
Malam itupun Axelin tidak dapat tidur. Dia terus memegangi ponselnya kesal. Kedua orang tuanya sudah hampir dua bulan tak mau memberi kabar dan juga dikabari. Axelin terus berputar-putar mengelilingi kursi. Berfikir, bagaimana caranya mendapatkan uang untuk membeli tiket.
"Aha,!" Axelin menjentikkan jari seraya memiliki ide. Dia mengeluarkan semua barang-barangnya. Baju, sepatu, laptop dan barang-barang yang dia punya.
Setelah semua barang berserakan diatas kasur. Axelin mendengus kesal.
"Huuft, semua ini adalah barang palsu. Lihatlah sepatu ini, setiap hari aku pakai! Siapa yang sudi mau membeli semua barang-barang ini? Meski aku lelang, sepertinya tidak akan cukup untuk membeli tiket, Aaahh!" Axelin merasa frustasi.
Semua ini karena ulah sang ibu tiri. Selama 2 tahun bekerja, semua uangnya di telah dirampas oleh ibu tirinya. Setelah mendapatkan uang, seolah ditelan bumi, kedua orang tua Axelin tak pernah menunjukan kehidupannya, membuat Axelin benar-benar putus asa memiliki orang tua yang sangat tamak. Bahkan, tidak perduli jika anaknya menangis darah ataupun mati.
Axelin tertunduk dan meratapi nasibnya.
"Sepertinya, memang aku belum di izinkan pulang," kata Axelin dengan segala keputusasaannya.
Tak terasa hari sudah pagi. Axelin menguap mendengar nada telponnya terus berdering.
5 panggilan dari Rey.
"Ya tuhan, aku lupa tidak mengabari kak Rey jika aku tidak jadi ikut pulang," umpat Axelin merutuki dirinya sendiri.
Axelin dengan gesit menelfon Rey kembali.
"Hallo, kak?"
"Dari mana saja?" tanya Rey.
"Emm, maaf kak. Aku, baru bangun tidur," jawab Axelin dengan rasa malu tingkat dewa.
"Ya tuhan! Apa kamu tidak ingat jika kita akan pulang!?"
"Maaf, kak. Sepertinya aku tidak jadi pulang," jawab Axelin dengan nada sendu.
"Apa maksud kamu! Aku sudah membeli tiketnya. Cepat bergegas, kita akan menunggu di bandara," tukas Rey merasa sedikit kesal.
Apa. Kak Rey telah membelikan aku tiket!"
"Ah, iya kak. Aku akan segara datang. Tunggu aku ya!" teriak Axelin antusias.
Untuk menyingkat waktu. Axelin bahkan tidak mandi dan hanya ganti baju. Bahkan, Axelin tak membawa barang banyak. Hanya tas kecil yang ia selempang kan dipundaknya.
Beruntung ini adalah hari libur sehingga jalanan sedikit sepi meski masih banyak kendaraan yang berlalu-lalang.
__ADS_1
Di bandara. Axelin terus mencoba menelpon Rey untuk menanyakan dimana posisinya.
Sampai akhirnya sebuah tangan melambai kepadanya. Itu adalah Rey.
Axelin berlari sangat kuat untuk menghampiri Rey dan Vino yang terlihat sangat keren. Bahkan, Axelin sangat terpanah oleh ketampanan anak berusia 6 tahun.
"Apa anda tidak pernah melihat anak tampan!?" tanya Vino membuyarkan lamunan Axelin.
"Ah, hehehe. Iya, kamu anak yang sangat tampan dan menggemaskan!" ucap Axelin sambil mencubit pipi Vino.
"Auw! Jangan sentuh aku!" teriak Vino yang tak suka jika ada yang menyentuhnya.
"Ups, maaf. Habis, kamu sangat menggemaskan," kata Axelin sambil mengedipkan satu mata.
Ck...!" Rey berdecak menahan tawa.
Vino yang kesal karena dirinya selalu di anggap anak kecil memutuskan untuk pergi berjalan duluan.
"Em, Axelin?" Rey ingin mencoba untuk menjelaskan.
"Iya kak, tidak papa. Kini, aku dapat memahami karakter dan sikapnya. It's ok kak, aku gak tidak papa," jawab Axelin dengan bersikap sedewasa mungkin supaya Rey jatuh dalam pandangannya. Namun, sepertinya satu umpan tidak cukup. Axelin akan berusaha untuk selalu memasang umpan yang tepat supaya segera mendapatkan hati Rey.
Namun, Rey hanya mengangguk dan berjalan duluan tanpa menggandeng atau basa-basi mengajak Axelin.
Bahkan, kini Rey terlihat sangat berbeda dengan Qodir yang Axelin kenal dahulu.
Namun, sepertinya Axelin tidak akan menyerah. Mau berubah menjadi sifat iblis ataupun hewan sekalipun. Rey adalah pria yang telah membuat Axelin menjadi pribadi yang lebih baik dan yang lebih pastinya, telah membuat dirinya jatuh dalam lubang asmara.
Didalam pesawat. Axelin duduk dibelakang Rey dan Vino. Axelin beberapa kali mencoba untuk mengintip Rey dan Vino.
Terlihat Rey dan Vino langsung tertidur. Vino menyimpan kepalanya di pundak Sang Daddy. Axelin tertegun merasa sangat syahdu menatap dua pria dingin kini saling berpelukan manja.
Axelin diam-diam berdiri dan berniat untuk memotret di dua macan yang sedang tertidur.
Cekrek
Cekrek
Dua foto berhasil Axelin dapatkan. Dia tersenyum puas dan berniat untuk kembali duduk. Namun, ketika akan beranjak, sebuah suara mampu membuat Axelin jantungan.
"Hapus atau anda tidak akan hidup dengan tenang," ucap Vino dengan masih mata yang tertutup.
__ADS_1
"Ya tuhan! Apakah anak ini sedang mengigau?" batin Axelin dengan tangan yang bergetar hebat.
"Mimpi atau tidak. Apa yang aku katakan akan tetap terjadi," ucap Vino seolah menjawab pikiran Axelin dengan masih mata yang terpejam.
Axelin langsung bergegas duduk ditempat. Dia memajukan kepalanya untuk mendekat kekursi bagian Vino dan berbisik.
"Aku sudah menghapusnya. Sumpah!"bisik Axelin.
Untuk mencari aman. Axelin langsung menghapus foto itu. Tapi, karena tidak ingin kehilangan kenangan. Axelin terlebih dahulu mengirimkannya ke WhatsApp temannya.
Setelah itu, dia langsung menghapus semuanya.
"Sempurna !" Axelin tersenyum puas.
****
Setelah melalui perjalanan panjang. Akhirnya mereka kini dapat menginjakkan kaki di negara kelahiran.
"Axelin, mau ikut kami dulu apa langsung mau pulang kerumahmu?" tanya Rey.
"Bukankah lebih bagus dia harus pulang dulu!" sahut Vino membuat Axelin nyengir.
"Hehe, iya kak. Saya akan pulang dulu. Kapan-kapan insya Allah saya akan main," ucap Axelin.
"Emm, begitu. Mau di antar atau pakai taksi?" tanya Rey kembali.
"Daddy, aku berjanji dengan Hani akan segera main ke apartemennya. Aku tidak ingin dia terlalu lama menunggu," sahut Vino.
"Ah, biar saya pakai taksi saja, kak." Axelin benar-benar pasrah.
Rey mengeluarkan dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang merah.
"Em, Axelin. Maaf aku tidak dapat mengantar kamu. Pakai ini untuk membayar taksi," ucap Rey.
"Ah, tidak usah kak. Aku ada kok," ucap Axelin merasa tidak enak.
"Aunty, terimalah supaya drama ini segara berakhir. Kami harus segera pergi," cetus Vino yang langsung mengambil uang itu dari tangan Daddy nya dan memberinya ketangan Axelin.
Axelin sangat terkejut namun dia tidak dapat menolak. Belum sempat berbicara terima kasih. Vino langsung menyeret Daddy nya untuk pergi.
"Hmmm..,!" Axelin mendengus.
__ADS_1
"Anak itu baik. Hanya saja caranya," lanjut Axelin tersenyum menggelengkan kepalanya.