IkhlasKu TetanggaKu MaduKu

IkhlasKu TetanggaKu MaduKu
Part Rey-Axelin


__ADS_3

5 tahun telah berlalu.


Sebuah pesawat dengan tenang berlabuh pada pijakannya.


Amerika, Washington DC.


Dua pria turun dengan gaya mereka. Kacamata hitam dengan style jas white dan sepatu hitam pudar mengkilap sangat menunjang kedudukan mereka.


Sebuah mobil mewah dengan siap menjemput tuannya.


"Daddy, mengapa kita datang seformal ini? Apakah Daddy akan meresmikan dan memberi tahu pada dunia jika aku adalah pewaris tunggal, daddy?" tanya vino. Anak tunggal dari Rey Maher yang dengan percaya dirinya bertanya sedemikian.


"Itu akan terjadi sayang. Tapi tidak sekarang," jawab Rey yang langsung menggendong anaknya.


"Oh, tidak Daddy!! Lepaskan aku!?" rengek Vino yang merasa malu.


"Why?"


"Plis, Dad! Jangan tanyakan mengapa!?" tukas vino kesal.


Setelah sampai depan mobil, Rey langsung menurunkan vino. Vino yang kesal langsung masuk kedalam mobil dan membuang mukanya.


"Hmm, sory?" ucap Rey sambil menarik kedua telinganya.


"Lain kali jangan begitu, Dad! Apa kata orang jika pewaris tunggal dari keluarga Maherndra adalah anak yang manja!" cetus Vino Maher dengan kesal.


"Siapa yang berani mengatakan itu!?" tanya Rey dengan serius.


Ssshttck ...." Vino berdecak dan membuang muka karena malas berdebat dengan Daddy nya.


"Daddy akan mencari dan mengurus orang yang berkata seperti itu kepada anak Daddy. Kamu tenang saja sayang," ucap Rey dengan sungguh-sungguh. Karena masa kelam ibunya. Rey tidak ingin anaknya terpengaruh dengan orang-orang yang mencoba mengingatkan tentang masa itu dan membuat Vino menjadi drop. Meski Rey sudah menghapus tentang artikel tentang Kiana dan yunhi, namun tentu dia tidak dapat menghapus semuanya.


"Ayolah, Dad! Mereka akan berkata jika Daddy terus-terusan begitu," kata vino menjelaskan.


"Emm, jadi untuk sekarang belum ada?" tanya Rey.


"Bukannya tidak ada. Tetapi kita tidak tahu!"


"Jika begitu, Daddy akan mencari tahu," ucap Rey dengan percaya diri akan menemukan orang yang mencoba berbisik-bisik dibelakangnya.


Malas menjawab. Vino memilih untuk diam dan terserah apa kata Daddy nya.


...


Kini, mobil mereka telah terpakir disebuah acara pernikahan.


Rey mendapatkan undangan jika Axelin akan menikah dengan pria pilihannya.


Rey sungguh sangat senang dengan keputusan Axelin yang mau melupakan perjodohan diantara mereka.


Saat lima tahun terkahir, Rey sangat menikmati hidupnya yang menyandang status Daddy untuk Vino. Rey bahkan tak terfikirkan untuk menikah lagi.


Ketika mereka masuk di gedung aula autdoor bernuansa modern, mata mereka terbelalak karena disana sangat sepi.

__ADS_1


"Daddy, apakah ini sebuah acara pernikahan?" tanya vino dengan nada tak percaya.


"Harusnya seperti itu," jawab Rey yang juga tak mengerti.


"Apakah teman Daddy tidak punya teman? Apakah hanya kita tamu undangannya?"


"Harusnya tidak seperti itu," jawab Rey yang masih tidak mengerti.


"Lalu, apakah kita salah alamat?" tanyanya lagi.


"Bisa jadi seperti itu," jawab Rey.


"Jika begitu, ayo kita pergi dan mencari alamat yang benar! Zaman secanggih ini masih nyasar, apalagi jika hidup di peradaban monyet," sindir Vino.


"Apa kamu sedang mengatai Daddy?" Mata Rey langsung menatap anaknya tak percaya.


"Apakah kesannya terdengar seperti itu?" tanya Vino yang tak merasa bersalah.


Rey langsung membuka handphonenya dan menunjukan alamat yang telah dikirim oleh Axelin.


"Nih, lihat jika kamu tidak percaya! Kita tidak salah alamat," tukas Rey dengan kesal.


Vino melihat dengan seksama.


"Hmm, benar ini alamatnya," ucapnya.


"Apa sekarang kamu percaya dengan Daddy?"


"Percaya untuk apa?"


"Apa tadi Vino mengatakan jika Daddy adalah monyet!? Sepertinya Daddy telah mengakuinya sendiri, ckck," ucap Vino terkekeh.


Rey terpaku. Tak percaya jika dirinya akan kalah debat dengan anak berusia 6 tahun.


Vino yang merasa jengah karena Daddy-nya hanya diam tak bertindak langsung menghampiri seorang pelayan.


"Permisi, nona. Apakah disini tidak ada acara pernikahan?" tanya Vino.


"Ah, anak kecil. Acara pernikahan gagal. Apalah kamu tidak tahu. Calon suaminya kecelakaan dan sekarang berada dirumah sakit. Sepertinya, desas-desus yang ada, calon prianya meninggalkan," jawab pelayan sambil berbisik di akhir.


Vino hanya berekspresi datar dan kembali ke Daddy nya yang sibuk menelvon seseorang namun sepertinya tidak di angkat.


"Dad!" tak didengar.


"Daad!" Masih tak didengar


"ORANGNYA SUDAH MATI ! PERNIKAHANNYA GAGAL!" teriak Vino dengan kesal. Rey yang mendengar anaknya berteriak dan mengatakan sesuatu langsung menoleh nya.


"Apa yang kamu katakan, nak?"


"Kata pelayan, calon prianya mati kecelakaan. Jadi, pernikahan Batal!" tegasnya menjelaskan.


Mendengar itu, Rey langsung menggendong Vino dan berlari kedalam mobil.

__ADS_1


"Ahk, Dad! Lepaaass!" teriak Vino.


....


Mobil telah sampai dirumah sakit.


"Sayang, kamu tunggu didalam ya. Daddy tidak akan lama!" ucap Rey dengan terburu-buru.


Vino hanya memutarkan kedua bola matanya dengan malas.


Rey berlari sangat cepat. Dia berlari sambil melepaskan kancing jasnya untuk memberinya rasa nyaman.


Sampai akhirnya, matanya tertuju pada wanita yang masih menggunakan baju pengantin menangis sesegukan disamping jasad calon suaminya.


Mencium aroma yang sangat khas, Axelin terdiam dan menoleh kearah pintu, dan benar saja seperti dugaannya. Rey berdiri menatap dirinya.


Axelin yang sangat tertekan langsung berlari menghampiri Rey dan memeluknya dengan sangat erat.


"Hiks..hiks... Kamu disini, kak? Kamu disini?" tanya Axelin sambil sesegukan.


Dengan ragu Rey membalas pelukan Axelin. Sungguh, Rey juga merasa sangat terpukul dengan berita dan kenyataan ini.


"Iya, aku disini. Tabahkan hatimu, Axelin. Aku tahu ini berat. Tapi aku yakin kamu pasti dapat bangkit," ucap Rey mencoba menghibur.


Axelin masih dalam luka yang sangat dalam. Dia hanya bisa menangis dan menangis.


Vino yang mengikuti daddy nya tak sengaja melihat adegan dramatis itu.


"Mengapa menangis? Bukankah mati satu masih ada seribu!? Jika yang mati ayah dan ibu wajar, mereka tidak ada duanya di dunia." batin vino yang tak mengerti apa arti cinta cintaan terhadap pasangan.


Vino berjalan mendekati Rey dan Axelin.


"Permisi, Nona. Apakah anda menangisi calon suami anda yang mati?" tanya Vino dengan tiba-tiba.


Rey terkejut melihat putranya sudah ada disampingnya.


"Ya tuhan anak ini!?"


Axelin tertegun dengan pertanyaan anak kecil yang ada dibawahnya.


Axelin menyeka air matanya dan menjawab," Benar, apakah salah aku menangisi pria yang aku sukai meninggal?" tanya Axelin yang tidak tahu jika itu adalah anaknya Rey karena setelah dia pergi, dia tidak pernah kembali. Kontekkan dengan Rey pun sangat jarang, hanya sesekali ketika Rey akan mengirimkan uang untuk biaya Axelin. Bukan karena tidak ada alasan, semua adalah permintaan dari Rey.


"Aunty, butuh berapa anda akan menangis jika ujung-ujungnya anda akan mencari yang baru. Lebih baik simpan tenaga anda dan carilah pria baru," jawabnya tanpa beban.


Rey terbelalak mendengar tutur anaknya.


"Darimana dia belajar menjadi kasar begitu!" batin Rey.


Tanpa Rey sadar, sebenarnya anaknya mengikuti dirinya. Hanya saja vino lebih bar-bar dan tak disaring dahulu. Jadi terkesan lebih kasar.


Axelin menelan susah saliva nya.


"Ap_apa yang kamu katakan anak kecil?" tanya Axelin terdengar menahan kesal. Jika bukan anak kecil, mungkin Axelin akan menjambak rambutnya.

__ADS_1


"Dad, sebaiknya kita lekas pergi. Aku sangat lapar," ucap Vino menggandeng tangan Rey membuat Axelin melotot tak percaya.


Melihat ekspresi Axelin, Rey hanya bisa unjuk gigi merasa sangat canggung dengan sikap Vino.


__ADS_2