
Aya tunggu !" teriak Rey mencoba untuk mengejar Aya. Tetapi langkahnya terhenti dan Rey menatap makan sahabatnya.
"Bro, doakan gua!" ucap Rey sambil tersenyum tipis didepan makam Wisnu.
Setelah mengatakan itu, Rey langsung mengejar Aya dan memintanya untuk berhenti.
"Aya! Dengarkan aku!" ucap Rey setelah
berhasil menghentikan Aya.
Aya masih terisak dan terdiam.
"Kamu kenapa sih, Aya?" tanya Rey mencoba meminta penjelasan.
"Apanya yang kenapa!?" tanya Aya yang juga sebenarnya masih tidak mengerti dengan dirinya sendiri.
"Sekarang aku harus bagaimana?" tanya Rey.
"Ya terserah a'ak mau bagaimana!" jawab Aya yang masih terisak.
"Gilak! Kenapa cewek bisa memiliki sifat yang sangat susah ditebak apa maunya, sih!" umpat Rey.
"A'ak saja yang tidak bisa memahaminya!" cetus Aya.
"Hmm, memang sebenarnya apa sih,? apa yang kamu mau Aya!?" tanya Rey mencoba untuk melembutkan ucapannya.
Aya yang sebenarnya juga tidak tahu apa sebenarnya yang di mau oleh hatinya sendiri. Tidak dapat menjawab pertanyaan Rey.
Karena bingung, akhirnya Aya memutuskan untuk meninggalkan Rey.
Tetapi, tanpa diduga, Rey malah meraih lengan Aya dan menariknya untuk ikut bersamanya.
"Dasar wanita bandel! ikut aku pulang sekarang?" ucap Rey sambil menarik Aya.
"Ahk! Apa yang mau kamu lakukan, Ak!" teriak Aya tetapi tidak didengar oleh Rey.
.
Ketika sampai didepan mobil. Rey langsung membukakan pintu untuk Aya.
"Silahkan masuk," ucap Rey mempersilahkan Aya untuk masuk sendiri.
Aya mendengus dengan kasar lalu masuk kedalam mobil.
Setelah Aya masuk, Rey pun bergegas untuk masuk kedalam mobil.
Brugh! Menutup mobil dengan keras.
"Aahhkk!" pekik Rey.
Rey merasakan ngilu pada pundaknya yang terkena tikam oleh Axelin.
"Ak! Kamu kenapa!?" tanya Aya cemas.
"Tidak papa!" jawab Rey yang langsung berekspresi datar seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan merasakan apa-apa.
"Ak! Biar aku yang membawa mobilnya ya? Aku khawatir jika luka a'ak akan kenapa-napa!" ucap Aya dengan raut yang begitu sangat cemas.
Rey meliriknya sesaat. Lalu dia tersenyum tipis.
Akhirnya, kini Aya mengambil alih untuk mengemudi mobil.
Didalam mobil, Rey selalu meringis kesakitan meski diawal dia terlihat baik-baik saja.
"Ak, apakah sangat sakit? Kita kerumah sakit lagi? Lagian, luka a'ak belum sembuh benar, mengapa a'ak malah pergi dari rumah sakit?" ujar Aya.
"Aku harus mengurus Axelin!" sahut Rey dengan raut wajah yang masih sangat kesakitan.
Aya mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Ak! Apa yang kamu lakukan pada Axelin? Apakah kamu membunuhnya!?" tanya Aya khawatir.
"Apa kamu pikir aku sekejam itu? Aku mengirimnya ketempat orang tuanya," jawab Rey.
"Memang dimana kedua orang tuanya?"
"Di luar negeri!" sahut Rey.
Aya terdiam. Dia sedikit tidak terima dengan keputusan Rey. Harusnya, Axelin dipenjara!" batin Aya.
Tetapi, luar negeri yang Aya bayangkan, tidaklah seindah dimata Axelin.
Disana, Axelin diturunkan disebuah desa gersang di bagian Afrika Utara.
Ternyata, disana kedua orang tua Axelin hidup dengan menyedihkan. Sebenarnya, ketika kedua orang tua Axelin menghianati Rey. Rey telah menawarkan kepada kedua orang tua Axelin." Mau ke penjara atau mengasingkan diri keluar negeri?" tanya Rey.
Mendengar itu, jelas kedua orang tua Axelin memilih untuk diasingkan diri ke luar negeri. Tetapi ternyata, luar negeri yang di maksud Rey adalah, daerah gersang yang terletak di bagian Afrika.
itulah mengapa Axelin tidak pernah bisa menemukan kedua orang tuanya dimana-mana, karena Rey telah mengasingkannya.
Kini, Axelin akan menyusul kedua orang tuanya karena ulahnya sendiri.
.....
Karena Rey tidak mau dibawa kerumah sakit, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang kerumah utama.
Aya yang melihat Rey selalu meringis kesakitan. Mencoba untuk membukakan pintu mobil untuk Rey.
"A'ak tunggu sini. Biar aku yang membukakan pintunya," ucap Aya.
"Ahk! Iya Aya," jawab Rey yang masih berakting.
Ketika Aya membukakan pintu, Aya langsung menuntun Rey untuk masuk kedalam. Aya menuntun Rey seolah-olah kaki Rey lah yang terluka.
"Hati-hati ak! Apakah masih sakit?" tanya Aya
"Sssshht, iya Aya. Sakit sekali," sahut Rey.
Ketika sampai didepan pintu. Anak-anak ternyata sedang menunggu mereka. Hani dan vino yang tidak tahu apa-apa, langsung berlari dan memeluk Rey.
"Daddy ..... Umiiiii ....!" teriak Hani dan Vino.
Rey yang melihat Hani berlari menghampiri dirinya langsung berjongkok. Rey menyambut Hani dan memeluknya, bahkan Rey juga menggendong tubuh Hani yang gembul.
"Hap! Uh, anak Daddy makin berat saja!" ejek Rey.
"Ya, Daddy. Hani tadi habis makan soto banyak!" jawab Hani dengan polosnya.
Aya yang melihat Rey menggendong Hani seperti tidak ada beban, hanya bisa terdiam tercengang tidak percaya.
"Apakah a'ak tadi hanya berakting saja!" batin Aya merasa kesal karena telah dikerjai.
"Umi, ayo kita masuk," ucap Vino membuyarkan lamunan Aya.
"Ah, iya sayang!" jawab Aya yang langsung menggandeng tangan Vino untuk masuk kedalam. Bahkan, Aya melewati Rey dan Hani begitu saja.
"Hani, umi kamu sedang marah," bisik Rey kepada Hani.
"Benarkah?" tanya Hani.
"Iya, bagaimana membujuk dia supaya tidak marah lagi?" tanya Rey.
"Dulu, Abi suka menggelitik perut umi jika umi marah-marah," jawab Hani.
Rey berfikir," Aku bukan Wisnu, jika aku melakukan itu, Yang ada Aya akan langsung membunuhku!" batinnya.
"Ah, bagaimana jika Hani dan kak vino saja yang menggelitik umi supaya tidak marah lagi," ucap Rey.
"Mengapa tidak Daddy saja? Daddy dan Abi sama saja bukan!?" tanya Hani dengan polosnya.
__ADS_1
"Ah..-" ketika akan menjelaskan, mama Salamah datang.
"Rey, Hani! Emm, Hani kamu masuk dulu ya. Nenek ingin bicara dengan Daddy kamu sebentar," ucap Mama Salamah.
"Iya, nek!" sahut Hani yang langsung berlari ketika Rey menurunkannya.
...
"Rey, bagaimana keadaanmu nak? Kenapa kamu menggendong Hani! Bukankah lukamu belum sembuh benar!?" tanya mama Salamah.
"Sudah tidak papa, mah. Mama tidak perlu cemas!" sahut Rey meyakinkan mamanya.
"Bagaimana dengan Axelin?"
"Beres, mah!"
"Hmm... Rey, bukankah kamu harus segera menghalalkan Aya?" tanya Mama Salamah.
"Apa maksud mamah? Aku akan segera mengumumkan bahwa aku dan Aya sebenarnya tidak ada apa-apa!" jawab Rey yang tidak ingin memaksa Aya.
"Apa maksud kamu, Rey!"bentak mama Salamah.
"Rey sudah putuskan!" ucap Rey dengan tegas.
"Dan aku sudah ambil keputusan. Aku akan menerima ide mama Salamah," sahut Aya dari belakang Rey dan mama salamah.
Jadi, sedari tadi Aya mencoba untuk menguping pembicaraan Rey dan mama Salamah.
"A..apa maksud kamu Aya!" tanya Rey terkejut.
"Aku sudah putuskan. Semua demi anak-anak!" lanjut Aya dengan tegas.
Mama Salamah tersenyum haru dengan keputusan Aya yang bersedia kembali dengan Rey.
Tetapi, entah mengapa Rey merasa tidak bahagia dengan jawaban Aya. Rey sama sekali tidak ingin memaksa Aya. Rey tidak ingin mengataskan nama anak untuk membuat Aya terjebak dalam belenggu sebuah hubungan.
"Maaf, aku tidak bisa!" jawab Rey yang langsung pergi meninggalkan Aya dan mama Salamah.
Melihat sikap Rey. Spontan jantung Aya langsung memburu dan air mata tak dapat ia bendung.
"Rey! Kamu mau kemana nak!" teriak mama Salamah mencoba untuk mengejar Rey yang masuk kedalam kamarnya dan meninggalkan Aya sendiri.
...
"Apa maksud kamu, Rey!" teriak mama Salamah ketika mereka didalam kamar.
"Rey tidak bisa mah! Rey tidak bisa memaksa Aya! Hanya demi anak-anak, Rey tidak mau melihat Aya menderita karena telah menikahi pria seperti aku!" jawab Rey sambil meremas kuat dipan kasurnya yang mewah.
"Tapi bagaimana jika Aya memang mencintai kamu!" ucap Mama Salamah
"Heh!" Rey tersenyum kecut.
"Mah, cinta Aya ke Wisnu sangatlah besar. Apa mungkin, baru ditinggal 6 bulan lebih Aya sudah bisa mencintai pria lain. Apa lagi pria itu adalah aku! Apa mama tidak pernah mengingat bagaimana aku yang telah sangat jahat kepada Aya pada waktu itu!" jelas Rey.
Mama Salamah terdiam. Dia telah kehabisan kata-kata.
"Besok aku akan melakukan perjalanan bisnis ke Dubai bersama dengan tuan Qodir. Kemungkinan aku akan pergi selama 3 bulan," lanjut Rey membuat Mama Salamah tercengang.
"Mengapa sangat mendadak!" tanya mama Salamah.
"Tidak mendadak. Memang aku dan Tuan Qodir sudah membicarakan tentang ini. Gara-gara kejadian tadi malam membuat aku tidak sempat untuk membicarakan ini kepada mama dan papah," ucap Rey.
Sebenarnya, jadwal ke Dubai hanyalah satu Minggu. Rey mengatakan 3 bulan hanya untuk mencoba menghindari masalah ini. Rey berharap, setelah dia pulang Dubai. Keadaan akan normal kembali.
Malam ini Rey tidak dapat tidur. Untuk menyibukkan diri, dia mencoba untuk menyusun sendiri barang-barang yang akan dia bawa. Rey sengaja membawa 3 koper supaya terlihat jika dia memang akan pergi dengan waktu yang cukup lama.
Sampai akhirnya Rey tidak tahan. Dia duduk merunduk dan meneteskan air mata.
Rey memang sangat ingin memiliki Aya dan menikahinya. Tetapi, jika alasan pernikahan hanyalah demi anak-anak. Rey merasa, itu bukanlah sesuatu hal yang baik. Rey, sama sekali tidak ingin membuat Aya terjebak dalam keadaan yang membelenggu.
__ADS_1
Rey mengingat pengakuan Aya ketika dia sedang terbaring. Tetapi, menurut Rey itu belumlah cukup untuk benar-benar meyakinkan jika Aya mencintai dirinya.
Bisa jadi, Aya mengatakan itu hanya karena dia merasa bersalah." pikir Rey.