah. Sungguh, hati Rey tak sanggup melihat adegan menyedihkan itu. Meski seorang lelaki, namun Rey memiliki sisi lembut sehingga dapat merasakan apa yang Aya rasakan.


Tuan Maher dengan telaten menggendong cucunya. Meski ia sudah memiliki cucu dari Mora. Namun perasaannya sungguh berbeda. Anak dari Aya seolah-olah itu adalah cucu kandungnya.


.....


Di supermarket, Rey membeli beberapa susu formula dengan kualitas tinggi. Rey membeli beberapa merk. Rey ingat ponakannya, hanya susu formula tertentu yang dia mau minum. Rey juga berfikir jika anaknya Aya juga pasti akan milih-milih susu mana yang akan mau dia minum.


Asi Aya belum keluar, membuat Rey membeli banyak sekali stok.


Dari arah sudut pandang menyamping. Rey melihat seseorang yang tak asing dimatanya. Dia adalah Axelin.


Rey menatap Axelin dengan tatapan tajam membuat Axelin tertarik hati untuk meliriknya. Rey tersenyum kepada Axelin, namun Axelin langsung memalingkan wajahnya.


Sombong sekali dia? pikir Rey.


"Isht, genit amat si om-om itu!" batin Axelin yang tak mengenali Rey. Karena yang Axelin kenal hanya Qodir.


Di depan kasir, Rey terus menatap Axelin berniat ingin menyapanya. Namun Axelin langsung memperingati Rey.


"Maaf ya om. Saya tidak suka dengan om-om!" tukas Axelin dengan lantang membuat beberapa orang disana berdecak menahan tawa.


Rey merasa terhina ingin sekali mengatakan jika dirinya si Qodir. Namun, ia tertahan.


Dua Minggu lagi adalah hari pertemuan antara dua keluarga. Mama Salamah tetap kekeh ingin menjodohkan Rey dengan anak temannya.


Rey hanya membuang muka tak menggubris Axelin yang ke PD'an.


Ketika Rey pergi, Axelin menatapnya merasa bersalah karena sudah bersikap tidak baik. Padahal pria itu tidak mengatakan apa-apa padanya.


Axelin berniat ingin meminta maaf, namun Rey sudah pergi dengan mobil mewahnya.


"Heh, ternyata dia orang kaya. Sudah aku duga. Apakah wajah aku masih terlihat seperti wanita jal*ng? Apakah jilbab aku kurang besar?"pikir Axelin yang mengira jika Rey adalah pria hidung belang.

__ADS_1


__ADS_2