
Rey menatap tajam kearah Vino. Sedangkan Vino mencoba untuk menjelaskan. Namun sepertinya kesabaran Rey telah habis.
"Kamu. Pulang sekarang!" tukas Rey dengan menekankan suaranya.
Vino mematung tidak percaya. "Apakah Daddy yakin? Daddy ingin aku pulang sendiri?"
"Kamu akan diantara oleh pengawal!"
"Tidak perlu. Saya bisa pulang sendiri!"
Melihat anak dan ayah mulai memasang mata panas. Axelin mencoba untuk melarai.
"Eeeeem-." Baru Axelin akan membuka suara. Ia sudah di sentak.
"Tidak perlu ikut campur!" ucap Rey dan Vino serempak.
Axelin langsung menutup mulutnya dan memutuskan untuk tidak akan ikut campur. Bahkan rasanya menatap kedua manusia didepannya tak sanggup.
Rey menghela nafas.
"Apa sebenarnya yang kamu inginkan?" tanya Rey mencoba meminta penjelasan.
"Saya hanya tidak ingin Daddy menikahi siapapun. Saya dapat melihat bagaimana aunty ini memeluk Daddy. Saya sangat tidak suka jika mommy saya digantikan. Karena mommy, selamanya tidak akan pernah tergantikan!" jelas Vino dengan menegaskan Suaranya.
"Selamanya! Mommy tidak akan tergantikan," lanjut vino dengan mata yang sudah memerah.
Mendengar itu, hati Axelin langsung merasa menciut. Belum memulai, ia sudah mendapatkan penolakan mentah-mentah. Tanda kutip "Untuk yang kedua kalinya"
Rey mengusap wajahnya dengan sangat kasar. Axelin dan Vino mengira jika Rey akan meluap dan memuntahkan amukannya.
"Hahahaa...." Nyatanya, Rey malah tertawa terbahak-bahak.
"Dad, are you oke?" tanya Vino memastikan.
Rey tersengal-sengal karena lelah bertawa. Dia menoleh anaknya yang sangat menggemaskan baginya.
Rey mencubit pipi anaknya dengan gemas.
"Uuuuhhh, anak Daddy benar-benar menggemaskan," ujar Rey sambil memainkan pipi Vino.
"Aouw!! Setop, Dad. Jangan lakukan itu!" tukas Vino dengan kesal.
Axelin menatap haru melihat keromantisan Anka dan ayahnya. Meski nampak kaku, namun mereka terlihat sangat hangat.
"So, kamu melakukan semua ini karena takut Daddy akan menggantikan calon aunty yang meninggal?" tanya Rey memastikan.
"Aku dapat melihatnya, Dad," jawab Vino sambil melirik Axelin langsung membuang muka.
Rey tahu, apa yang dikatakan anaknya mungkin ada benarnya. Namun, dengan cara dia yang bar-bar, itu dapat melukai hati seseorang.
"Vino, sayang. Daddy janji, Daddy tidak akan menikah tanpa restu darimu," jawab Rey sambil menjewer kupingnya sendiri.
Mendengar itu, senyum samar-samar Axelin pancarkan. "Ah, berarti aku harus mendapatkan hati vino dulu, yes. Anak kecil pasti akan sangat mudah dibujuk," batin Axelin dengan percaya diri.
"Itu tidak akan terjadi!" ucap Vino sambil menatap kearah Axelin. Sontak Axelin terkejut dibuatnya.
__ADS_1
Oh tuhan, apakah dia ahli pembaca pikiran orang!?" batin Axelin tak percaya.
"Ah, vino sayang. Apa maksud kamu? Aunty tidak bermaksud menjadi istri Daddy kamu. Aunty hanya sudah di anggap adik oleh Daddy kamu," jelas Axelin dengan selembut mungkin. Namun hatinya terasa diiris-iris dengan ucapannya sendiri.
"Benar sayang. Aunty Axelin ini sudah Daddy jadikan adik sendiri, makannya kamu dapat memanggil dia dengan sebutan, aunty. Kamu tenang saja sayang. Daddy akan selalu mendukung keputusan Vino," jelas Rey.
"Baguslah, ini kalian sendiri yang mengucapkan. Harusnya orang dewasa tahu jika berbohong itu dosa," ucap Vino.
Mendengar itu, Axelin menjadi sangat ragu. Ingin sekali dia mengakui jika dirinya sangat menyukai Rey. Namun, dia takut jika Rey akan ilfil dan meninggalkan dirinya selamanya.
"Oke, Axelin. Jika vino bermain kasar, setidaknya kamu harus bermain halus," batinnya dengan penuh rencana.
Singkat cerita, karena janji Rey kepada Vino, membuat Vino tenang dan mau mendengarkan Rey. Vino bahkan bersedia duduk dan menunggu Axelin masak.
Karena tadi sibuk mencari beberapa pria, Vino tak jadi untuk makan.
Axelin memasak dengan sangat teliti, dia tidak ingin ada kesalahan sedikitpun dimata Vino. Jika tidak, Axelin akan siap dengan semburan yang akan Vino lontarkan.
Rey sangat sibuk dengan ponselnya. Kemanapun dia pergi, pekerjaan selalu mengikutinya. Bukan karena alasan, asisten Rey masih sangat baru dan terlihat tidak terlalu profesional.
Rey terpaksa mengganti Sekertaris wanitanya karena Vino menolak sekretaris cantik dan seksi. Cintanya vino sama mommy nya membuat Rey tak berkutik. Tetapi memang itu yang diharapkan. Rey sengaja menanamkan kebaikan Kiana di hati Vino, supaya vino hanya tahu jika ibunya yang terbaik didunia. Jadi, meski ibunya tidak ada maka vino tidak akan sedih. Rey takut, jika dia mengatakan yang sebenarnya tentang prilaku ibunya, maka vino akan menjadi anak yang lebih dingin.
Tetapi siapa tahu. Sikap vino yang bar-bara karena dia sangat merindukan ibunya sehingga ia menjadi sangat sensitif.
****
Makan malam sudah siap, Vino menatap meja makan dengan datar. Tak sebahagia Axelin yang berhasil menyiapkan makan malam untuk mereka.
Terlihat jika Axelin sudah tak sedih lagi. Membuat Vino berdecak. "Sepertinya dia sudah lupa berakting lagi," batinnya.
Meras terpanggil, Rey mematikan ponselnya dan menatap kemeja makan dan anaknya dengan duduk manis diam menanti dirinya.
"Apa sudah selesai, Dad?" tanya Vino.
"Belum, nanti akan dilanjutkan lagi," jawab Rey tersenyum.
Vino merasa bersalah, semenjak ganti sekertaris Daddy menjadi sangat sibuk sekali.
"Dad, Daddy boleh kok kembali memperkerjakan sekretaris Daddy yang lama,"ucap vino tiba-tiba.
Mendengar itu, Rey tidak menjawab dan langsung beranjak untuk menelfon seseorang. Ternyata Rey menelvon sekretaris lamanya untuk segera kembali.
Rey tersenyum dan kembali ke duduk.
"Terima kasih ya nak. Beruntung dia belum berangkat ke Singapura. Dia katanya akan segera pindah kesana."
"Mengapa pindah?" tanya Vino.
"Dia ingin mencari pekerjaan disana. Disana gajinya lumayan. Di tempat kita, hanya Daddy yang sanggup membayar mahal. Jadi ketika Daddy menurunkan jabatanya, dia menolak dan memutuskan untuk pergi ke Singapura untuk mendaftarkan diri."
Axelin mendengar obrolan anak dan ayahnya. Ketika sedang menata piring, rasanya begitu sangat kesal ketika Vino mengizinkan kembali Sekertaris cantik itu masuk lagi.
"Pilihan pertamamu sudah tepat Vino. Namun pilihan keduamu sangat-sangat salah!" umpat Axelin.
Di meja makan, akhirnya hidangan sudah siap. Axelin hanya membuat 3 porsi spaghetti untuk mereka.
__ADS_1
"Apakah hanya ini yang aunty masak?" tanya Vino.
"Emm, iya vino. Meski begitu, aku sangat yakin jika kamu akan kenyang. Karena aku membuatnya cukup sedikit banyak," jawab Axelin dengan ceria.
"Apakah ini layak dimakan,?"
"Vino, apa maksud kamu, nak!?" tegur Rey.
"Tidak ada maksud apa-apa, Dad. Aku hanya bertanya," jawab Vino tanpa dosa.
"Jika bertanya tidak boleh begitu lain kali. Aunty Axelin susah payah memasak untuk kita. Hargai dia!"
"Baik, Dad."
"Ah, kak Rey. Aku tidak papa kok. Aku juga memang sedang belajar memasak. Jadi wajar jika vino bertanya begitu. Hehehe," ucap Axelin mencoba untuk merendah.
"Apa lima tahun disini kamu tidak pernah memasak?" tanya Rey.
"Ah,?" Axelin tercengang.
"Ah, hahaha.. tidak kak, bukan seperti itu. Setiap hari aku masak sendiri dan setiap hari juga belajar untuk mengembangkan kemampuan memasak aku," tutur Axelin merasa canggung.
Vino mencoba mencicipi spaghetti yang Axelin buat. Kepalanya mengangguk seolah-olah telah menilai sesuatu.
"Sausnya lumayan, tetapi mienya terlalu matang," ucap Vino yang hanya menilai sedikit dan tetap memakan masakan itu. Entah karena lapar atau terpaksalah.
Namun, hati Axelin terasa sangat sakit mendengarnya. Dia sudah bersusah payah memasak dengan hati-hati supaya tidak dapat komentar, namun sepertinya itu tidak akan terjadi. Karena mulut Vino pasti tidak akan diam saja untuk membuatnya menjadi damai.
Rey hanya bisa menghela nafas berat sambil menatap Axelin dan memejamkan matanya seolah-olah berkata"maaf"
Axelin pun hanya tersenyum menjawab kedipan mata Rey.
...
Setelah makan. Rey dan Vino pamit untuk kembali ke hotel mereka.
"Aunty, terima kasih," ucap Vino yang langsung meluluhlalantahkan hati Axelin. Ucapan manis dari mulut Vino akhirnya Axelin dapatkan.
"Ah, sama-sama Vino. Terima banyak karena kalian telah hadir disini dan menghibur aku," ucap Axelin sambil tersenyum haru.
"Apakah aunty tak ingin ikut pulang bersama kami?" tanya Vino langsung mendapatkan anggukan dari Axelin.
"Mau mau mau! Aunty sangat mau. Sebenarnya, aunty juga sangat rindu kampung halaman," ucap Axelin dengan nada sendunya.
"Jika begitu, silahkan beli tiketnya. Besok kita akan berangkat," ucap Vino yang langsung menggandeng tangannya Daddy pergi.
mendengar itu, Axelin sangat syok namun ia tutupi dengan senyum manisnya.
setelah Rey dan Vino pergi.
Axelin terpaku terdiam. Dia mengumpat kepada bocah ingusan yang sangat menyebalkan.
"Aaaaaaahh, aku tidak punya uang untuk membeli tiket! Aku pikir, dia akan-, ah sangat menyebalkan," umpat Axelin yang langsung menutup dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Axelin membayangkan betapa hangatnya tubuh Rey yang sangat wangi dan cool. Sampai tiba-tiba bayangan jahat datang kembali.
__ADS_1
"Aaahk, anak itu! Bagaimana dia bisa tumbuh menjadi anak yang sangat menyebalkan!" umpat Axelin tak dapat ditahan..