
Sebuah taksi berhenti di butik Aya. Axelin dengan tangan tidak sabar untuk melihat baju yang akan dia gunakan.
"Selamat sore, kak! Ada yang dapat saya bantu?" tanya si pelayan.
"Mbak Aya ada? Aku ada urusan dengan dia!?" sahut Axelin.
"Oh, mbak Aya ada di lantai dua," jawab si pelayan.
"Oke! Aku akan keatas," ucap Axelin antusias.
Dia menaiki anak tangga dengan nada tidak sabaran. Rasa sangat penasaran, bagaimanakah baju yang akan dia kenakan. Pas atau tidak perpaduannya dengan baju yang akan di kenakan oleh Rey.
"Assalamualaikum, kak!" sapa Axelin.
"Ah, walaikum salam! Axelin, kamu sudah datang?" sahut Aya.
"Iya, kak. Bagaimana dengan baju aku?" tanya Axelin.
"Huft.. ini sudah jadi. Tetapi, lain kali jangan mengerjai aku seperti ini ya!" gurau Aya.
"Hehehe, iya kak! Maaf Banget ya, aku udah ngerepotin kak Aya?" sahut Axelin merasa tidak enak.
Aya tersenyum." Iya tidak papa Axelin. Kebetulan semua sudah beres. Sehingga aku dapat membuat baju untuk mu dengan waktu sedikit luang!" ucap Aya.
Axelin tertegun dengan baju couple keluarga yang terpasang di patung. Terlihat sangat serasi. Ada baju ayah, ibu dan anak laki-laki dan perempuan. Axelin mendekatinya dan tersenyum kagum. Tetapi, sekilas senyumnya memudar ketika mengingat itu adalah baju untuk Rey yang berarti sangat jelas jika baju anak-anak itu untuk Hani dan Vino. Axelin meremas gamis yang begitu sangat cantik dan elegan. Sangat cocok dengan baju yang akan dikenakan oleh Rey dan anak-anak.
"Kak, ini baju yang akan dikenakan kak Aya, ya?" tanya Axelin.
Aya tersenyum.
"Iya Axelin!" jawab Aya singkat.
Axelin hanya bisa tersenyum dan mengangguk.
"Axelin, ini baju kamu sudah jadi di coba dulu," ucap Aya menyerahkan baju Axelin.
Baju ini memang sangat cantik dan sangat pas dengan tubuh Axelin. Tetapi bajunya sama sekali tidak serasi dengan baju Rey dimata Axelin. Dia membayangkan jika dirinya menggunakan baju yang akan dikenakan oleh Aya dan bersanding dengan Rey.
Rasa kesal Axelin kepada Aya mencuak ketika dirinya tidak sengaja melihat foto pernikahan Aya dan Rey ada di laci ruangan kerja Rey.
Axelin benar-benar tidak menduga jika Aya memanglah mantan istri dari Rey. Sosok ustadzah yang sangat Aya kagumi dan hormati, seketika hancur ketika ia mengetahui kenyataan jika Aya adalah mantan istri dari Rey.
Foto pernikahan sangat romantis. Dengan Rey mencium pipi Aya.
"Ah!" umpat Axelin tiba-tiba memekik kesal. Didalam ruangan salin.
__ADS_1
Tiba-tiba, Axelin dengan sengaja membuat sandiwara dengan mencantolkan baju lalu menariknya dengan kasar sehingga baju itu robek dan rusak cukup parah.
"Axelin, ada apa?" tanya Aya dari balik gorden.
"Aduh, kak! bajunya robek!" teriak Axelin terlihat sangat panik.
Aya yang mendengar itu pun ikut panik dan mencoba untuk masuk kedalam ruang salin.
"Astaghfirullah halazim! Axelin, kok bisa seperti ini?" tanya Aya terkejut. Kerusakan sangat parah. Posisi robek tidak sesuai dengan arah jahitan.
"Aku juga gak tau kak jika akan seperti ini. Tadinya aku cantol bajunya disini. Habis itu sepatu aku oleng dan aku mencoba untuk mencari pegangan. Aku malah menarik baju ini. Hiks...hiks..., Bagaimana ini kak? Bajunya sobek!" Axelin berakting dengan sedemikian rupa.
Ini sudah waktunya pulang. Hari sudah sore, Hani dan vino pasti sudah menunggu baju mereka. Tidak mungkin Aya akan membuatkan yang baru untuk Axelin.
"Em, Axelin. Di bawah ada banyak baju yang bagus. Kamu pakai yang ada saja dulu, ya?" ucap Aya mencoba mencari solusi.
"Tapi baju yang hampir serasi dengan baju milik kak Rey hanya ini bukan?" ucap Axelin yang mulai ingin menyudutkan Aya.
"Warna sama bukan berati serasi Axelin!" Aya mencoba untuk memberikan pengertian.
"Kak, ayolah. Aku sangat ingin terlihat serasi dengan Kak Rey!" ucap Axelin memohon.
Aya mengerutkan keningnya.
"Apakah kamu sangat menyukai, A'ak Rey?" tanya Aya.
Aya terdiam. Tak tahu harus berkata apa.
"Kak Aya kenapa diam saja? Apakah kak Aya cemburu?" tanya Axelin.
",Hah?" Aya terpengarah dengan ucapan Axelin.
"Cemburu?" Aya tak mengerti apa yang dikatakan Axelin.
"Oh iya aku lupa. Bukankah kalian saudara. Bagaimana mungkin saudara saling menyukai!?" sindir Axelin dengan halus.
Aya hanya tersenyum mendengar itu.
"Kak, bolehkah aku memakai yang ini?" tanya Axelin sambil menunjuk baju Aya.
Aya terbelalak dengan kemauan Axelin yang menginginkan baju yang akan dia kenakan.
"Axelin, mana mungkin! Ini adalah baju keluarga. Semua keluarga memakai baju dengan warna yang selaras. Hani akan marah jika aku tidak memakai baju yang sama dengannya," jelas Aya.
Axelin tertunduk. Nampak raut wajah yang sangat sedih.
__ADS_1
"Axelin, kamu kenapa? Maaf. Bukannya aku tidak mengerti perasaanmu. Tetapi aku melakukan ini demi putriku," jelas Aya lagi.
"Baiklah kak, tidak papa. Aku akan cari baju yang lain dibawah," ucap Axelin yang langsung meninggalkan Aya sendiri didalam ruangannya.
Aya benar-benar merasa tidak enak. Tetapi dia juga tidak mungkin untuk menyerahkan baju itu kepada Axelin.
Axelin dengan kesal mengambil baju dengan asal lalu dengan cepat pergi meninggalkan butik Aya. Karena rasa kesal yang amat sangat. Axelin sengaja mengempeskan semua ban mobil Aya. Setelah semua ban kempes, Axelin tersenyum puas dan meninggalkan butik itu dengan segera.
...
Di ruangannya. Dengan tergesa-gesa Aya mengemasi baju yang akan dikenakan oleh keluarga. Baju Tuan Maher dan mama Salamah sudah di antar, hanya tinggal bajunya Aya, Rey dan anak-anak yang masih di butik.
Aya melihat jam menunjukan setengah 6 sore.
Gara-gara drama dengan Axelin, membuat Aya kehilangan banyak waktu untuk nsegera sampai kerumah utama.
"Aduh, anak-anak pasti sudah menunggu!" gumam Aya yang tergesa-gesa menuruni anak tangga.
Semua karyawan sudah pulang lebih awal. Tinggal Aya sendiri.
Tak ingin buang-buang waktu, Aya langsung masuk kedalam mobil tanpa memperhatikan ban mobilnya yang kempes.
Alhasil, baru beberapa langkah mobil beranjak. Aya menghentikan mobilnya karena merasakan ban mobilnya yang kempes.
"Astaghfirullah halazim! Kok bisa kempes sih mobilnya? Mana empat-empatnya, lagi!" gerutu Aya yang terlihat sangat cemas.
Aya mengambil handphonenya untuk memesan ojek online. Tetapi Aya baru ingat jika dia sama sekali tidak menchager handphone yang sudah lobet.
Aya mengusap wajahnya dengan kasar. Akhirnya, Aya memutuskan untuk berlari kejalan utama untuk mencari taksi.
Waktu sudah akan magrib. Acara akan di mulai pada jam 7 malam. Bahkan dirinya kini belum ada persiapan.
"Aduh, apa tidak ada taksi yang mau lewat! Anak-anak past akan mengomeli aku?" pikir Aya dengan gusar.
Ketika rasa mulai ingin menangis karena putus asa. Tiba-tiba sorot mobil menyilaukan mata Aya.
Rey turun dari mobilnya dan menghampiri Aya yang sedang menutup mata karena silau.
"Aya, kenapa belum pulang dan malah berdiri disini?" tanya Rey.
Aya membuka matanya dan tersenyum sangat manis.
"A'ak! Syukurlah a'ak disini? Apakah a'ak mau menjemput aku?" tanya Aya merasa senang.
"Tidak!" jawab Rey.
__ADS_1
Aya mengerutkan keningnya.