
Malam ini, semua orang kumpul di ruang keluarga untuk mendengarkan ulasan dari Rey.
Aya dan Wisnu tidak lepas dari genggaman tangan mereka. Aya selalu menempel dan mengeratkan genggamannya seolah-olah dimata Rey, Aya sedang mengejeknya dengan menunjukan keromantisan mereka.
Sambil menggendong junior kecil yang diberi nama Vino, mama Salamah dengan seksama mendengar penjelasan dari Rey.
Semua menatap iba dengan nasib Rey yang dengan tiba-tiba ditinggalkan oleh Kiana, hanya Tuan Maher yang menahan tawanya.
"Oh sayang, anak mama.. malang sekali nasib kamu, bagaimana wanita itu bisa meninggalkan kamu dan anak yang masih sangat kecil ini. Dia benar-benar wanita jahat! Dari awal juga mama sudah tidak suka dengan dia! Kenapa sih, waktu itu kamu tidak mau mendengarkan mama dan papa !! Andai kamu mau mendengarkan mama dan papa, mungkin saat ini kamu dan Aya masih baik-baik saja," umpat mama Salamah.
Aya yang dibawa-bawa namanya melirik suaminya supaya tidak menganggap serius ucapan mama Salamah.
"Mah, biarkan dia menanggung semua apa yang sudah dia perbuat. Tidak perlu membesar-besarkan masalah. Biarkan dia menyesali apa yang harus dia sesali," ujar Tuan Maher.
Rey hanya tertunduk tak berdaya. Tubuhnya bagaikan jasad tak bernyawa.
"Oya.. Aya, ini adalah kunci apartemen untuk kamu. Ini adalah hadiah pernikahan kalian dari papa. Semoga kamu suka ya?" ujar Tuan Maher memberikan kunci kepada Aya.
"Alhamdulillah, terima kasih banyak, pah. Semoga kebaikan papa dan mama di balas oleh Allah SWT," ucap Aya.
"Amiin ... "
...
Singkat cerita, malam ini Aya dan Wisnu langsung pindah ke apartemen yang sudah disediakan oleh Tuan Maher dan mama Salamah.
Bagaikan pasangan baru, tentu aura bau-bau kemesraan masih sangat terasa kental. Aya tak pernah lepas dari genggaman tangan Wisnu.
Ketika memasuki apartemen, Aya sungguh sangat terkejut. Setiap ruangan telah dihiasi dengan lilin. Aroma mawar merah tercium harum di hidung mereka.
"Masya Allah, Abi.. Mama dan papa sangat niat sekali memberikan kita surprise ini," ujar Aya merasa sangat takjub.
Wisnu melekatkan koper yang bawa. Dengan perlahan memeluk Aya dari belakang.
"Ehm, Umi .... Sepertinya mereka ingin kita .." ujar Wisnu terpotong.
"Ihssst Biii,,, mulai deh." Aya tersipu sangat malu dengan Wisnu yang mulai terang-terangan.
Wisnu perlahan membalikan tubuh Aya dan membuka cadarnya. Aya menundukkan wajahnya karena rasa syahdu yang menjalar pada tubuhnya.
Wajah putih kemerah-merahan membuat Wisnu benar-benar merasa sangat gemas. Tanpa permisi, Wisnu langsung membopong Aya. sontak Aya terkejut dibuatnya.
"Ah, abiii... !!" pekik Aya. "Hahahaaa ... hahahaa... " suara tawa dua insan memenuhi ruang kamar mereka, entah apa yang ditertawakan, namun nada kebahagiaan terdengar dari suara mereka.
Lampu lilin diruangan apartemen perlahan mulai padam karena telah mencair. Semakin larut semakin sunyi. Suara rintik-rintik gerimis membuat suasana semakin adem dan syahdu.
Dari bawah parkiran, nampak seseorang memperhatikan kamar mereka. Sampai akhirnya ia menatap lampu kamar Aya dan Wisnu telah diredupkan.
"Aaaakkkhhh !!!! Aaaaahhkkkk.... Bughh... Bughhh... Hiks...hiks...hiks... !!!" teriak pilu Rey dari dalam mobilnya sambil sesekali meninju setir mobil.
__ADS_1
Ketika Aya dan Wisnu pamit pergi, Rey tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya dan diam-diam mengikuti Aya dan Wisnu.
Mama Salamah sempat bertanya Rey mau kemana, namun Rey tak menjawab dan langsung pergi meninggalkan rumah utama.
Sejujurnya Rey sendiri tidak mengerti mengapa dia harus membututi Aya dan Wisnu. Ia sadar jika dia sedang melakukan hal bodoh, tapi entah mengapa dia tidak dapat berhenti. Sampai akhirnya, dia harus benar-benar melihat kebahagiaan Aya dan Wisnu.
Dibawah guyuran hujan yang semakin deras, pukul 01 dini hari Rey menerjang jalanan dengan leluasa.
Kenangan kenangan manis bersama Aya entah mengapa tiba-tiba ada dalam pikirannya.
"Aaahkkkk kenapa kamu lagi sih !! Aku harusnya memikirkan kemana ibu dari anakku pergi !!! Aaaakkkhhhhh ...!!!" teriak Rey uring-uringan didalam mobilnya yang masih melaju dengan sangat kencang.
Entah kemana iman yang ia miliki, kini Rey mencoba melampiaskan amarahnya dengan berada disebuah clup malam.
Satu, dua, tiga botol Rey minum dengan dalam jangka waktu kedipan mata.
Rey hanya bisa menunduk tak tahu harus apa. Ada anak bersamanya, namun ia tidak tau harus bagaimana.
"Mengapa, apa asalan kamu pergi dengan tiba-tiba seperti iniiii, aaaahk!! ****!!
Glek.. glek..." Rey kembali meracau dan meneguk kembali minuman haram itu.
"Kau.. heh, kau mengaku wanita Solehah? Cih, baru menjanda beberapa bulan sudah menikah lagi! Apa dia tidak punya malu?. Sahabatku, kenapa kamu mau menikah dengan seorang janda yang sudah tidak suci.. Haaaah,,,malang sekali nasibmu Wisnu..!! Hahaha, menikahi janda yang tidak bisa bergoyang, hahaha,, harusnya aku menasehati mu saat itu, supaya tidak menikahi wanita sialan itu karena dia tidak bisa goyang, hahahaaaa.... Malaaaaang !! Nasib mu sungguh malaaaang sahabatku uuu,,,uuu,,uuu,, haaa aaaa aaaa... Nasibmu sungguh malang.. hahahaha..." Racau Rey benar-benar tidak jelas dalam ketidak sadarnya. Semua orang menatap Rey dengan sinis, selain penampilannya yang memprihatinkan, lanturanya pun sangat tidak jelas.
Seorang karyawan yang kebetulan berada di clup itu tidak sengaja melihat bosnya yang terlihat menyedihkan sendirian.
"Pak, apa yang anda lakukan disini?" tanya Karyawan itu ramah.
Sampai akhirnya,
Bruukk ...
Rey tersungkur karena sudah tidak tahan untuk tetap terjaga.
Anak buah Rey sungguh sangat baik dan pengertian. Pukul 04 dini hari ia mengantarkan bosnya pulang kerumah utama. Karena hanya alamat itu yang dia ketahui.
"Oh ya ampun, Rey !! Kamu kenapa nak!?" Mama Salamah yang mendengar jika anaknya pulang langsung menyambutnya.
"Tante, tadi saya menemukan pak Rey ada disebuah clup malam. Saya sangat kasian dengannya dan memutuskan untuk mengantarkannya pulang," ujar si karyawan.
"Ah iya, terima kasih banyak ya mas. Terima kasih banyak," ujar Mama Salamah yang benar benar merasa bersyukur karena anak buah Rey disana.
"Iya Tante sama-sama, jika begitu saya pamit undur diri, Tante?"
"Ah, iya mas. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak.."
"Iya tante, assalamualaikum..."
"Walaikum salam ..."
__ADS_1
Rey yang sudah benar-benar tidak sadarkan diri langsung dibopong oleh beberapa pengawal masuk kedalam kamarnya.
"Mah, ada apa?" tanya tuan Maher yang baru sadar dari tidurnya.
"Itu loh pah si Rey, dia mabuk-mabukkan.! Ya ampun pah, apa yang sedang terjadi dengan anak kita, hik .. hik... hik ...," ujar Mama Salamah yang benar-benar merasa sangat terpukul melihat keadaan anaknya yang sangat menyedihkan.
"Hemm,, biarkan saja dulu ini terjadi mah. Biarkan Rey merenungkan kesalahannya. Mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi," ujar Tuan Maher.
.....
Pagi menjelang siang pukul 10:30, semua tv menyiarkan berita heboh kematian 4 pengusaha kaya raya.
Yang pertama mati bersama dengan istri dan anaknya didalam rumahnya yang terbakar.
Yang kedua dan ketiga, ketika sedang melakukan perjalanan dalam satu mobil, tiba-tiba ada sebuah mobil truk oleng yang menabrak mobil mereka. Alhasil, mereka mati ditempat.
Dan yang keempat, ditemukan mati karena terkena serangan jantung.
Tuan Maher dan mama Salamah yang sedang memomong Vino tercengang tidak percaya. Keempat orang kaya itu adalah teman sekaligus rekan kerja Tuan Maher yang ikut gabung dalam pembangunan rumah sakit.
Dengan langkah yang terlihat geram, tuan Maher berjalan menuju kamar Rey dengan membawa ember ditanganya.
Dilihatnya anak tersayang yang sedang bermimpi, membuat hati Tuan Maher merasa sangat kesal.
BYUUUURR !!!
"Ahhhh banjiiiir !! Banjiiiiir !!!" teriak Rey yang langsung terjingkat dari tidurnya.
"Papah !!? Apa yang papa lakukan!?" tanya Rey yang terlihat marah karena dengan tiba-tiba dirinya disiram pakai air.
"Apa papah tidak bisa membangunkan Rey dengan cara yang baik dan benar !?"lanjutnya..
"Hey anak kurang ajar !! Kamu berani ya sekarang membentak papah!!? Lihat ini, lihat kelakuan wanita yang sangat kamu cintai itu, heh.." Tuan Maher menyalakan tv yang ada di kamar Rey.
Sekejap, Rey langsung membuka matanya lebar-lebar. Rey tidak pernah percaya, jika wanita yang dia anggap sudah berubah, ternyata hanya adalah seekor rubah berekor kucing.
Rasa sesal kian menyelimuti hatinya. Harusnya dari awal aku tidak mempercayainya dan menjebloskannya kepenjara, begitulah bunyi sesalnya.
Namun nasi sudah menjadi sampah, entah mengapa kini ia benar-benar merasa sangat jijik jika teringat wanita siluman itu.
Rey bergidik jijik dan pergi kekamar mandi. Dia berniat untuk membersihkan dirinya dari jejak Kiana yang tertinggal dalam tubuhnya. Ia menggosok kasar bibir yang pernah bercumbu mesra dengan dia. Mengingatnya, benar-benar membuat Rey merasa sangat jijik sampai rasanya ia ingin mengeluarkan isi perutnya. Seolah-olah tersadar dari sihir, kini Rey benar-benar dapat melihat segalanya.
Tuan Maher hanya menatap aneh melihat kelakuan putranya.
..
..
..
__ADS_1
..
FOLLOW AUTHOR, LIKE KOMEN DAN VOTE 💞